.

.

Tuesday, 7 June 2016

Bupati Luwu Wacanakan Mengadopsi Agrowisata Ala Kota Batu - Malang

Keterangan Gambar : Bupati Luwu H. Andi Mudzakkar saat bercengkrama dengan Walikota Batu H. Eddy Rumpoko dan Wakil Walikota Batu H. Punjul Santoso, ketika berkunjung kedaerah tersebut pada awal Mei bulan lalu.


BATU MALANG, Tabloid SAR- Sumber Daya Alam (SDA) yang potensial dan cukup luas tentunya merupakan suatu anugerah yang besar dari Tuhan semesta alam. Tentu pula dapat  menjadi sumber ekonomi yang besar  jika dimanfaatkan atau dikelola oleh masyarakat secara tepat sesuai dengan kondisi daerah tersebut, apa lagi bila mendapat dukungan pemerintanya secara maksimal.
Hal tersebut membuat Bupati Luwu, H Andi Mudzakkar “tidak tenang” memikirkan, bagaimana pengelolaan SDA yang dimiliki oleh daerahnya sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakatnya yang mayoritas berprofesi sebagai petani, pekebun dan nelayan.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Andi Mudzakkar dalam program pengembangan ekonomi masyarakat pesisir, masyarakat petani dan masyarakat yang bergelut pada bidang perkebunan di daerah yang dipimpinnya.
Bahkan, Andi Mudzakkar dalam perjalanan kepemimpinannya selama dua periode sebagai Bupati Luwu telah membagikan ribuan handtraktor kepada petani, hal ini pula yang membuat dirinya dijuluki sebagai “Bupati Handtraktor”.
Pada sektor perikanan setiap tahunnya, Andi Cakka sapaan putera pejuang kharismatik Tana Luwu, Kahar Mudzakkar ini membagikan ribuan bibit ikan dan rumput laut kepada nelayan di Luwu.
Pada sisah masa jabatannya yang akan berakhir pada tahun 2019 mendatang, Andi Mudzakkar berencana akan mengembangkan sektor perkebunan di beberapa kawasan khususnya pada kawasan pegunungan Kecamatan Latimojong.
Rencana pengembangan program wisata agro di daerah pegunungan Latimojong ini pula telah mendapat persetujuan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel). Bahkan baru-baru ini Pemkab Luwu yang dipimpin langsung Andi Mudzakkar melakukan konsultasi di sejumlah kementerian, terkait pengembangan kawasan wisata agro Latimojong.
Pada awal bulan Mei lalu Andi Mudzakkar bersama sejumlah SKPD tekhnis, seperti Bappaeda, Tarkim, Binamarga, Hutbun dan BLH melakukan kunjungan ke Kota Batu - Malang Provinsi Jawa Timur.
Saat ditemuai wartawan SAR beberapa waktu lalu sepulangnya dari Kota Batu, Andi Cakka, menyampaikan tujuan kunjungan tersebut, guna melihat dan mempelajari pola pengelolaan kawasan di Kota Batu yang dulunya adalah hutan disulap menjadi areal perkebunan modern dan ramah lingkungan yang notabene tidak menghilangkan fungsi hutan itu sendiri.
“Pengelolaan hutan dan pengembangan wisata agro atau wisata kebun di Kota Batu sangat cocok diterapkan di kawasan pegunungan Latimojong. Di Batu pengelolaan perkebunan sangat modern dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan alam itu sehingga tidak merusak fungsi hutan tersebut, serapan air di daerah ini cukup baik,” kata Andi Cakka.
“Saya sengaja berguru soal pengelolaan tanaman agro wisata di Kota Batu dan sekaligus didampingi pejabat Hutbun Luwu dan beberapa kepala SKPD terkait. Keberadaan kami di Kota Batu, tentu dengan tujuan untuk melihat dari dekat seperti apa dan bagaimana pengelolaan sistem perkebunan di daerah itu,” ujarnya.
Saat bertolak ke Kota Batu, Andi Mudzakkar didampingi Ketua DPRD Luwu Andi Abdul Muharrir, Kepala Bappeda Muhammad Rudi, Kepala Dinas Cipta Karya Andi Fatahillah dan Sekertarisnya Sofyan Thamrin, Kepala Dinas Hutbun, Andi Agussalim.
Rombongan menuju area perkebunan di Kota Batu tepatnya pada wilayah perkebunan Kecamatan Bumiaji, dengan memanfaatkan kendaraan angkutan umum, guna menyusuri ribuan hektar area perkebunan yang berisi apel, jeruk Kepprof dan jambu kristal milik warga sekitar.
Kota Batu letaknya paling puncak di daerah Malang Raya, kota ini merupakan kota kecil nan indah  mempesona, yang pada era Belanda dijuluki De Klein Switzerland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa.
Sekedar untuk diketahui Kota Batu yang secara resmi terbentuk menjadi daerah otonomi baru pada tanggal 21 Juni 2001 silam. Meski demikian daerah tersebut tergolong makmur dan masyarakatnya sejatra. Berdasarkan penelusuran sejarah, asal kata ‘Batu’ merupakan tanah tua yang telah dihuni oleh manusia sejak zaman prasejarah
Asal muasal penamaan Kota Batu ini sangat identik dengan Batu, karena didaerah tersebut terdapat empat situs sejarah penting yakni prasasti Gunung Gaprang, prasasti Leran Kulon, prasasti Gulung-Gulung (era Mpu Sindok - 929) dan kitab terkenal Negara Kertagama (Pupuh - 785) menyebut istilah BATWAN.
Batwan diterjemahkan sebagai batu-an atau bebatuan, yang dalam perkembangan bahasa Indonesia berubah menjadi batu.
Secara administratif Kota Batu merupakan daerah yang paling muda dibanding kabupaten dan kota Malang, namun secara administratif Kota Batu terdiri dari 3 kecamatan yaitu, Kecamatan Batu, Bumiaji dan Junrejo, yang terdiri dari 19 desa dan 5 kelurahan.
Kendati hanya memiliki luas wilayah sekitar 202, 800 KM persegi, namun daerah ini ramai dikunjungi wisatawan. Meski demikian dalam perjalanan ini Kecamatan Bumiaji yang menjadi tujuan kunjungan Bupati Luwu Andi Mudzakkar. Daerah tersebut secara geografis memiliki ketinggian antara 700 - 1300 meter di atas permukaan laut (MDPL) dengan suhu sekitar 31 derajat celcius.
Kecamatan Bumiaji oleh Pemerintah Kota Batu dijadikan sasaran penerapan program Agrowisata berbasis ramah lingkungan. Hal ini pula yang membuat Bupati Luwu Andi Mudzakkar tertarik melihat dari dekat aktivitas agrowisata di desa Bumiaji.
Di desa inilah sebuah ide gagasan mewujudkan pembangunan secara menyeluruh melalui pemberdayaan masyarakat yang berbasis pertanian dan bersinergi dengan dunia pariwisata, dalam koridor kesederhanaan budaya masyarakat pedesaan yang sangat harmoni.
“Kita bisa mengembangkan perkebunan dengan pola agrowisata di Kabupaten Luwu seperti yang telah dipraktekkan oleh Pemerintah Kota Batu di Kecamatan Bumiaji karena secara Topografi Kecamatan Latimojong dan Suli Barat, memiliki ciri khas yang hampir sama dengan Kecamatan Bumiaji. Olehnya itu bukan tidak mungkin konsep-konsep perkebunan semacam ini bisa kita adopsi,”Kata Cakka.  (CH/WM)






No comments:

Post a Comment

.

.