.

.

.

Jumat, 18 November 2016

Bersama di Warung Lesahan Belopa, Berbincang-Berbincang Soal Wacana Politik Cakka

(Dari kanan ke kiri), Pimpinan Redaksi Tabloid SAR William Marthom, Palippi, Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah Rahmat K Fpxchy dan Syamsul, saat berbincang-bincang soal wacana poltik Cakka. 

Penulis :
Ories Foxchy
BELOPA, Tabloid SAR,- Beberapa waktu lalu, Senin siang (10 Oktober 2016), saya bersama William Marthom selaku Pimpinan Redaksi Tabloid SAR dan seorang jurnalis Tabloid SAR, singgah makan di Warung Lesehan yang berlokasi di jalan dua jalur terletak di antara Kantor DPRD Kab Luwu dengan Kantor Camat Belopa Sulawesi Selatan (Sulsel).

Bagi saya, karena Warung Lesehan ini adalah baru, sehingga saya ingin mencoba menu-menu makanannya. Saat saya melihat-lihat saung-saung (saung; pondok, red) yang masih kosong sebagai tempat para tamu ngelesah (duduk, red) sambil menikmati makanan pilihannya, nampak sudah terisi semua.

Seketika itu pula, para tamu yang sedang ngeleseh (duduk), baik yang sedang menikmati menu pilihannya maupun yang masih menunggu pesanan menunya, secara serempak memanggil saya agar duduk di saungnya masing-masing.

Pokoknya saya jadi tersanjung juga, sebab semua tamu yang duduk di saungnya masing-masing, meminta saya agar bergabung. Namun karena saya bertiga, sehingga kami bergabung pada salah satu saung yang hanya diisi dua orang, yakni Palippi dan Syamsul.

Setelah saling sapa menyapa sebentar tentang kondisi masing-masing. Namun ada pula tamu lesehan dari saung sebelah mengatakan, Bang Ories, kenapaki lama sekali baru muncul di Belopa.

“Rindu-rindu juga ki sama kita Bang Ories, nalupami kodong ini Belopa” ujar tamu tersebut dan tak lain salah satu pejabat teras di suatu SKPD Pemkab Luwu, dengan nada yang sangat kental berdialek lokal.

Seusai makan, maka dialogpun berlanjut membahas soal wacana atas dukungan terhadap Cakka, sapaan karip Bupati Luwu tersebut. Pasalnya, mereka meminta pendapat saya tentang peluang Cakka pada Pilkada melalui bursa bakal calon 02 Sulawesi Selatan (Sulsel) 2018.

Lalu saya jawab, bahwa Cakka ini adalah aset politik tidak hanya bagi warga Luwu, tapi untuk seluruh warga se-Luwu Raya adalah mesti mendukung. “Cakka itu gaya blusukan politiknya sangat merakyat, tanpa membedakan agama, suku dan status sosial, maka itulah namanya sosok seorang pemimpin yang bersifat egaliter.

Lanjut saya menuturkan, apalagi Cakka itu tidak mentang-mentang memposisikan jabatannya sebagai pejabat negara (bupati, red). Sama siapasaja, bahkan sama orang tua renta dan anak-anak sekalipun, ia temani bercengkrama. Jadi profil kepemimpinan seperti Cakka itulah, merupakan trand kepemimpinan masa depan bagi pemerintahan demokrasi.

Menurut saya, bahwa tokoh karismatik Abdul Khahar Muzakkar adalah masih menjadi sumber spirit bagi sebagian masyarakat Sulsel. Jika itu yang di-upgrade dalam konteks perpolitikan kekinian, maka bukan tidak mungkin akan menjadi lokomotif politik yang sifatnya berbasis kerakyatan bagi Cakka, untuk menuju suksesi Pilkada Sulsel 2018 nantinya.

Masalahnya sekarang, tutur saya lagi, maukah kita Wija to Luwu dan segenap elemen penduduk yang multi etnis di Tana Luwu ini ingin bersatu. Jika itu yang terjadi, tidak hanya sejarah baru bagi Tana Luwu naik kelas di panggung politik Sulsel, tapi itu justru akan menginspirasi bagi generasi Tana Luwu ke depan, supaya lebih banyak lagi yang tampil berkiprah sebagai stakeholder pada berbagai bidang profesi pada tingkat provinsi bahkan nasional dan go internasional sekalipun.

Papar saya lebih lanjut, soalnya orang Luwu (se-Luwu Raya, red) masih sangat terdiskriminasi pada panggung perpolitikan Sulsel, itu karena orang Luwu sendiri yang mengkerdilkan potensi politik yang dimilikinya.

Ya, menurut saya lagi, kalau Cakka tidak bisa 02 pada ranah Kegubernuran Sulsel. Paling tidak, bagaimanalah kita bersatu, supaya Bupati Luwu dua periode ini dapat menjadi 01 DPRD Sulsel. Itu juga sudah sangat bersejarah bagi Tana Luwu, sebab kursi DPR-RI sudah pasti duduk, tapi itukan sudah tidak lagi menjadi sejarah.

Banyak orang Luwu sukses tapi tidak mengakar, sebab lupa pada keluarganya, sehingga kurang direken saat memasuki ranah panggung politik. Berbeda dengan Cakka adalah memang sangat mengakar di tengah masyarakat, sebab caranya memperlakukan eksistensinya sebagai pejabat, tidak bersifat elitis.

Itu yang sangat saya apresiasi pada diri Opu Wara, nama lain Bupati HA Mudzakkar ini. Kata bahasa daerah tidak “matongko” (sombong, red) dan tidak membuat kita harus bungkuk-bungkuk bersalaman sambil cium tangannya, layaknya seperti mendewakan penguasa atau bangsawan feodal.

Saatnya-lah kita bersatu memberikan dukungan kepada Cakka, agar dapat membawa bendera Wija to Luwu pada panggung kepemimpinan Sulsel. Kapan lagi kalau bukan sekarang, kerana mencari sosok yang bergaya politik seperti Cakka, sepuluh tahun ke depan belum tentu ada yang lahir.

Itulah pendapat saya tentang Bupati Luwu, HA Mudzakkar, saat diminati tanggapan oleh tamu-tamu yang datang makan di warung lesehan di Belopa tempo hari. Sayangnya, cuma saya yang lebih dominan melontarkan pendapat, sementara mereka hanya sekali-sekali menyelah. Itupun, justru ikut membenarkan ungkapan saya, sambil mengangguk-angguk.

William Marthom, tak lain adalah pimpinan Tabloid SAR menambahkan, bahwa apa yang dikatakan Bang Ories ini, merupakan gambaran atas potret gaya perpolitkan pada diri Opu Wara.

“Saya selaku orang Toraja dan beragama Kristen adalah sangat mendukung wacana publik untuk mendorong Cakka pada suksesi kepemimpinan Sulsel pada Pilgub 2018 nanti, harapan dapat terwujud,” tandas William.

Sebenarnya mereka masih ingin berdialog, namun karena sudah ada panggilan melalui handphone. Maka kamipun saling berpamitan untuk menuju pada tujuan masing-masing. Semoga karier politik Bupati Luwu tersebut diridhohi oleh Allah SWT. Amin!!! (RKF)

Cakka, dengan gaya kepemimpinannya yang bersifat low profil, senantiasa pula menampung aspirasi dari rakyatnya, meskipun sudah berumur renta.
Cakka, dengan kepeduliannya membonceng anak-anak sekolah, setiap melakukan kunjungan kerja ke desa-desa. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.