.

.

.

Selasa, 26 Juli 2016

Misteri Kudeta Turki, Erdogan Jenius atau Militer Amatir?

     
ribuan rakyat Turki melakukan perlawanan atas aksi
militer turki untuk mengkudeta Presiden Tayyip Erdogan.
Penggagalan kudeta militer oleh ribuan rakyat Turki pada Jumat malam telah menjadi sorotan media dunia. Gagalnya kudeta militer Turki secara sekilas menunjukkan jeniusnya Presiden Tayyip Erdogan yang mampu menggerakkan ribuan orang hanya dengan fitur FaceTime di iPhone untuk melakukan perlawanan.

Ketika kudeta militer Turki berlangsung pada Jumat malam, Presiden Erdogan sejatinya sedang sedang berlibur di sebuah resor di Marmaris—pantai di Mediterania.  Saat itu, personel militer Turki sudah menduduki lokasi strategis di seluruh Istanbul dan Ankara. 

Pasukan Turki bersenjata berat juga memasuki gedung stasiun televisi TRT yang dikelola negara dan menuntut penyiar berita membacakan pengumuman kudeta.

Erdogan tak mau kalah. Dia gunakan fitur FaceTime pada iPhone-nya untuk menghubungi penyiar berita CNN Turk, Nevsin Mengu. Via fitur di ponsel pintar itulah, Erdogan secara efektif bisa berkomunikasi secara visual dan meminta ribuan rakyat Turki turun ke jalan melawan kudeta militer.

”Mari kita berkumpul sebagai bangsa di square (lapangan). Saya percaya kami akan melenyapkan pendudukan ini dalam waktu singkat,” seru Erdogan kepada rakyatnya.

“Saya mengimbau rakyat kita sekarang untuk datang ke lapangan dan kami akan memberi mereka jawaban yang diperlukan,” lanjut Erdogan.

Saat seruan Erdogan muncul, tank-tank tempur militer Turki sudah bermunculan di sejumlah kota. Kurang dari 20 menit kemudian, Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menulis pesan kemarahan di Twitter, di mana dia mencela para pemberontak.

Tak hanya tank-tank tempur, di langit Turki juga beterbangan jet tempur F-16 dengan suara nyaring. Manuver seperti ini dikenal sebagai doktrin militer untuk mengintimidasi orang-orang di darat tanpa melepaskan tembakan.

Pedoman Kudeta Usang

Gareth Jenkins, seorang peneliti dan penulis di bidang militer di Istanbul mengatakan; ”Kudeta ini jelas direncanakan cukup baik, tetapi menggunakan pedoman dari tahun 1970-an,” katanya.

Pedoman yang dia maksud adalah acuan kudeta yang pernah digunakan di Chili pada tahun 1973. Acuan itu juga digunakan di Ankara pada tahun 1980. Belum jelas mengapa militer Turki tidak menggunakan cara yang modern dalam upaya kudeta tersebut. Kejanggalan inilah yang membuat kesan militer Turki yang melakukan kudeta masih amatir. Padahal, beberapa jenderal top, seperti yang dituduhkan Pemerintah Erdogan, terlibat dalam upaya kudeta itu.

Mantan perwira militer Turki yang dikutip Reuters mengatakan beberapa pesawat jet tempur F-16 yang dikendalikan anti-Erdogan membidik pesawat yang membawa Erdogan pulang dari Marmaris ke Istanbul. Anehnya, jet tempur itu tidak menembakkan senjata meski sudah ambil bagian dalam kudeta.

Lolos dari kudeta militer, Erdogan langsung mengumbar tuduhan terhadap musuh politiknya, Fethullah Gulen, seorang ulama yang tinggal di pengasingan di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS) sebagai dalang kudeta. Sejumlah menteri di kabinet Erdogan juga menuduh AS terlibat kudeta.

Dicap Rekayasa Erdogan

Gulen yang dulunya merupakan teman Erdogan tak terima dengan tuduhan itu. Dia justru mengecam upaya kudeta militer Turki dan menuduh balik bahwa upaya kudeta itu rekayasa Erdogan dan partainya AKP dengan meluncurkan operasi palsu.

Meski demikian, upaya kudeta itu telah menewaskan ratusan orang, baik dari kubu warga sipil—termasuk teman Erdogan—maupun kubu militer. Ribuan orang lainnya terluka.

Dr Murat Yurtbilir dari Australian National University mengatakan kepada news.com.au, Senin (18/7/2016), menyoroti kejanggalan kudeta yang tanpa dukungan kepala militer, media dan publik.

”Dari permulaan (harapan) itu sudah hilang,” katanya. Menurutnya, kesan amatir dalam kudeta militer Turki bisa dilihat dari berbagai sisi.

Di antaranya, kudeta terjadi pada Jumat malam, antara pukul 21.00-22.00 malam, di mana kebanyakan orang masih terjaga.

”Kudeta sebelum-sebelumnya dimulai pada 04.00 (pagi)," katanya. Jam kudeta seperti itu memungkinkan Presiden Erdogan berkesempatan menggerakkan massa untuk melakukan perlawanan dengan tampil di televisi.

”Mereka (pendukung kudeta) tidak mencegah stasiun televisi dari aktivitas penyiaran, termasuk stasiun pro-pemerintah,” sambung dia melanjutkan kejanggalan kudeta di Turki.

Langkah lain yang menarik adalah Pemerintah  Erdogan menggunakan masjid untuk menyampaikan pesan melalui imam-imam untuk menyerukan orang-orang guna mendukung Presiden Erdogan.

Dr. Yurtbilir, bahkan mengaku menerima pesan teks dari Pemerintah Turki melalui ponsel yang sudah lama dia tidak gunakan. Pesan itu, memintanya untuk “menyelamatkan demokrasi" dan protes.

”Kami mengundang semua dari bangsa kita turun ke jalan-jalan dan lapangan untuk mempertahankan kehendak nasional dan demokrasi,” bunyi pesan dari Negara Republik Turki yang menyebar via ponsel.

”Beberapa orang yang saya tahu memiliki pesan ini 10 kali,” lanjut Dr Yurtbilir.

Sinan Ulgen, Ketua Pusat Ekonomi dan Kebijakan Luar Negeri di Istanbul, mengatakan kepada Radio Nasional bahwa kudeta yang terjadi tidak memenuhi salah satu persyaratan untuk meraih keberhasilan yang nyata.

Oposisi Menentang Kudeta

Kudeta di masa lalu dipandang sebagai aksi militer yang mendukung demokrasi. Sedangkan kudeta kali ini sangat berbeda, di mana partai oposisi yakni partai sekuler CHP dan partai nasionalis Kurdi HDP jelas-jelas menentang kudeta militer Turki.

”Tidak ada dukungan apapun di seluruh spektrum politik bagi intervensi militer,” kata Ulgen.

Terlepas dari rentetan kejanggalan ini, Ulgen dan para pakar lainnya percaya bahwa penjelasan yang paling logis untuk kudeta adalah soal gerakan yang terlibat.

Murat Yurtbilir mengatakan, nama-nama mereka yang dipenjara, kemungkinan anggota gerakan Hizmet yang beraksi di belakang Gulen, sebab Gulen sudah jelas membantah terlibat kudeta. Tapi Yurtbilir tidak berpikir semua pendukung kudeta termotivasi oleh gerakan itu. Terlebih, para jenderal top Turki tidak terlibat gerakan yang dijuluki sebagai Gulenists itu.

Sebaliknya pejabat militer lainnya diduga telah termotivasi oleh pembersihan Dewan Militer. ”Alasan utama untuk kudeta ini sudah dekat pada (pembersihan) Dewan Tinggi Militer Agustus,” ujar Yurtbilir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.