.

.

Rubrik

.

Jumat, 30 Desember 2016

Bupati Wajo Hadiri Peringatan Hari Ibu Tahun 2016

 
Bupati Wajo Drs. Andi Burhanuddin Unru, MM (kiri) mendampingi Istrinya yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Wajo Hj. Andi Faikah Burhanuddin (kanan) saat meniup lilin perayaan Hari Ibu ke 88 Tahun 2016 di Gedung Johar Sengkang, Rabu (28/12/2016).


Andi Burhanuddin Unru : Dalam Perjuangannya, Kaum Perempuan Harus Tetap Menjunjung Tinggi Filosopi 3 S


WAJO, Tabloid SAR- Bupati Wajo Andi Burhanuddin Unru, menghadiri peringatan Hari Ibu ke 88 tahun 2016 tingkat Kabupaten Wajo yang diselenggarakan di Gedung Johar Sengkang, Rabu (28/12/2016).

Dalam kegiatan tersebut, Andi Burhanuddin ketika membawakan sambutannya selaku Kepala Daerah Kabupaten Wajo, mengatakan bahwa kaum Hawa dalam memperjuangkan kesetaraannya dengan kaum Adam, secara umum melalui beberapa fase.

“Perjuangan kesetaraan gender oleh kaum perempuan, melalui beberapa fase, yakni fase perjuangan pada zaman kerajaan, zaman penjajahan, zaman kemerdekaan, dan fase moderen saat ini,” ujar Andi Burhanuddin.

Kendati demikian, perjuangan kaum Ibu dalam menghadapi beberapa fase itu, yang tak kala pentingnya dan amat berat adalah fase modern. Karena pada fase modern kaum perempuan menghadapi kemajuan teknologi yang sangat signifkan, serta persaingan global, sebutnya.

Pada kesempatan itu, Bupati dua periode memimpin daerah berjuluk Bumi Lamaddukelleng tersebut, mengingatkan kaum Ibu agar senantiasa menjunjung tinggi filosopi 3 S dalam perjuangannya, yakni Sipakatau, Sipakallebbi, dan Sipakainge.

“Sebagai orang Wajo kita dituntut untuk senantiasa menjunjung tinggi filosopi 3 S dalam setiap langkah kehidupan kita. Termasuk dalam situasi berjuang sekalipun, karena para leluhur kita, sejak zaman dahulu dalam perjuangannya sudah menerapkan filosopi 3 S,” jelas Andi Burhanuddin.

Ia menambahkan bahwa filosapi 3 S sudah ada sejak zaman Kerajaan Batara Wajo, yang mana pada saat itu kesamaan hak perempuan dengan laki-laki sudah diterapkan.

“Itu terbukti ketika Kerajaan Batara Wajo dipimpin seorang perempuan dan diberikan hak untuk memerintah, tanpa ada rasa diskriminasi sedikitpun karena persoalan gender,” terangnya.

Orang nomor satu di Kabupaten Wajo itu, juga menegaskan bahwa filosopi 3 S perlu diterapkan dalam membina hubungan antar sesama, sehingga keharmonisan dan saling menghargai satu sama lain dapat terbangun dalam lingkungan kehidupan kita, termasuk dalam membina kehidupan berumah tangga, tandasnya.  

Kegiatan tersebut dihadiri oleh para Pengurus Dharma Wanita dan Tim Penggerak PKK se Kabupaten Wajo. (Jeni/WM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.