.

.

Rubrik

.

Senin, 27 Juni 2016

Menggugat Sejarah “Kartini” Sebagai Simbol Pejuang Hak-hak Emansipasi Wanita di Indonesia?

Rahmat K Foxchy
Benarkah Kartini adalah Pejuang Hak-hak Emansipasi Wanita di Indonesia?
Penulis : Rahmat K “Ories” Foxchy (Direktur Eksekutif LSM Pembela Arus Bawah)
Kenapa harus menggugat perjuangan “Raden Ajeng Kartini” atau “Kartini” sebagaimana yang diperingati setiap tahun pada tanggal 24 April tersebut?
Tentunya ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat bersifat kontroversial, dan dipastikan pula akan mendapat kecaman atau tudingan dari berbagai kalangan bahwa penulis adalah sama sekali tidak memiliki jiwa patriotisme dan semangat nasionalisme.
Menurut sejarahnya di masa lampau, bahwa “Kartini” adalah sosok perempuan Indonesia, lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Kemudian disebut-sebut sebagai simbol “pejuang bagi hak-hak emansipasi wanita” di era penjajahan Belanda.
Namun metode perjuangannya, justru tidak sepatriotik dengan para pahlawan perempuan lainnya dalam sejarah nasional. Pasalnya, “Kartini” diketahui adalah tidak pernah mengangkat senjata untuk memimpin sebuah pergerakan perlawanan terhadap pasukan militer kaum penjajah Belanda.
Setelah membuka file tentang sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia, maka perjuangan “Kartini” adalah rupanya belum ada apa-apanya, apabila dibandingkan dengan semangat partriotisme yang ditunjukkan oleh seorang wanita Aceh bernama Laksamana Keumalahayati.
Bahkan Keumalahayati yang lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV, justru disebut-sebut sebagai wanita pertama di dunia yang pernah menjadi laksamana. Adapun sejarah perjuangannya, silahkan minta bantuan Bang Google, hee...hee...hee...
Jika berbicara mengenai semangat perjuangan terhadap hak-hak emansipasi wanita (persamaan gender) di Indonesia, maka mestinya Keumalahayati lah yang terdepan. Karena baru dialah satu-satunya wanita pertama di dunia yang pernah menyandang pangkat jenderal berbintang empat, dalam dinas kemititeran sebagai laksamana.
Masih ada perempuan pejuang asal Aceh lainnya yang tak kalah memiliki semangat patriotismenya, dengan begitu heroiknya mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan tehadap kekuatan militer penjajahan Belanda, yaitu Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia.
Selain itu, bahwa ada juga pejuang perempuan asal Ambon bernama Martha Christina Tiahahu, termasuk Opu Daeng Risaju dari Luwu. Adapun semangat heroisme para perempuan ini, sehingga turun langsung di medan perang untuk mengangkat senjata, demi perjuangan dan semangat perlawanan terhadap kekuatan militer penjajah Belanda, menurut zamannya masing-masing.
Ada pula perempuan Sunda bernama Raden Dewi Sartika dan perempuan Betawi bernama Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Kendati dalam perjuagannya adalah bukan melalui komprontasi dengan cara kontak senjata di medan perang yang sifatnya mematikan. Namun justru terang-terangan melakukan pergerakan perlawanan terhadap kaum penjajah Belanda.
Sedangkan “Kartini”, menurut sejarahnya adalah hanya sebatas berkeluh kesah, mengenai nasib “wanita pribumi”, untuk dituangkan dalam bentuk surat-menyurat, sebagaimana yang senantiasa dia kirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Negeri Belanda sana.
Bukannya dikirim langsung kepada Ratu Belanda di Amsterdam, untuk dijadikan sebagi simbol perjuangan demi melawan tirani kekuasaan penjajahan pemerintahan sang ratu, pada salah satu negara di kawasan Benua Eropa ini.
Hal inilah, sehingga ada yang sudah mulai mempertentangkan kapasitas perjuangan “Kartini” pada zamannya. Kok, berjuang dengan cara berkorespondensi dengan warga Belanda, di mana negaranya adalah nota bene sebagai penjajah tersebut.
Boleh jadi, bahwa masih banyak perempuan-perempuan pribumi tanpa nama lainnya yang justru jauh menunjukkan semangat heroismenya terhadap perjuangan persamaan gender, demi melepaskan negeri ini (Indonesia) dari cengkraman penjajahan, ketimbang “Kartini” pada zamannya.
Terlebih munculnya “Kartini” dalam perspektif sejarah nasional, nampaknya adalah dilatarbelakangi atas adanya buku yang dicetak di Negeri Belanda pada zamanya, berjudul “Door Duistermis tox Licht”.
Kemudian judul buku ini dikenal dengan istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”, disusun menurut dari kumpulan surat-surat “Kartini” yang senantiasa ia kirimkan kepada teman-temannya di negeri kincir angin tersebut.
Pertanyaannya, bahwa apa benar seorang “Kartini” merupakan suatu fakta sejarah, jika dirinya adalah berkorespondensi dengan begitu banyak temannya di negeri asal penjajah. Mungkinkah seorang “Kartini” mampu menulis surat atau berkirim surat sebanyak itu. Lalu apa pula istimewanya, sehingga ada penulis di Negeri Belanda menerbitkannya menjadi sebuah judul buku.
Sedangkan pada zamannya adalah sama sekali tidak didukung oleh sistim jasa pelayanan pos dan giro, terlebih nun jauh di Benua Eropa sana. Bahkan di era modern sekarang ini, rasanya masih agak mustahil ada orang yang menulis surat-surat pribadi, hingga mencapai satu judul buku, kecuali adalah sifatnya suatu instansi.
Bahwa seperti apa caranya seorang penulis buku dalam mengumpulkan surat-surat “Kartini”. Lalu bagaimana pula ia bisa mengenal nama-nama dan alamat teman-teman “Kartini” yang tersebar di Negeri Belanda sana. Kemudian penulis ini, menerbitkannya buku berjudul “Door Duistermis tox Licht” atau “Habis Gelap TerbitlahTerang” tersebut.
Hal-hal inilah semua, apabila menggunakan logika sehingga patut untuk mempertanyakan tentang eksistensi sejarah “Kartini”, sebagai seorang perempuan Indonesia yang paling terdepan dalam memperjuangkan hak-hak emansipasi wanita.
Boleh jadi pemerintah Belanda pada zamannya, justru menjadikan “Kartini” sebagi simbol kekuatan politik diplomasi untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa sistem penjajahannya di Indonesia adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat umat manusia.
Pasalnya, berbagai bangsa di dunia ini, khususnya dari Benua Eropa adalah sangat berlomba untuk bermaksud menguasai Sumber Daya Alam (SDA) yang begitu melimpah di Bumi Nusantara ini.
Maka dengan judul buku dalam pengertian bahasa Indonsia disebut “Habis Gelap Terbitlah Terang” itulah, kemungkinnnya untuk dijadikan Kerajaan Belanda dalam mempengaruhi peta kekuatan politik dunia, tak lain untuk melangengkan praktek-praktek penjajahannya di Indonasia pada zamannya .
Apalagi “Kartini” adalah sebuah nama yang sangat melekat dengan identias wanita pribumi kelahiran Jawa, atau perempuan Indonesia pada umumnya. Bahwa jangankan kaum hawanya, terlebih namanya bagi kalangan kaum adamnya, telah memasuki sebuah era baru dalam memperjuangkan persamaan hak.
Pada gilirannya, bangsa-bangsa Eropa yang dikenal dalam sejarah adalah memiliki sifat-sifat imperialistik, menjadi berpikir untuk tidak menggangu eksistensi penjajahan Belanda di Indonesia.
Boleh jadi dokrin seperti inilah, maka dijadikan sebagai taktik politik oleh Kerajaan Belanda, supaya tetap mendapat dukungan politik dunia, demi mengamankan wilayah jajahannya di Indonesia.
Betulkah Wanita-Wanita Hebat Indonesia Terinspirasi dengan “Kartini”?
Bahwa tidak dapat dipungkiri, jika pada era kekinian adalah sudah sangat banyak wanita Indonesia yang hebat, dengan menduduki posisi penting dan bersifat strategis dalam segala ranah keorganisasian dan profesi.
Hal tersebut, tidak hanya tampil pada tingkat lokalan tapi sudah tidak sedikit pula yang menduduki posisi-posisi penting dan bersifat strategis pada tingkat nasional, bahkan juga sudah hadir pada skala tingkat dunia sekalipun. Namun apakah benar, eksistensi wanita-wanita hebat Indonesia tersebut adalah awalnya terinspirasi oleh ketokohan “Kartini?”
Jikalau itu yang dijadikan sebagai landasan berpikir, maka kenapa setalah wafatnya “Kartini”, justru tidak bermunculan sejumlah perempuan generasi baru untuk tampil memperjuangkan hak-hak emansipasi wanita. Menandakan bahwa “Kartini” adalah sama sekali tidak memberikan inspirasi apa-apa bagi kaum wanita Indonesia sesudahnya.
Itu mungkin akibat, lantaran prestasi dari perjuangan “Kartini” sendiri, tidak sehebat perempuan-perempuan Indonesia yang pernah tampil heroik, ketika melakukan perlawanan terhadap pasukan militer penjajahan Belanda. Karena “Kartini” adalah hanyalah seorang wanita pingitan dalam tradisi kehidupan priyai Jawa yang lembut.
Apalagi nama “Kartini” adalah begitu indah didengar di telinga, sehingga sangat mudah diingat. Akhirnya penguasa nasional dari rejim ke rejim, menilai bahwa dapat dijadikan sebagai simbol perekat wanita Indonesia, sehingga tanggal kelahirannya diperingati setiap tahun.
Sedangkan, semakin munculnya wanita-wanita hebat Indonesia, karena itu akibat adanya perubahan politik dalam menjawab setiap tuntutan zaman. Terlebih pada era reformasi sekarang ini, sehingga menempatkan cukup banyak wanita yang memainkan peranya sebagai politisi, baik yang duduk menjadi legislator maupun yang tampil menjadi kepala daerah.
Hal tersebut, karena memang dari awalnya didorong oleh keluarganya sendiri dan adanya ruang politik yang dibuka oleh pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dalam memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warga negara. Pada gilirannya, mengangkat banyak wanita-wanita hebat di negeri ini yang tampil di ruang publik.
Kendati “Kartini” dicurigai oleh kalangan tertentu sebagai alat politik etis penjajah Belanda. Namun jelasnya bahwa nama ini adalah sangat mengidentikkan nama perempuan-perempuan asli Indonsia . Untuk itu, harapan ke depan lebih banyak lagi lahir wanita-wanita Indonesia hebat. (*****)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.