.

.

.

Minggu, 03 Juli 2016

Kemajuan Teknologi dapat Mempercepat Lahirnya Masyarakat Tanpa Kelas

Ketika Alat Produksi Semakin Canggih, Kemana Para Pekerja ?

     
         Sumartono (Sekjen DPP SRMD)
Pertanyaan diatas muncul dalam pikiranku ketika melihat padi di kampung halaman saat musim panen tiba tidak lagi menggunakan tenaga manual (manusia) saat dipanen, melainkan menggunakan mesin pemanen padi.

Sawah yang dulu di panen dengan menggunakan banyak tenaga manusia, kini hanya dipanen oleh 2 atau 3 orang saja. Waktu memanenpun sudah begitu lebih cepat ketimbang menggunakan tenaga kerja manual dan tentu dengan biaya yang lebih murah.

Itulah kelebihan teknologi saat ini. Membuat manusia menjadi lebih mudah dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Ketika Peran Manusia Digantikan oleh Mesin ;

Namun pertanyaan anehku muncul di balik kekaguman akan kemajuan teknologi yang tak terbendung itu. Kemana para tenaga kerja manual setelah posisinya digantikan oleh teknologi canggih ?

Puluhan, belasan, bahkan ratusan para pekerja/buruh yang biasanya ramai berjejeran di tengah sawah ketika musim panen tiba ? Apa pekerjaan mereka sekarang ? Bukankah pekerjaan mereka hanya itu karena keterbatasan ketrampilan dan juga sebagai konsekwensi masyarakat desa yang tidak berpendidikan.

Bahkan sebelum posisi tenaga kerja manual digantikan oleh mesin berteknologi canggih, tak jarang para tenaga kerja manual itu ikut majikannya, ketika majikan mereka memborong pemanenan padi dengan menggunakan alat pemanen padi semi modern yang biasa disebut mesin dross di daerah yang jauh dari kampung halaman mereka.

Pastilah kini mereka harus mencari pekerjaan yang baru demi bertahan hidup. Namun pertanyaan tidak berhenti sampai di situ.

Dengan Teknologi Canggih Peran Manusia Digantikan oleh Mesin ;

Bagaimana dengan lapangan kerja lainnya, yang saat ini masih menggunakan tenaga manusia (tenaga manual- red) ? Besok atau lusa posisi mereka juga akan tergantikan oleh mesin berteknologi canggih bahkan robot. Tenaga kerja manusia dalam jumlah besar sudah tidak lagi di butuhkan ketika zaman itu tiba.

Perbedaan Revolusi Industri dan Evolusasi Industri ;

Sejak revolusi industri pada akhir abad 18, perkembangan teknologi dalam proses produksi maupun dalam hal lain terus berkembang.

Dengan kemajuan teknologi, peradaban manusia berkembang dengan sangat pesat. Melahirkan kelas pekerja yang bekerja di pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan mulai dari perusaan kecil hingga perusahaan/industri raksasa.

Namun tampaknya situasi kini berubah. Jika revolusi industri di belahan benua Eropa dan Amerika pada awal revolusi industry abad 18 lalu, melahirkan industri raksasa dan membuka lapangan pekerjaan, namun saat ini “evolusasi” industri kini mengeliminasi para pekerja. 

Seperti mesin pemanen padi, mesin penanam padi, mesin pelinting rokok, mesin pencucuian mobil dll. Kini bahkan ada mesin yang kecerdasannya hampir sama dengan manusia (robot).

Kemajuan Teknologi Melahirkan Bom Waktu Gejolak Sosial ;

Bahkan beberapa ilmuan di benua Eropa dan Amerika memprediksi, 10 tahun kedepan kita akan menemukan banyak mesin-mesin yang bekerja secara otomatis (robot), menggantikan pekerjaan/peran manusia.

Lalu kondisi demikian apa efek sosialnya ? Jika reveolusi industri melahirkan kelas pekerja dan kelas borjuasi/kapitalis (pemilik modal/alat produksi) maka menurut saya “evolusasi” industri akan melahirkan masyarakat pengangguran dalam jumlah yang besar !

Apalagi jika corak produksinya masih bersifat monopoli dan individualistik. Seorang pemilik alat produksi atau modal dapat melakukan proses produksi, serta menguasai pasar tanpa menggunakan tenaga kerja manusia atau buruh/pekerja.

Jika demikian, maka perbedaan antara yang kaya dan miskin akan sangat mencolok. Dan bila kondisinya sudah demikian, maka ketimpangan sosial dalam masyarakat akan melahirkan konflik sosial yang tidak dapat terelakkan. Ini adalah bom waktu akibat dari kemajuan teknologi.

Solusi Menghadapi Kemajuan Teknologi atau Zaman Robotisasi ;

Lalu apa yang harus di lakukan agar “bom waktu” ini tidak meledak ? Salah satu cara yang mungkin dapat menghentikan bom waktu tersebut sebagai solusi adalah dengan mengembangkan sistem ekonomi gotong-royong (bekerja sama) atau koperasi di segala sektor.

Sebab dengan corak produksi ala ekonomi gotong royong/koperasi maka kepemilikan alat produksi atau mesin (robot) akan di miliki secara bersama (milik kolektiv) karena secara umum corak produksi dan sistem ekonomi gotong-royong/koperasi adalah dari anggota oleh anggota dan untuk anggota.

Dengan sistem demikian maka manusia justru memiliki waktu luang yang banyak untuk bersama keluarga, bersantai atau berlibur tanpa harus takut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya atau dengan kata lain manusia akan lebih sejahtera sebab memilik koperasi yang di kendalikan oleh mesin atau robot milik kolektiv yang dapat menjamin kesejahteraan mereka.

Bukankah dengan demikian masyarakat sejahtera/madani akan terbentuk, yang biasa diistilakan orang dengan sebutan masyarakat tanpa kelas ? (*****)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.