.

.

.

Kamis, 23 Juni 2016

Terungkap Kasus Pasien Digendong Suaminya, Keluar dari RSUD Sawerigading


Dahsyatnya Pers, Pedulinya Aktivis dan Arifnya Kepemimpin Walikota Palopo, HM Judas Amir
(2 Foto kiri), nampak para aktivis kemanusiaan Kota Palopo saat mendampingi      
pasien warga miskin, Murtiningsi di RSUD Sawerigading Kota Palopo.
(Foto kanan), saat Gatri menggendong isitrinya bernama Murtiningsi di atas
angkutan pete-pete, ketika kembali ke rumahnya lantaran sudah
kehabisan uang untuk biaya medis rumah sakit.
 “Orang miskin dilarang sakit” itulah sebuah pameo yang senantiasa dilontarkan oleh kalangan pergerakan masyarakat sipil (civil society), khususnya oleh para aktivis pemerhati kesehatan pada tingkat komunitas akar rumput.


Oleh : Ories Foxchy


Pasalnya komunitas pada tingkat inilah, jusru senantiasa mengalami disparitas atau termaginalkan atau terpinggirkan dari hampir pada semua ranah kebijakan tentang sistem pelayanan publik, tanpa terkecuali pada pelayanan bidang kesehatan.

Di era pemerintahan reformasi di Indonesia sekarang ini, untungnya pers adalah menempati posisi strategis sebagai pilar terakhir (ke 4) bagi penegakan demokrasi. Andaikan tidak ada pers dalam memainkan fungsinya, lalu seperti apa runyamnya sistem penyelenggaraan pemerintahan di negara kita ini.

Adapun contohnya, bahwa bagaimana dahsyatnya pers dalam menunjukkan eksistensinya, untuk memberitakan berbagai kasus warga miskin yang sungguh sangat memiriskan, akibat diperlakukan sangat tidak manusiawi oleh rumah sakit di negeri ini.

Meskipun demikian, nampaknya masih saja terus terjadi kasus-kasus marginalisasi sosial bagi kaum warga miskin dalam mendapatkan sistem pelayanan kesahatan. Mungkin karena warga miskin adalah dianggap tidak memberikan asas benefit dalam bentuk pemasukan kas.

Masalahnya, akibat faktor rumah sakit adalah sepertinya telah menganut prinsip-prinsip kapitalisme. Menjadi penyebab rumah sakit kurang peduli dalam mengedepankan fungsi sosialnya, sehingga cenderung mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Maka hal inilah, sehingga muncul ungkapan dalam bentuk pameo bahwa “orang miskin dilarang sakit”. Pada dasarnya untuk menyindir pemerintah yang terkesan masih setengah hati, atau patut dikatakan tidak konsisten untuk memberikan akses berupa jaminan sosial bagi warga miskin dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Padahal konstitusi sendiri adalah sudah mengamanatkan, bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” sebagimana dimaksud dalam pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

Akan tetapi kenyataannya, pelayanan kesehatan di beberapa rumah sakit bagi warga miskin adalah seringkal diperhadapkan pada pelecehan rasa kemanusiaan. Tragis memang, karena seolah negara tidak pernah hadir untuk memenuhi hak-hak dasar pada bidang kesehatan bagi warganya yang miskin.

Jadi wajar, apabila pelayanan kesehatan bagi warga miskin adalah sering kali mengundang rasa kepedulian para aktivis dalam mengekspresikn aksi solideritasnya, demi semangat perjuangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Halnya yang dialami oleh salah satu pasien diketahui bernama Murtiningsi pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sawerigading di Kota Palopo ini. Lantaran merasa tidak mampu membayar biaya medis, sehingga digendong suaminya (Gatri) pulang ke rumahnya di Karetan, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Kasus ini, sampai terungkap ke permukaan adalah berawal dari adanya seorang warga yang memposting foto sang suami yang sedang menggendong istrinya di atas angkutan kota (Angkot), sekembalinya dari rumah sakit dalam perjanalanannya menuju pulang ke rumahnya di bilangan Karetan tersebut.

Maka disinilah membuktikan bahwa eksistensi pers dan pedulinya kalangan aktivis dalam menelusuri postingan foto melalui salah satu pemilik akun facebook, sehingga kasus ini mencuat ke permukaan menjadi sorotan publik.

Itulah dahsyatnya peran pers sebagai “dewa penolong” dalam pengawal dan menegakkan demokrasi untuk mempengaruhi sebuah sitem kebijakan publik, pada gilirannya mendapat perhatian serius oleh Walikota Palopo.

Olehnya itu, bahwa sangat patut untuk mengapresiasi atas arifnya kepemimpinan Walikot HM Judas Amir. Padahal pasien tersebut, diketahui adalah berpenduduk Kabupaten Luwu.

Namun orang nomor satu di Kota Palopo ini, justru langsung menginstruksukan Direktur RSUD Sawerigading agar membebaskan pasien ini dari semua biaya medis dan biaya dalam bentuk apapun, selama mendapat perawatan medis di rumah sakit tersebut.

Maka salut pula atas adanya rasa empati dari adik-adik aktivis kemanusiaan di Kota Palopo ini, yakni adinda Haeril Al Fajri, Jaya Beiberr Hartawan, Bayu Purnomo dan lain-lain. Ya, mereka-mereka dari kalangan aktivis ini adalah walaupun masih muda tapi sangat peduli.

Utamanya Bung Edy Maiseng yang tampil sebagai motivator terhadap adik-adik aktivis ini, maka dilakukan upaya pencarian terhadap rumah pasien tersebut, sehingga dapat kembali dirawat di RSUD Sawerigading Rampoang Kota Palopo. (Pj)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.