.

.

.

Sabtu, 25 Juni 2016

Sekilas Potret Kepala Daerah Perempuan Pada Tingkat Dunia

Indah Bersama Sederet Kepala Daerah di Indonesia

     
Indah Putri Indriani
MASAMBA, Tabloid SAR—Berbicara tentang kepemimpinan kepala daerah perempuan pada tingkat dunia. Nampaknya Indonesia justru jauh lebih maju, bahkan mengalahkan negara-negara barat yang mengaku berperadaban demokrasi sekalipun.

Tentunya hal ini adalah justru sangat ironis, sebab rekam jejak kepala daerah perempuan di negara-negara demokrasi barat tersebut, nampaknya tidak seindah dengan kampanye global tentang persamaan hak-hak politik gender yang mereka gencarkan selama ini.

Seperti Negara Amerika Serikat saja, padahal dikenal paling mengklaim dirinya sebagai negara sangat demokratis di dunia. Namun justru baru di belakangan muncul perempuan untuk dapat tampil menjadi kepala daerah di negara tersebut.

Sesuai hasil penelusuran Tabloid SAR, jika perempuan pertama yang terpilih menjadi kepala daerah di Amerika Serikat adalah bernama Sarah Palin. Ia menjadi Gubernur Alaska ke 11 yang terpilih pada akhir tahun 2006.

Untuk tingkat jabatan walikota, ada Sheila Dixon yang menjadi Walikota Baltimore, Amerika Seriat. Akibat terlibat kasus korupsi sehingga dicokok oleh kepolisian, pada 9 Januari 2009, akhirnya dicopot dari jabatannya sebagai walikota. 

Sheila sendiri adalah peranakan kulit hitam, disebut-disebut sebagai perempuan pertama yang menjadi walikota di Amerika Serikat. Padahal negara super pawer ini adalah jelas-jelas mengaku sebagai negara paling menjunjung tinggi hak-hak persamaan gender dalam ranah dunia politik.

Lalu muncul seorang keturunan Tionghoa bernama Quan Jean, untuk membuat gebrakan sehingga juga terpilih menjadi walikota di negara adikuasa tersebut. Dirinya memenangkan pemilihan jabatan walikota di Oakland, California, pada tanggal 10 November 2010.

Kemudian menyusul tampil Tyus Byrd yang dilantik menjadi Walikota Parma di Missouri, Amerika Serikat pada bulan April 2015. Tyus Byrd adalah juga merupakan seorang wanita keturunan kulit hitam, terpilih sebagai kepala daerah di negara adidaya tersebut.

Sedangkan di Negara Prancis, nampaknya baru Anne Hidalgo adalah perempuan pertama yang terpilih sebagai Walikota Paris, pada Maret 2014. Inggris sendiri, baru punya kepala daerah perempuan pertama bernama Naveeda Ikram, dilantik pada tanggal 25 Mei 2011.

Hebatnya lagi, Naveeda Ikram adalah justru seorang perempuan muslim, di tengah Negara Inggiris yang penduduknya adalah mayoritas Kristen. Dia sendiri dilantik menjadi Walikota Bradford di London .

Sementara di belahan dunia Islam, tepatnya di jantung Eropa, yakni di Negara Bosnia Herzegovina, punya walikota pertama perempuan bernama Amra Babich. Ia dilantik pada 7 Oktober 2012 untuk memimpin kota Visoko, di pinggiran Ibukota Sarajevo.

Lebih mencengangkan lagi, justru Kota Alar di Palestina adalah justru dipimpin oleh seorang perempuan belia yang baru berumur 15 tahun bernama Vera George Mousa Baboun atau Bashaer Othman.

Ia sendiri saat menjadi kepala daerah sebagai Walikota Alar adalah masih berstatus sebagai siswi pada salah satu sekolah menengah, merupakan satu-satunya kepala daerah perempuan termuda di dunia.

Jika Irak punya perempuan walikota pertama Zekra Alwach yang dilantik pada 12 Februari 2015 lalu. Iran pun juga punya walikota pertama dari perempuan yaitu, Zahra Sadr A’dzham Nuri yang dilantik pada April 2015 lalu.

Untuk belahan Asia Selatan yaitu di India, muncul seorang perempuan muslim pertama, yaitu bernama Afsana Muhammad Badeeh. Ia dilantik menjadi Walikota Gujarat India di tengah mayoritas penduduknya beragama Hindu, pada 4 April 2015.

Halnya di Asia Timur, yakni Jepang tak ketinggalan pula punya perempuan pertama sebagai kepala daerah bernama Naomi Koshi, terpilih menjadii Walikota Otsu, Ibu Kota Prefektur Shiga, pada tanggal 22 Januari 2012.

Untuk Negara-Negara Amerika Latin adalah sudah terdapat beberapa nama perempuan yang pernah/masih tampil menjadi kepala daerah. Salah satunya adalah Gisela Mota yang terpilih sebagai Walikota Temixco, berada kurang lebih 90 kilometer dari Mexico City, Ibukota Mexico.

Gisela, sehingga menjadi terkenal, lantaran tewas ditembak oleh kebiadaban dan kekejaman kartel narkoba, pada tanggal 2 Januari 2016. Dia tewas tertembak, hanya beberapa jam, setelah dirinya dilantik dan disumpah, pada tanggal 1 Januari 2016.

Intinya, bahwa masih banyak lagi kepala daerah dari kalangan perempuan yang pernah aktif atau masih aktif di seluruh dunia, akan tetapi tidak dapat disebut satu persatu.

Sekelumit Refleksi Tentang Kepemimpinan Perempuan, Pada Tampuk-Tampuk Pemerintahan di Indonesia.

Tampilnya Indah Putri Indriani sebagai orang nomor satu di Luwu Utara (Lutra). Maka tentunya adalah sebuah sejarah baru bagi kaum perempuan yang menduduki sebuah tampuk pemerintahan di daerah selaku bupati perempuan pertama di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal tersebut, maka semakin menambah deretan kaum hawa untuk tampil menjadi srikandi politik sebagai “Kartini” pada tampuk-tampuk pemerintahan, tidak hanya di tingkat daerah tapi juga pada tingkat nasional. Bahkan sudah ada perempuan Indonesia yang tampil pada ranah kepemimpinan badan-badan resmi tingat dunia.

Khusus untuk tingkat kepemimpinan nasional, bahwa sejarah tentunya mencatat atas tampilnya Megawati Sukarno Putri sebagai perempuan pertama yang menjadi Presiden Indonesia. Tentunya pula merupakan salah satu diantara sedikit perempuan yang pernah/sedang tampil menjadi pemegang tampuk kepemimpinan negara di muka planet bumi ini.

Jadi nampaknya bahwa era reformasi sekarang ini adalah sebuah era kebangkitan bagi kepemimpinan kaum perempuan di Indonesia. Mungkin karena kepemimpinan perempuan, dengan naluri keibuannya yang dinilai lebih memahami persolalan-persoalan yang bersifat fundamental, sehingga mulai dilirik oleh rakyat untuk dipilih menjadi kepala daerah.

Olehnya melalui “Liputan Khusus” ini, Tabloid SAR mencoba untuk merefleksi tentang potret kepemimpinan perempuan Indonesia pada tingkat daerah, dari semenjak era pemerintahan orde lama hingga pada era pemerintahan reformasi sekarang ini.

Sebagaimana rekam jejak tentang sejarah kepala daerah, bahwa Indah sapaan akrab Bupati Lutra ini adalah perempuan kedua yang menjadi kepala daerah di Sulsel. Karena pada era orde lama, sudah pernah ada seorang perempuan yang menjadi kepala daerah sebagai Walikota Makassar.

Adapun seorang perempuan tersebut adalah bernama Salawati Daud (Charlotte Salawati), ia dilantik menjadi Walikota Makassar, pada tahun 1947 dan disebut-sebut hanya memerintah hingga tahun 1949. Sekaligus merupakan perempuan pertama di Indonesia yang pernah tampil menjadi kepala daerah, pada posisi jabatan sebagai walikota.

Masih pada era orde lama, maka menyusul muncul Agustine Magdalena Woworuntu adalah perempuan kedua di Indonesia yang tampil menjadi kepala daerah, dilantik sebagai Walikota Manado pada tanggal 30 September 1950 dan memerintah hanya kurang lebih satu tahun atau berakhir pada tanggal 20 Maret 1951.

Kemudian pada era orde baru, ada nama HJ Rohani Darus Danil menjadi Walikota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada tahun 1990-an. Nampaknya hanya satu-satunya perempuan yang menjadi kepala daerah selama kurun waktu 32 tahun di bawah rezim pemerintahan Presiden Suharto.

Pasca orde baru, maka muncul Sylviana Murni sebagai perempuan pertama yang tampil menjadi kepala daerah di era reformasi sebagai Walikota Jakarta Pusat, dilantik pada tanggal 1 April 2008. Hanya saja jabatannya ini adalah sifatnya jabatan karier dalam ranah Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup DKI Jakarta, maka tidak dipilih melalui proses pemilihan langsung kepala daerah atau Pilkada.

Seperti halnya atas tampilnya Salawati Daud sebagai Walikota Pertama Makassar dan Agustine Magdalena Woworuntu sebagai Walikota Pertama Manado, pada era orde lama. Termasuk HJ Rohani Darus Danil sebagai Walikota Tebing Tinggi, pada era orde baru. Karena pada kedua orde pemerintahan nasional tersebut, belum mengenal istilah Pilkada Langsung.

Menurut catatan bahwa perempuan pertama di Indonesia pada era reformasi ini yang menjadi kepala daerah sebagai bupati, melalui sistem Pilkada Langsung adalah bernama Haeny Relawati Rini Widyastuti. Perempuan yang akrab disapa Haeny ini, tampil menjadi Bupati Tuban di Jawa Timur ((2001-2006).

Namun untuk perempuan pertama yang tampil menjadi kepala daerah sebagai walikota adalah Tri Rismaharini. Ia dilantik menjadi Walikota Surabaya, untuk periode pertama pada tanggal 28 Septembar 2010 dengan masa jabatan hingga tahun 2015. Kemudian terpilih kembali untuk periode kedua kalinya (2016-2021) pada tanggal 17 Februari 2016.

Sementara itu, perempuan pertama yang tampil menjadi kepala daerah sebagai gubernur adalah Hj. Ratu Atut Chosiyah. Ia dilantik sebagai Gubernur Banten pada tanggal 11 Januari 2007, dengan masa jabatan hingga tahun 2012.

Kemudian dirinya kembali memenangkan Pilkada Banten untuk periode kedua kalinya (2012 – 2017). Namun dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Gubernur Banten pada tanggal 13 Mei 2014, akibat tersandung kasus korupsi yang ditangani melalui Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Seperti telah diketahui bahwa, Indah Putri Indriani, awalnya berkiprah dalam ranah Pilkada periode pertamanya, terpilih pada tanggal 23 August 2010 sebagai Calon Wakil Bupati Lutra. Pada periode tersebut, perempuan cantik ini berpasangan dengan Bupati H Arifin Junaidi, untuk memimpin Lutra selama kurun tahun 2010 – 2015.

Akan tetapi, untuk periode kedua kalinya (2016-2021) namun keduanya adalah justru saling menjadi rivalitas politik pada ranah Pilkada Serentak 2015 lalu, sehingga terpilih menjadi bupati perempuan pertama di Sulawesi Selatan ini.

Halnya, bahwa melalui hasil Pilkada Serentak 2015 lalu adalah diketahui menampilkan 26 perempuan yang menduduki tampuk-tampuk pemerintahan di daerah, baik itu sebagai bupati maupun itu sebagai walikota. (Nama-nama Bupati dan Walikota Hasil Pilkada Serentak 2015 Periode 2016-2021, lihat boks pada halaman 05)

Selain itu, melalui Pilkada Serentak pertama ini adalah tampil pula 9 wakil bupati perempuan dan 2 wakil walikota perempuan. Hanya saja, bahwa nampaknya tidak ada perempuan yang terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur.

Mengenai tampilnya Indah, begitu Bupati Lutra akrab disapa, bersama dengan sederet perempuan lainnya, baik yang pernah maupun yang sedang memimpin pada tampuk-tampuk pemerintahan di berbagai seantero negeri Nusantara ini.

Maka tentunya membawa sebuah fenomena tersendiri, bahwa perempuan telah semakin menunjukkan eksistensinya sebagai agent of change di tengah alam peradaban demokrasi. Sekaligus diharapkan untuk dapat menjadi inspirasi bagi kaum perempuan lainnya, bahwa bagaimana ke depannya pun bermunculan Indah-Indah lainnya, khususnya di Tana Luwu ini.

Tentunya bukan karena faktor untuk maksud menerobos tirani politik kaum adam. Akan tetapi mungkin sudah menjadi kemauan sejarah, bahwa rakyat telah merindukan dan sudah merasa membutuhkan kepemimpinan yang bersifat keibuan pada perempuan-perempuan yang berkomitmen kuat untuk dapat membawah amanah, menurut hasil pilihan rakyat.

Jadi bukan tanpa sebab apabila melalui Pilkada, sehingga membuat sederet perempuan untuk tampil pada tampuk-tampuk pemerintahan di daerah. Hal tersebut, lantaran akibat diskriminasi dan marginalisasi sosial adalah masih saja berlangsung menjadi sumber penyebab terjadinya rasa ketidakadilan bagi kehidupan rakyat.

Olehnya itu pula, maka melalui Hari Jadi Lutra ke 17 yang diperingati pertama kalinnya di bawah kepemimpinan Bupati Indah dan Wakil Bupati Thahar, sehingga sangat diharapkan dapat menjadi momentum dalam mengambil langkah “PINTAR” di tengah membawa amanah kepemimpinan demi kemaslahatan bagi rakyat Lutra, tanpa lagi ada diskriminasi dan maginalisasi sosial. (Rd)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.