.

.

Saturday, 2 July 2016

Kapolres Luwu, Luwu Timur dan Wajo Berpindah Tugas

Masih Belum Memberikan Ekspektasi Kuat Terhadap Upaya Pemberantasan Korupsi

    
Kapolres Wajo, AKBP Noviana saat gelar pisah sambut
Kapolres Wajo di Baruga We Cudae,
Rabu (11/5/2016) lalu
.
Tabloid SAR – Gerbong mutasi dalam jajaran Polri, seperti yang tertuang dalam surat telegram Kapolri Nomor : ST/1059/IV/2016 tanggal 28 April 2016 lalu, pun berimbas pada pergantian Kapolres Luwu, Kapolres Luwu Timur dan Kapolres Wajo.

Sebagaimana telah diberitakan oleh Tabloid SAR pada edisi sebelumnya dan berbagai media massa lainnya, bahwa Kapolres Luwu, AKBP Adex Yudiswan adalah digantikan oleh AKBP Ahmad Yanuari Insan.

Sedangkan Kapolres Luwu Timur, AKBP Mokhammad Alpian Hidayat adalah digantikan oleh AKBP Parojahan Simanjuntak. Halnya Kapolres Wajo, AKBP Muh Guntur adalah digantikan oleh AKBP Noviana Tursanurohmad.

Menurut informansi yang dihimpun Tabloid SAR, bahwa AKBP Adex Yudiswan dimutasi menjadi Kapolres Gresik Kota di Jawa Timur. Sedangkan AKBP Mokhammad Alpian Hidayat adalah mendapat tugas baru menjadi Wadansat Brimob Polda Kalimantan Barat. Begitupun juga AKBP Muh Guntur, dikembalikan ke kesatuan lamanya, yakni Brimob sebagai Wadansat Brimob Polda Bengkulu.

Ketiga perwira Polri yang berpangkat melati dua ini, nampaknya AKBP Mokhammad Alpian Hidayat yang tercatat namanya dalam Musium Rekor Indonesia (MURI) sebagai Kapolres yang dinilai banyak membangun lapangan tembak, ketika masih menjabat Kapolres Luwu Timur.

Sedangkan AKBP Adex Yudiswan yang dikenal berjiwa sosial ini, saat menjadi Kapolres Luwu adalah muncul di permukaan, ketika pencarian korban terkit peristiwa jatuhnya pesawat AviaStar di Bukit Bajaja Latimojong Kabupaten (Kab) Luwu Sulawesi Selatan.

Namun bagi AKBP Muh Guntur selama menjadi Kapolres Wajo atau Kapolres Palopo, kendati namanya tidak sefenomenal dengan kedua teman sejawatnya tersebut. Namun cukup sukses mengungkap sejumlah kasus-kasus pembunuhan di wilayah kerjanya.

Patut untuk diapresiasia atas kinerja terhadap ketinga perwira menengah kepolisian berpangkat melati dua ini, saat masih menjabat Kapolres pada masing-masing wilayah hukumnya tersebut. Alasannya, karena baik di Kab Luwu maupun di Kab Luwu Timur dan di Kab Wajo adalah senantiasa tercipta kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat yang secara umum adalah dalam suasana kondusif.

Meskipun terdapat riak-riak berupa terjadi anarkisme dari kelompok warga, akan tetapi segera dapat diantisipasi. Misalnya antara lain, terjadinya kasus anarkisme warga yang mengacam untuk membakar Kantor Polsek Wotu Luwu Timur, pada dini hari sekira pukul 01.00 Wita Jumat (6/5/2016) lalu.

Dimana peristiwa tersebut adalah terkesan memberikan catatan buruk bagi kinerja kepolisian di daerah ini. Seolah menjadi hadiah perpisahan bagi AKBP Mokhammad Alpian Hidayat, sebagai Kapolres Luwu Timur. Padahal terjadinya kasus ini, lantaran adanya efek dari kurang profesionlnya kinerja Polsek Wotu dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat.

Adapun maksud kurang profesionalisme tersebut, bisa karena faktor aparat Polsek Wotu dalam menangani perkara adalah tidak memberikan informasi yang kurang dapat dipahami oleh pihak korban pelapor, sehingga terjadi miskomunikasi akibatnya memicu rasa ketidakpuasan dari masyarakat.

Akan tetapi terlepas dari itu bahwa langkah AKBP Mokhammad Alpian Hidayat, selama menjadi Kapolres Luwu Timur adalah patut pula untuk diacungkan dua jempol tangan. Pasalnya, kepemimpinannya adalah tanpa mengenal kompromi terhadap anggotanya yang terlibat kasus narkoba.

Sementara menurut pantauan kelompok Aktivis Pembela Arus Bawah, diketahui bahwa ketiga Kapolres yang dimutasi pada posisi barunya masing-masing ini adalah masih belum memberikan ekspektasi kuat terhadap upaya pemberantasan korupsi. Padahal fenomena korupsi, baik di Kab Luwu maupun di Kab Luwu Timur dan Kab Wajo adalah cukup memjadi sorotan publik.

Sedangkan catatan yang diperoleh kelompok LSM ini, ketika Polres Luwu di bawah kepemimpinan AKBP Rudi Heru Susanto adalah nampak sangat menonol dalam menangani kasus-kasus korupsi, dengan sederet penghargaan yang diterima Polres Luwu saat itu.

Ekspektasi yang sama adalah masih diberikan oleh penggantinya, AKBP Alan Gerrith Abast. Hanya saja ada perbedaan gaya terhadap penanganan korupsi yang ditunjukkan oleh kedua mantan Kapolres Luwu ini.

Jika Polres Luwu pada era kepemimpinan Rudi Heru adalah lebih mengedepankan penanganan yang bersifat shock therapy, dengan memanfaatkan kekuatan media massa. Namun pada era kepemimpinan Alan adalah justru cenderung mengedepankan sistem silent operation, dengan kualitas kasus korupsi yang ditanganinya adalah lebih meningkat kerugian negara yang ditimbulkannya.

Jadi terlepas dari plus-minus terhadap gaya kepemimpinan Kapolres Luwu, Luwu Timur dan Wajo yang sudah berpindah tugas tersebut. Namun jelasnya bahwa ketiganya adalah masing-masing memberikan kesan tersendiri pada setiap daerah yang ditinggalkannya tersebut. (Tim Lipsus)

No comments:

Post a Comment

.

.