.

.

Rubrik

.

Sabtu, 25 Juni 2016

Saran Buat Pemerintahan Indah dan Thahar di Lutra

MASAMBA, Tabloid SAR – Semenjak dilantik pada 17 Februari 2016 untuk menjadi sepasang pemimpin di Kabupaten Luwu Utara (Kab Lutra). Keduanya nampak kompak dan benar-benar tancap gas dalam menyelenggarakan roda pemerintahan di daerah ini.

Menurut pantauan Tim Liputan Khusus Tabloid SAR, bahwa dari awal tampilnya Bupati Hj Indah Putri Indiani dan Wakil Bupati HM Thahar Rum. Nampaknya sudah mulai terasa terjadi perubahan yang cukup mendasar di lingkup birokrasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutra, khususnya dalam hal sistem pelayanan publik.

Pada sejumlah kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) telah mulai terjadi perubahan terhadap sistem pelayanan publik yang kian dinamis, sebab pegawai (Aparat Sipil Negera/ASN, red) sudah tidak lagi memilih untuk membolos masuk kerja.

Kendati nada-nada ketus masih kadang dilontarkan oleh sebagian kecil ASN, dalam mewarnai gaya kearogansian birokrasi tehadap sistem pelayanan publik. Mungkin itu terjadi, akibat faktor masih sulitnya mengadapasi menuver kebijakan yang bersifat progresif di bawah Pemerintahan Indah dan Thahar ini.

Pasalnya, kedua pemegang tampuk kepemimpinan di Kab Lutra ini, telah berkomitmen untuk membawa agin perubahan (wind of change) bagi kemajuan di daerah tersebut, demi memacu terwujudnya kesejahteraan rakyat. Jadi sasaran awalnya, maka tentunya adalah harus mendorong terjadinya revolusi mental ASN, sehingga diperlukan untuk menggerakkan agenda reformasi birokrasi secara menyeluruh.

Adapun agenda reformasi birokrasi dimaksud, bahwa bagaimana semestinya mengubah kebiasaan buruk dalam sistem birokrasi, supaya dapat mempunyai mindset (pola pikir) yang juga bersifat progresif dan bervisi jauh ke depan.

Khususnya lagi, apabila untuk menjadi agent of change terhadap sisten penyelenggaan kebijakan publik, menurut visi, misi dan program yang sudah menjadi agenda pemerintahan Indah dan Thahar di Kab Lutra untuk lima tahun ke depan.

Olehnya itu, melalui Hari Jadi Kab Lutra ke 17 yang jatuh pada tanggal 27 April 2016 tersebut, tentu merupakan sebuah momentum yang sangat tepat bagi pemerintahan Indah dan Thahar, dalam mengevaluasi kinerja birokrasinya mulai dari level eselon II hingga pada tingkatan paling bawah.

Maksudnya, untuk mengetahui bahwa sudah sejauh mana para jajaran birokrat di daerah ini dalam mengimplementasikan revolusi mental, sekaligus memaknai sebuah penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean government).

Hal tersebut, disampaikan oleh sejumlah tokoh akademisi di Luwu Raya ini, tak terkecuali dari kalangan aktivis dan tokoh budaya Tana Luwu. Terlebih Bupati Indah adalah perempuan pertama yang tampil di atas tampuk pemerintahan di Lutra, bahkan di Sulawesi Selatan ini.

  
Dr. Bachtiar
Adapun kalangan akademisi tersebut salah satunya adalah Dr. Bachtiar, menuturkan bahwa melalui Hari Jadi Kab Lutra ke-17 bersama Pemerintahan Indah dan Thahar, maka diharapkan menjadi sebuah momentum untuk dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pada seluruh jajaran birokrasi di lingkup Pemkab Lutra.

Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) Universitas Andi Djemma (Unanda) lanjut menuturkan, saya kira Ibu Indah (sapaan akrab Bupati Indah Putri Indriani) dan Pak Thahar (HM Thahar Rum) telah melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap jajaran berokrasinya, semenjak keduanya dilantik (17 Februari 2016) untuk menjalankan tugasnya sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kab Lutra.

Dijelaskan oleh dosen yang juga mengajar pada sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi ini, bahwa hanya saja masih harus menunggu enam bulan setelah pelantikannya, baru dapat mengeksekusi atas hasil evaluasi terhadap jajaran berokrasinya.

Menurut saya sih, sambung mantan birokrat Pemkab Luwu ini, jadi sebaiknya Ibu Indah dan Pak Thahar mereposisi pejabat pada setiap level eselon yang dinilai tidak kredibel, kapabel atau berkompoten, berintegritas dan dinilai tidak loyal. “Itu sangat mutlak harus dilakukan,” tutur Bachtiar saat berbincang-bincang dengan Tabloid SAR di Cafe Enzyme Kota Palopo, Senin malam (18/04-2016) lalu.

Sambung dia, apalagi namanya, kalau sudah memposisikan diri sebagai lawan politik pada Pilkada lalu. Ujarnya lagi, jadi jangan sampai memelihara anak macan, setelah besar akan memakan tuannya sendiri. “Hal-hal inilah yang mesti menjadi atensi bagi Ibu Indah dan Pak Thahar, saat nantinya melakukan reposesi pejabatnya,” tukasnya.

Ujarnya lagi, semestinya pula Kelompok Aktivis Pembela Arus Bawah adalah juga banyak bergerak di Kab Lutra. Kawal jugalah pemerintahan Ibu Indah dan Pak Thahar di Kab Lutra, jangan hanya banyak bergerak di Luwu dan di Toraja,” harap tokoh akademisi yang satu ini dan dalam waktu dekat akan dikukuhkan pula menjadi professor.

Dengan nada bercanda ia bertutur, kasih tahu Bos mu (Rahmat K Foxchy, red) itu, jangan hanya di Luwu saja yang diobok-obok kasus korupsinya atau ke Toraja terus. “Karena pemerintahan di Palopo, Lutra dan Lutim (Luwu Timur, red) adalah perlu pula dikawal oleh LSM Pembela Arus Bawah, demi mendorong pemerintahan yang baik dan bersih pada daerah-daerah tersebut,” paparnya.

Pasalnya, tambah dia, saya selalu mendapat informasi tentang isu-isu korupsi dari berbagai pihak pada daerah-daerah tersebut. “Namun jelasnya, bahwa kalau mau aman dalam menjalankan rodah pemerintahan, maka Ibu Indah dan Pak Thahar janganlah memelihara anak macan dalam ranah birokrasi,” pungkas DR Bachtiar.

Rahmat K Foxchy
Terpisah, Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy adalah nampaknya juga senada dengan yang diutarakan oleh DR. Bachtiar tersebut. Aktivis yang akrab disapa Foxchy oleh kalangan pejabat di Luwu Raya ini, saat berbincang-bincang dengan sejumlah aktivis mahasiswa asal Lutra yang kuliah di Kota Palopo ini.

Menurut Foxchy, jelasnya bahwa reformai birokrasi adalah mesti digerakkan untuk terus mendong terwujudnya good governance (pemerintahan yang baik). “Saya kira, itu akan menjadi agenda prioritas pemerintahan baru di Kab Lutra tersebut,” ujarnya.

Aktivis yang senantiasa menggelar aksi demonstrasi di Jakarta, antara lain pada Kantor Jaksa Agung, Kantor KPK dan Kantor Kementrian Dalam Negeri ini. Lanjut menuturkan, bahwa Hari Jadi Kab Lutra ke 17 adalah sudah mestinya menjadi momentum bagi pemerintahan Ibu Indah dan Pak Thahar, untuk mempersiapkan kalangan birokratnya yang dianggap handal.

Tuturnya Foxchy lagi, ya, adapun birokrat yang meski dipersiapkan adalah memang dapat mengemban visi, misi dan program yang sudah menjadi agenda kebijakan pasangan “PINTAR” yang dijanjikan pada Pilkada 2015 lalu. “Itu sudah menjadi keharusan, karena janji tersebut adalah sudah terikat dengan rakyat Lutra,” tukasnya.

Jadi menurut saya, sambung Foxchy, untuk itu sebaiknya Ibu Indah dan Pak Thahar jangan sampai memelihara anak macan dalam ranah birokrasi. “Itu, akan justru berpotensi untuk menjadi sumber masalah yang sangat serius bagi Pemkab Lutra untuk lima tahun ke depan,” pungkasnya seolah menegaskan ungkapan DR Bachtiar.

Aktivis yang juga akrab disapa Ories ini, sembari mengajak para mahasiwa Lutra yang menjadi teman dialognya di cafe Icon Palopo, Kamis malam (21/04-2016). Ujarnya, kalian adik-adik dari mahasiswa asal Lutra, kawal ya pemerintahan Indah – Thahar di Lutra agar bebas dari praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Lalu ia berpesan, bahwa mahasiswa harus senantiasa tampil terdepan untuk menjadi agent of change, demi mendorong pemerintahan yang baik di Lutra. “Kami dari kelompok Aktivis Pembela Arus Bawah siap memberikan dukungan pendampingan,” pungkas Rahmat K Foxchy.

Dari dialog yang cukup panjang lebar bersama sejumlah aktivis mahasiswa Lutra di Cofe Icon tersebut, sehingga melahirkan kesepahaman untuk mengawal pemerintahan Bupati Indah dan Wakil Bupati Thahar Rum dari sisi pendampingan terkait kepentingan publik.

Irwan adalah salah satu mahasiwa Universitas Andi Djemma, mengapresiasi atas adanya kerjasama yang diberikan oleh Bang Ories. “Ini kesempatan buat kami untuk belajar banyak dari Beliau (Bang Ories, red) sebagai tokoh aktivis yang sudah punya nama dalam mengungkap kasus-kasus korupsi, nantinya akan kami terapkan di Lutra,” tuturnya dan juga diamini oleh teman-temnnya .

Sedangkan dari kalangan budayawan Tana Luwu salah satunya Musly Anwar, saat berbincang-bincang di Warkop Dottoro Palopo, Sabtu siang (23/04-2016), menuturkan bahwa tampilnya Bupati Indah dan Wakil Bupati Thahar Rum, tentunya merupakan sebuah harapan untuk membawa perubahan baru yang lebih baik bagi kemajuan pembangunan demi kesejahteraan hidup rakyat di Lutra.

   
Musly Anwar
Menurut Musly, karena budaya dan kebudayaan adalah bagaimana seharusnya memanusaikan manusia dalam sebuah ranah penyelenggaraan kekuasaan. “Karena pemerintahan pada dasarnya adalah simpul regulator terhadap sistem pelayanan publik untuk menciptakan rasa adil bagi kehidupan rakyat,” ujarnya.

“Jadi birokrat yang tidak memahami fungsinya sebagai pelayan publik, itu adalah cerminan biroktar yang sama sekali tidak berbudaya dan sudah seharusnya pula disingkirkan dari lingkaran jabatan dalam bentuk apapun,” ulas budayawan muda Tana Luwu ini.

Sembari ia berharap agar kebijakan pemerintahan baru di Lutra supaya lebih mengadosi nilai-nilai kearifan lokal. Musly pun juga berharap agar dapat pula terjadi penguatan terhadap setiap kelembagaan adat Luwu di daerah Lutra. “Ya, kita ingin ada keberpihakan Pemkab Lutra terhadap pengambanan budaya Luwu,” imbuhnya.

Ia pun juga sepakat, dengan adanya pameo bahwa “jangan pernah memelihara anak macan”. “Saya pikir Ibu Indah dan Pak Thahar sangat paham betul dengan ungkapan ini, jadi itu yang mesti menjadi pertimbangan evaluasi pada saat pengambilan kebijakan mutasi pejabat nantinya,” pungkas Anwar Musly. (Tim Lipsus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.