.

.

Sunday, 3 July 2016

Tahun 2019 Pesawat Boeing 737 Bakal Beroperasi di Bandara Bua

Dirjen Perhubungan Udara Janjikan Pesawat Boeing 737 Dapat Beroperasi di Bandara Bua Sebelum Masa Pemerintahan Jokowi-JK Berakhir


BUA, Tabloid SAR- Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara menjanjikan pengoperasian dan layanan pesawat Boeing 737 di Bandara Udara (Bandara) Bua sebelum akhir tahun 2019 atau jelang masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Janji pemerintah pusat ini disampaikan oleh Dirjend Perhubungan Udara, Suprasetyo, saat meresmikan Terminal baru Bandara Bua, di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Sabtu, (04/06/2016) baru-baru ini.

Menurutnya, sebelum hal itu terwujud, pihaknya akan terus melakukan pembangunan Bandara Bua hingga beberapa tahapan. “Pembangunan Bandara saat ini tidak terpusat lagi di Pulau Jawa, pemerintahan Jokowi-JK saat ini mengambil kebijakan memprioritaskan pengembangan Bandara pada wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Khusus Bandara Bua, kami targetkan pengembangannya secara bertahap dan sebelum akhir tahun 2019, pesawat Boeing 737 sudah dapat melayani penerbangan disini,” ujarnya sembari menunjuk Bandara Bua.

Suprasetyo, menyampaikan bahwa pemerintah pusat saat ini sedang menata insfrastruktur sektor transportasi di Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di daerah ini, salah satunya penataan dan perlengkapan infrastruktut 8 Bandara yang ada di Sulsel.

Khusus Bandara Bua saat ini merupakan unit penyelenggara Bandara Kelas III yang merupakan Bandara pengumpan untuk melayani penerbangan domestik ke beberapa daerah di Sulsel.

“Pembangunan dan pengembangan Bandara Bua yang kita resmikan hari ini adalah terminal penumpang yang luasnya 240 M² dan dilengkapi dengan fasilitas penunjang untuk calon penumpang seperti X-Ray dan ruang tunggu,” katanya.

Disebutkan bahwa saat ini Bandara Bua memiliki panjang atau (Runway) 1.400 meter dengan lebar 30 meter yang mempunyai kekuatan 15 F/C/Y/T. Panjang landasan hubungnya (Taxiway) 191,5 meter dan lebar 18 meter, sedangkan landasan parkir atau apron-nya memiliki panjang 80 meter dan lebar 60 meter.

“Dengan segala infrastruktur berstrandar International yang dimiliki saat ini sangat memungkinkan pesawat berkapasitas 90 seat untuk mendarat di Bandara Bua,” katanya.

Kegiatan pembangunan dan pengembangan terminal Bandara tahun 2016 ini dengan proses pengerjaan, pemenuhan standart air strip dan penataan atau perapihan lahan sisi darat 1 paket, pelapisan Taxiway (193 m x 18 m) apron (80 m × 60 m) dan filet setebal 5 cm termasuk marking dan pengawasan seluas 8.324 meter persegi.

“Selain itu, juga telah dikerjakan pembangunan Gedung Operasioanal, Pos Jaga, Kantor seluas 396 M², pembuatan Drainase dan Saluran Drainase, serta pembuatan Lapangan Parkir dan jalan masuk lingkungan,” urainya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kepala Bandara Bua, Syarifuddin, menyampaikan bahwa sala-satu tujuan pembangunan Bandara Bua adalah untuk memangkas waktu tempuh masyarakat dari Luwu Raya dan sekitarnya ke kota-kota lainnya yang berada di Sulsel.

“Sala-satu contohnya yakni waktu tempuh perjalanan melalui transportasi darat dari Kota Palopo menuju Kota Makassar yang jaraknya sekitar 360 kilo meter (Km) rata-rata ditempuh selama 8 jam, namun dengan pemanfaatan Bandara Bua selama ini, waktu tempuh paling lama 1 jam, dengan demikian sangat menghemat waktu kita,” sebutnya.

Sementara itu, Bupati Luwu, H Andi Mudzakkar, dihadapan Dirjend Perhubungan Udara, Suprasetyo, menyampaikan bahwa pembangunan Bandara Bua yang dimulai sejak tahun 2001 dengan luas lahan yang disiapkan pemerintah seluas ±100 hektar.

Peruntukan lahan seluas ±100 hektar itu diupayakan Pemerintah Kabupaten Luwu pembebasannya demi membangun Bandara Bua. Karena lamanya jarak tempuh perjalanan melalui darat dari Luwu ke Makassar saat itu, membutuhkan waktu hingga 10 sampai 11 jam.

Lanjut disampaikan Andi Cakka, nama lain Bupati Luwu bahwa baru-baru ini pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak maskapai penerbangan Garuda dan Lion Air untuk meloby mereka supaya masuk dan melayani rute penerbangan di Bandara Bua. Namun hasil pertemuan terakhir dengan kedua maskapai penerbangan tersebut, menyebutkan bahwa masih ada beberapa kendala yang tidak memenuhi standar untuk bisa beroperasi di Bandara Bua, antara lain, stopway, clearway, apron, lineway light, dan beberapa kendala lainnya.

“Saya sampaikan bahwa apa yang dikemukakan itu merupakan kondisi Bandara Bua pada tahun 2014 hingga tahun 2016, namun seluruh kekurangan atau keluhan yang menurut pihak Garuda dan Lion Air saat itu, kini telah kami laksanakan dan terjawab sekarang,” sebutnya.

Lanjut disampaikan bahwa, pemanfaatan Bandara Bua bisa dinikmati oleh tujuh Kabupaten/Kota yang ada di Luwu Raya dan sekitarnya, meliputi Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, Tana Toraja, Toraja Utara, Wajo, Kolaka dan Bombana,” kata Andi Cakka.

“Jumlah penduduk di Luwu Raya sekitar 1 juta lebih, diluar Luwu Timur yang sudah memiliki Bandara milik PT Vale Indonesia, Tbk jumlah penduduk Luwu, Kota Palopo dan Luwu Utara berkisar 800 ribu jiwa lebih, bayangkan akrab Bujika 10 persen saja dari jumlah tersebut berarti 80 ribu jiwa atau 5 persen berarti 40 ribu, itu saya rasa jumlah penumpang yang cukup fantastis ditambah penumpang dari daerah tetangga kami,” ujarnya.

Dengan berfungsinya Bandara Bua ini nantinya secara maksimal dipastikan oleh Opu Wara, sapaan akrab Bupati Luwu, akan sangat berkontribusi terhadap perkembangan di Luwu Raya dan daerah sekitarnya mengingat selama ini waktu tempuh ke Luwu Raya merupakan salah satu pertimbangan insvestor untuk berinvestasi di daerah ini,” pungkas Opu Wara dengan optimis.

Bupati Luwu, H Andi Mudzakkar, pada kesempatan kemarin juga menyinggung soal janji Pemerintah Pusat kepada Pemkab Luwu yang disampaikan oleh mantan Menteri Perhubungan, Fredi Numberi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Baediono.

“Saat itu saya dipanggil Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Pak SYL sapaan akrab Gubernur Sulsel menyampaikan pada saya bahwa Menteri Perhubungan, Fredi Numberi, meminta agar Pemerintah Kabupaten Luwu menyiapkan lahan seluas ±50 hektar karena Dirjen Perhubungan, akan mendirikan Sekolah Penerbangan dimana salah satu titik lokasi pembangunannya di Kabupaten Luwu,” keluh Opu Wara dengan rada curhat.

“Lokasi sudah kami siapkan ±50 hektar dan sudah bersertifikat, namun hingga kini janji Pemerintah Pusat itu belum juga direalisasikan. Hal ini juga menjadi problem saya baik selaku Bupati Luwu maupun secara pribadi, karena lokasi tersebut tinggal terbengkalai, untuk itu saya dan masyarakat di Kabupaten Luwu memohon agar Pak Dirjen dan Ibu Direktur mempertimbangkan kebijakan Menteri Perhubungan sebelumnya untuk direalisasikan,” harap Andi Cakka.

Menanggapi keluhan Bupati Luwu H Andi Mudzakkar, terkait Sekolah Penerbangan itu Direktur Bandara, Yudi Sali Sitompul, menegaskan bahwa mendirikan Sekolah Penerbangan harus memperhatikan safety. “Saya ngak bisa iyakan atau menolak karena ada beberapa syarat yang harus terpenuhi baru bisa membuka sekolah tersebut diantaranya pertama safety, kedua dafety dan ketiga safery,” ujarnya.

Dijelaskan pula bahwa untuk mendirikan Sekolah Penerbangan harus memenuhi persyaratan training area. Dan untuk membuat suatu training area kata Dia harus dievaluasi dulu oleh Dirjen Perhubungan Udara, pungkas Yudi.

“Jadi, nanti Dirjen mengevaluasi dulu apakah ada kemungkinan kelayakan itu, kalau layak baru dibuatkan training areanya karena kebetulan seperti kata Pak Dirjen, pada Desember mendatang di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia yang berada di Curut itu, didalamnya ada beberapa sekolah penerbangan swasta, yang diharuskan keluar, yang boleh didalam hanya tinggal satu yakni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia karena itu milik pemerintah,” ujarnya.

Yudi menambahkan bahwa kalau sudah ada lahan dan sudah layak, pasti oleh Dirjen sudah ngak ada lagi kendala,” kuncinya. (CHA/WM)

No comments:

Post a Comment

.

.