.

.

.

Minggu, 13 November 2016

Antara Peringatan Hari Pahlawan ke- 71 dengan Aksi Bela Islam

Kepala Kesbangpol dan Limnas Kabupaten Luwu H Alim Bachry (kanan), sedang berada di daerah pegunungan Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, saat diwawancarai via akun facebook-nya oleh Redaksi Tabloid SAR, Sabtu (12/11/2016)

H Alim Bachry : Kita Mesti Punya Naluri Kebangsaan untuk Terus Menjaga Kedaulatan NKRI

LUWU, Tabloid SAR – Peringatan Hari Pahlawan ke-71 tahun ini, patut dikatakan sangat spesial. Pasalnya hari bersejarah itu dirayakan di tengah kencangnya sorotan publik terkait issu penistaan agama, seperti yang ditudingkan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Hal itu memicu timbulnya gerakan Aksi Bela Islam dengan berbagai macam bentuk yang melahirkan sejumlah kekhawatiran akan berpotensi dapat menciptakan distorsi kebangsaan.

Sedangkan Hari Pahlawan yang diperingati pada tanggal 10 November 2016 kali ini, tidak semata- mata untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa yang telah mewariskan suatu kemerdekaan sebuah bangsa, negara berdaulat yang disebut Indonesia.

Namun yang tak kalah pentingnya disini, bagaimana seharusnya suatu bangsa memperkuat semangat nasionalisme (jiwa kebangsaan- red) melalui kebersamaan untuk memelihara dan membangun negara ini dalam bingkai “Bhineka Tunggal Ika” agar kelak dapat menjadi sebuah bangsa maritim yang berperadaban tinggi, karena bisa bersatu dalam perbedaan itu.

Kendati Aksi Bela Islam Jilid I (Jumat, 14/10/2016) dan Aksi Bela Islam Jilid II (Jumat, 04/11/2016) berlansung damai. Meskipun pada Aksi Bela Islam Jilid II sempat terjadi kerusuhan, tapi segera dapat dikendalikan oleh pihak aparat keamanan TNI/Polri.

Akan tetapi muncul pula issu- issu, bahwa akan menyusul Aksi Bela Islam Jilid III dan juga disebut-sebut Aksi Bela Al-Qur’an, dimana jadwal kegiatannya belum diketahui secara pasti, apabila hukum dinilai lemah untuk menindak terduga penista agama yang ditudingkan kepada Ahok tersebut.

Sementara menurut pantauan Tabloid SAR, bahwa Aksi Bela Islam di Luwu Raya tidak sehiruk pikuk seperti yang terjadi di daerah-daerah lainnya, terlebih lagi di Jakarta yang justru nampak menurunkan massa hingga mencapai ratusan ribu orang.

Di lain pihak, Upacara Peringatan Hari Pahlawan ke-71 tahun, dilaksanakan dengan penuh hikmad di seantero wilayah NKRI, setidaknya pada setiap kabupaten/kota.

Menyikapi berbagai kekhawatiran atas terjadinya distorsi nilai- nilai kebangsaan, dengan munculnya gerakan Aksi Bela Islam tersebut. Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Lindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Kabupaten Luwu, H Alim Bachry, Sabtu (12/11/2016) menuturkan, semoga saja hal seperti ini tidak terjadi, dengan tetap mengedepankan NKRI adalah harga mati oleh setiap anak bangsa Indonesia.

Kata dia, kita sangat bersyukur sebab warga kita di Luwu ini, tidak terpengaruh dengan gerakan Aksi Bela Islam, sehingga suasana kondusif tetap terjaga dalam memaknai toleransi umat beragama sebagai wujud penghormatan terhadap semangat kebhinekaan.

“Apalagi kita selaku Wija To Luwu adalah pewaris para patriot bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, demi tegaknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang kita cintai ini,” tukasnya.

Lanjutnya menuturkan, bahwa Wija To Luwu merupakan salah satu penyumbang strategis bagi pergerakan revolusi kemerdekaan Indonesia pada masa kolonial. Antara lain Sang Patriot Kahar Muzakkar, walau tidak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional, tapi memiliki jasa yang sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan sewaktu masih berada di Pulau Jawa, baik saat di Jakarta maupun ketika berada di Djokjakarta.

Selain itu, tuturnya lagi adalah Datu Luwu Andi Djemma dan Opu Daeng Risaju yang telah dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional. Masih banyak yang lain seperti Pongsimpin, Andi Tenriadjeng, Landau dan lain-lain sebagainya yang tertulis dalam sejarah lokal.

“Jadi itu semua adalah para patriot kusama bangsa di Tana Luwu yang berjuang mempertahan kemerdekaan Indonesia,” urainya.

Kendati 10 November 1945 yang digerakkan oleh Bung Tomo tersebut, ulas H Alim Bachry lebih lanjut, kemudian dijadikan sebagai tonggak sejarah peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Kata dia lagi, bahwa mereka-mereka pejuang di Tana Luwu yang saya sebut tadi adalah para patriot bangsa melalui revolusi rakyat semesta yang puncaknya pada tanggal 23 Januari 1946.

Lalu ia mejelaskan, jadi melalui peristiwa perlawanan semesata rakyat Luwu terhadap NICA (Netherland Indies Civil Administration) ini, halnya pada peristiwa Masamba Affair.

Pada gilirannya mampu mempengaruhi peta politik dunia pada saat itu, akhirnya menjadi salah satu pijakan bagi Kerajaan Belanda untuk menyerahkan kedaulatan kepada bangsa Indonesia dalam KMB (Konfrensi Meja Bundar) pada tahun 1949 di Den Haaq Belanda.

“Hanya saja peristiwa heroik ini tidak terlalu menonjol dalam sejarah nasional,” ungkapnya.
Sambung H Alim Bachry, jadi mari sesama anak bangsa, menjaga negara yang diwariskan oleh para pejuang pendahulu kita, bagaimana memelihara dan membangunnya dalam bingkai kebhinekaan agar dapat terwujud Indonesia Hebat.

“Karena betapa indahnya damai dalam kebhinekaan, untuk diharapkan mampu mengantarkan Negara Indonesia ini, agar kelak dapat mencapai kegemilangan peradaban,” paparnya.

Saat ditanyakan pendapatnya mengenai tudingan sejumlah Ormas Islam terhadap Ahok yang diduga menista agama terkait Surat Al Maidah 51?

Jawab H Alim Bachry, itu bukan kapasitas saya untuk memberikan pendapat. Alasannya, karena dirinya bukan ahli tafsir Al Qur’an.

“Itukan sudah ditangani oleh pihak Mabes Polri, jadi biarkanlah instrument hukum yang memprosesnya sesuai ketentuan yang berlaku,” tandasnya.

Ketika ditanyakan lagi mengenai pendapatnya atas adanya rencana Aksi Bela Islam Jilid III?

Ia pun kembali berargument, bahwa itu merupakan domain pihak pemerintah pusat. “Apalagi saya ini, hanya pejabat di lingkup Kabupaten Luwu yang membidangi Kantor Kesbangpol dan Linmas, jadi kompetensi saya tidak sampai pada tingkat itu,” akunya merendah.

Meskipun demikian, tutur H Alim Bachry lagi, selaku pejabat pemerintah maka dituntut pula untuk dapat membangun komunikasi massa yang bersifat elegant agar tidak menimbulkan penafsiran beragam yang dapat memicu timbulnya sorotan tajam dari ruang publik.

Ya, bagaimanalah agar sedapat mungkin menghindari statement yang dapat mengundang sensitifas publik. “Itu yang senantiasa saya pedomani, menurut tugas saya dalam memotivasi spirit kebangsaan di tengah- tengah masyarakat Luwu,” ujarnya.

Namun ia pun sangat berharap agar warga Kabupaten Luwu tidak terpovokasi dengan issu-issu Aksi Bela Islam atau apalah namanya. Sambung H Alim Bachry lagi, karena itu hanya dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

“Pesan saya, mari kita saling menjaga toleransi antar umat beragama, demi terus terciptanya rasa aman yang kondusif di Kabupaten Luwu ini,” himbaunya.

Lalu ia sangat mengharapkan agar melalui peringatan Hari Pahlawan Nasional ke-71 ini, supaya dapat menjadi momentum perenungan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan kusuma bangsa.

“Dan dijadikan sebagai ajang untuk melakukan refleksi, serta intropeksi diri, apakah yang telah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia yang sama kita cintai ?” tukasnya penuh harap dengan rada tanya.

Namun yang terpenting lagi disini, tambah dia bahwa bagaimana hal ini agar dapat pula kita jadikan sebagai spirit kebangsaan dalam bingkai kebhinekaan. “Jelasnya bahwa kita mesti punya naluri kebangsaan untuk terus menjaga kedaulatan NKRI,” tandasnya.


“Lalu berkarya bagi pembangunan daerah, sebagai bagian dari kontribusi terhadap kemajuan peradaban bangsa dan negara kita ini,” demikian komentar Kepala Kesbangpol dan Linmas Kabupaten Luwu H Alim Bachry saat diwawancarai Redaksi Tabloid SAR via akun fecebook-nya, yang mengaku saat itu sedang berada di daerah pegunungan Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. (Ories/WM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.