.

.

Rubrik

.

Sabtu, 31 Desember 2016

Antara Aksi GNPF – MUI dengan Natal 2016

Salah satu pemeluk agama Kristen hadir dalam AKSI 212 yang digelar oleh GNPF – MUI, menjadi bukti bahwa Islam Indonesia adalah menjunjung tinggi semangat Kebhinekaan Tunggal Ikaan. 
Wujudkan Semangat Kebhinekaan yang Tunggal Ikaan, Menuju Kejayaan Maritim Indonesia yang Berperadaban Modern

Melalui bulan (Desember) penghujung tahun 2016 ini, maka berbagai peristiwa nasional muncul ke permukaan menjadi perhatian publik, hingga menggaung menembus ranah global.

Misalnya AKSI BELA ISLAM JILID III, dan disebut pula Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF - MUI) yang melibatkan jutaan umat Islam, Jumat (2/12-2016). Termasuk gempa di Aceh Rabu (7/12–2016) yang sangat membawa tragedi bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Namun melalui editorial kali ini, maka yang diulas adalah mengenai topik “Antara Aksi GNPF – MUI dengan Natal 2016" Wujudkan Semangat Kebhinekaan yang Tunggal Ikaan, Menuju Kejayaan Maritim Indonesia yang Berperadaban Modern

Adapun aksi GNPF – MUI atau juga diberi istilah aksi 212, tak lain merupakan rangkaian dari AKSI BELA ISLAM JILID II dan AKSI BELA ISLAM JILID I. Justru sempat membuat panik Presiden Joko Widodo, sehingga membuatnya blusukan untuk menemui sejumlah tokoh–tokoh sentral politik nasional.

Pasalnya, berkembang spekulasi politik bahwa aksi yang melibatkan jutaan massa ini akan berpotensi menimbulkan chaos. Pada gilirannya berujung untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah. Namun pada kenyataannya, justru aksi tersebut berlangsung damai dan sangat mendapat apresiasi dari dunia internasional.

Kendati aksi yang digerakkan oleh jutaan kaum muslimin Nusantara ini, bertujuaan untuk menuntut penista agama (AHOK, red) agar dipenjarakan. Meski pula digelar dengan cara Shalat Jumat di ruang terbuka, akan tetapi rupanya tak sedikit juga umat agama lain ikut berpartisipasi dalam aksi damai tersebut.

Jadi adanya aksi ini, paling tidak mampu mengubah sebagai masyarakat dunia yang selama menilai Islam sebagai agama radikal, sehingga dapat berpandangan positif. Sekaligus mempertegas bahwa Islam merupakan benteng utama bagi tegaknya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bersifat demokratis dalam bingkai semangat kebhinekaan.

Boleh jadi Tuhan Yang Maha Esa, sudah mengatur aksi jutaan umat Islam ini, sehingga digelar pada saat–saat umat Kristiani akan mempersiapkan perayaan Natal, 25 Desember 2016.

Maksudnya, supaya negara yang berwajah kepulauan dan terdiri dari beragam Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) ini, tidak tercabik–cabik oleh kepentingan politik adu domba gaya imperialisme modern.

Apalagi pada 10 Desember 1948, PBB mengadopsi deklarasi universal hak asasi manusia, untuk menghormati dan menciptakan dunia yang bebas dan setara. Maka kesetaraan antara pemeluk agama juga merupakan agenda aksi GNPF – MUI atau aksi 212, bahwa agama apapun yang diakui oleh konstitusi Indonesia tidak boleh dinistakan.

Hal tersebut, bahwa di Bumi Nusantara ini, maka Pancasila adalah azas kehidupan bernegara yang tidak dapat diganggugugat, hanya karena seorang penista agama. Karena kebhinekaan Tunggal Ikaan, sudah merupakan kata kunci untuk dapat membawa Negara Indonesia yang maju, modern dan berperadaban serta berdimensi religius.

Kitapun berharap bahwa meskipun energi bangsa kita sempat terkuras oleh akibat AKSI BELA ISLAM. Akan tetapi hal ini, justru diharapkan untuk dapat menjadi sumber energi positif, demi mendorong terwujudnya kejayaan maritim Indonesia yang berperadaban modern.

Untuk mencapai kearah itu, maka Nawacita tidak harus hanya pada sebatas konsep dan retorika belaka. Namun perlunya aksi nyata pemerintah dalam mendorong agenda–agenda pemberantasan korupsi, agar dapat mengangkat spirit TRISAKTI sebagaimana yang pernah digagas oleh mendiang Presiden Soekarno.

Begitulah ulasan editorial yang disajikan oleh Redaksi Tabloid SAR melalui terbitan edisi kali ini. Jadi mari kita jadikan Indonesia sebagai rumah bersama bebas dari segala bentuk konflik yang sifatnya berbau SAR, sebab apapun bentuk konflik akan senantiasa pula membawa tragedi bagi nilai–nilai kemanusiaan.

Salam dari Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.