.

.

Sunday, 17 July 2016

Kejari Belopa Lidik Dugaan Korupsi Proyek Irigasi Bendungan Likupini

    
Tampak saluran irigasi Bendungan Likupini yang rubuh dan retak.
BELOPA, Tabloid SAR- Kejaksaan Negeri (Kejari) Belopa, tampaknya semakin getol mengungkap sejumlah kasus korupsi yang terjadi di wilayah hukumnya. Hal itu terbukti dengan berhasilnya Jaksa Tipikor pada Kejari tersebut menjebloskan sejumlah pejabat teras Pemerintah Kabupaten Luwu kedalam jeruji besi.

Tampaknya tidak lama lagi akan menyusul pula koruptor lainnya. Karena saat ini Kejari Belopa, tengah melidik (melakukan penyelidikan- red) kasus dugaan korupsi proyek pembangunan saluran irigasi Bendungan Likupini di Desa Bone Lemo, Kecamatan Bajo Barat, Kabupaten Luwu.

Saat dikonfirmasi melalui telpon genggamnya, Kepala kejaksaan Negeri (Kajari) Belopa, Zet Tadung Allo, SH, MH membenarkan bahwa Kejari Belopa sedang melidik kasus dugaan korupsi proyek pembangunan irigasi Bendungan Likupini.

“Iyaa benar Tim dari Kejari Belopa sementara melakukan proses penyelidikan dugaan korupsi proyek pembangunan saluran irigasi Bendungan Likupini,” ujar Zet Tadung Allo, saat dikonfirmasi Senin, (20/06/2016) pagi.

Dalam kesempatan yang berbeda, anggota DPRD Luwu dari Fraksi Gerindra, Baso, SH saat dikonfirmasi via seluler mengatakan, bahwa proyek pembangunan saluran irigasi Bendungan Likupini tersebut dimulai sejak tahun 2013 lalu, yang diharapkan dapat mengairi sawah petani seluas ± 1.200 hektar disekitar Kecamatan Bajo Barat.

Sayang proyek tersebut meski baru sekitar dua tahun selesai dikerjakan, namun tampaknya sebagian besar sudah mulai rusak, dimana terdapat sekitar 25 meter yang rubuh dan sekitar 100 meter sudah retak. Dan ketika berjalan diatas lantai saluran irigasi tersebut, lantainya goyang karena diduga lantai itu tidak dikeraskan, ujar Baso

Lebih lanjut legislator Partai Gerindra dari Dapil II yang meliputi Kecamatan Belopa, Belopa Utara, Kamanre, Bajo, Bajo Barat, Bastem dan Bastem Utara itu menjelaskan bahwa proyek tersebut menelan anggaran sekitar Rp. 11 Milyar yang bersumber dari APBD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), urainya.

Ada indikasi terjadi pelanggaran dan atau kesalahan teknis dalam pembangun proyek ini. Sehingga perlu dilakukan klarifikasi kepada pihak kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut, tegas Baso, saat dikonfirmasi via telpon genggamnya Senin, (20/06/2016) siang.

“Sebab saluran irigasi yang rubuh sekitar 25 meter di Dusun Rangi-rangi, Desa Saronda, Kecamatan Bajo Barat, terindikasi bukan karena factor alam,” tambah Baso, seraya berharap agar pihak Kejari Belopa yang sementara melidik kasus tersebut untuk mengusut sampai tuntas dugaan korupsi proyek itu. (Wawan/WM)

No comments:

Post a Comment

.

.