.

.

Rubrik

.

Minggu, 11 Desember 2016

Bangsa Indonesia Jangan Sampai Menjadi Sebuah Negara Gagal

Islam Nusantara Diharapkan Menjadi Inspirator Bagi Masa Depan Peradaban Dunia

Tampak Aski Bela Islam pada tanggal 4 November 2016.
Ketatnya pertarungan global di era modern sekarang ini, lagi-lagi dimenangkan oleh peradaban barat melalui gaya ekspansi kapitalismenya. Itu karena mereka (barat, red) menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat canggih.

Padahal Islam pada awalnya adalah pelopor bagi perkembangan ilmu pengetahuan di barat, sebagaimana yang pernah mencapai kejayaannya di Cordoba-Spanyol. Itu karena Al-Qur’an pada zamannya adalah memang dijadikan sebagai sumber kajian atas segala bentuk penemuan ilmu pengetahuan.

Ironisnya di era global sekarang ini, di mana peradaban Islam tidak hanya mengalami ketertinggalan pada bidang penguasaan Iptek. Akan tetapi sejumlah negara Islam justru mengalami kegagalan, akibat pertarungan kepentingan politik ekonomi korporasi multinasional yang dikendalikan oleh kekuatan kapitalisme barat.

Hebatnya lagi, China yang sangat dikenal sebagai negara beridiologi komunis, namun menyusul mampu melahirkan petarung-petarung dalam merebut sebuah kekuatan ekonomi baru yang semakin berskala global dan kerap disebut dengan istilah “taipan” atau konglomerat yang sifatnya berskala korporasi multinasional.

Jadi apa yang dipresentasikan oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo dalam program acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa malam (08 November 2016) adalah merupakan sebuah analisa yang sangat dapat diterima secara logika (bersifat ilmiah, red).

Beliau sekelumit menggambarkan tentang pertarungan kapitalisme global terhadap pengusaan energi. Hal tersebut menjadi penyebab gagalnya sejumlah negara di Timur Tengah, akibat tidak bersatunya umat Islam pada belahan dunia itu sendiri. Terlebih adanya ISIS yang semakin menjadi sumber kekacauan terhadap Islam pada negara-negara di Timur Tengah tersebut.

Sedangkan Indonesia adalah sebuah negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia, disebut-sebut oleh Panglima TNI akan selanjutnya menjadi sasaran, apabila umat Islam di Indonesia ini tidak bersatu. Lalu beliau menjelaskan tentang posisi kekuatan militer Amerika Serikat di Darwin Australia dan sengketa pada Zona Eksklusif Ekonomi di Laut China Selatan.

Pasalnya, Indonesia yang memiliki sumber daya mineral dan energi yang sangat melimpah, merupakan incaran dari berbagai kekuatan ekonomi global, baik itu dari kaum kapitalis barat maupun dari kalangan taipan-taipan China.

Maka berbagai cara untuk meruntuhkan moral tentang semangat kebangsaan terhadap generasi anak-anak negeri, antara lain adalah diperdaya melalui jaringan Narkoba internasional, menyusupkan paham-paham terorisme dan mengkristalkan jaringan radikalisme ISIS.

Pada gilirannya akan mengadu domba umat Islam agar terjebak dalam perang saudara, supaya Bangsa Indonesia menjadi sebuah negara gagal. Hal tersebut, sehingga sumber daya mineral dan energi di alam Nusantara ini, akhirnya semakin dikuasai oleh kepentingan korporasi yang dikendalikan melalui kekuatan-kekuatan ekonomi global.

Jadi umat Islam selaku aset kekuatan paling terbesar di negara kita ini, tentunya sangat diharapkan untuk menjadi terdepan dalam memotivasi spirit kebangsaan dalam bingkai semangat kebhinekaan. Sekaligus diharapkan pula supaya dapat menjadi pilar terhadap kemajuan demokrasi, untuk membawa kegemilangan bagi masa depan peradaban Indonesia.

Kita pun patut bersyukur, bahwa pada aksi bela Islam, Jumat (4/11-2016) tersebut, ternyata ada juga tokoh-tokoh agama lain dan warga keturunan China ambil bagian dalam aksi demonstrasi, terkait kasus dugaan penistaan agama yang ditudingkan terlapor AHOK tersebut. Bahkan justru melakukan aksi simpatik untuk memberikan rasa aman pada pasangan pernikahan di Gereja Katedral yang bersebelahan dengan Masjid Istiqlal.

Hal ini menandakan bahwa betapa kuatnya toleransi antar umat beragama yang tercipta dalam aksi bela Islam ini. Sekaligus membutikan bahwa Islam Nusantara telah mampu memaknai demokrasi secara cerdas dalam melindungi pemeluk agama minoritas. Maka itulah sesungguhnya makna Islam sebagai agama bagi Rahmatulilalamin ditinjau dari sudut pandang nilai-nilai universal.

Tantangannya sekarang, bahwa bagaimana Islam Nusantara ini dapat diharapkan menjadi inspirator bagi masa depan peradaban dunia. Tentunya tak lain adalah mempersiapkan generasi anak-anak negeri agar dapat menguasai Iptek yang dilandasi oleh semangat kehidupan iman dan taqwa (Imtaq), dengan senantiasa pula menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal yang sudah menjadi warisan kebhinekaan budaya dan adat istiadat bangsa.

Demikianlah ulasan editorial Tabloid SAR melalui terbitan edisi ini, bahwa betapa indahnya damai dalam kebhinekaan untuk diharapkan mampu mengantarkan Negara Indonesia, agar kelak dapat mencapai kegemilangan peradaban.

Karena itulah memang cita-cita para pahlawan kusuma bangsa yang telah rela mengorbankan jiwa dan harta bendanya, semata hanya demi mewariskan kepada kita sebuah negara yang disebut Indonesia ini.

Untuk itu selamat Hari Pahlawan ke-71, semoga Indonesia melalui agenda Nawacita yang dicanangkan oleh Presiden Jokowidodo tersebut, kiranya dapat membawa perubahan yang lebih baik bagi kemaslahatan hidup rakyat.

Salam dari Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.