.

.

.

Senin, 12 Desember 2016

Kahar Muzakkar, Pahlawan Nasional yang Terlupakan

   
Kahar Muzakkar
Luwu, Tabloid SAR - Kahar Muzakkar pada sampul buku berjudul “Abdul Qahhar Mudzakkar dari Patriot Hingga Pemberontak” karya Anhar Gonggong, sebagaimana yang dikutip dari pemberitaan Informasiterkini.com.

Lanjut Informasiterikin.com merilis bahwa Kahar Muzakkar adalah salah satu figure Kharismatik di Sulawesi Selatan (Sulsel) ini, luput dari perhatian pemerintah. Bahkan nama jalan dengan nama beliaupun, tidak pernah ditemukan.

Kalau kita mendengar nama Kahar Muzakkar, tentunya orang akan teringat dengan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di era tahun 50-an di wilayah Sulawesi.

Nama tersebut begitu melekat dalam ingatan orang tua kita. Banyak kisah telah ditulis mengenai sang overste (Letkol Kahar) baik mengenai kepatriotan hingga pembangkangannya yang berujung kepada pemberontakannya terhadap pemerintah Soekarno kala itu.

Lalu Siapa Kahar Muzakkar?

Kahar Muzakkar pada masa kecilnya disebut Ladomeng, lahir di Lanipa, Kabupaten Luwu, Sulsel, 24 Maret 1921. Kemudian disebut-sebut meninggal di Sungai Lasolo, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra), 3 Februari 1965 pada umur 43 tahun. Ayahnya bernama Malinrang.

Semasa kecilnya, Kahar Muzakkar sangat gemar bermain perang-perangan dan dikenal pandai bermain domino. Karena itu, maka ia dijuluki dengan sebutan “La Domeng” dari bahasa Bugis yang artinya tukang main domino.

Setelah tamat sekolah rakyat pada 1938, lalu dia dikirim orangtuanya melanjutkan sekolah ke Solo dan masuk Sekolah Kweekschool (Mualimin) Muhammadiyah. Namun, Kahar tak berhasil menamatkan sekolahnya di Solo.

Setelah memperistri Siti Walinah, seorang gadis Solo, kemudian ia kembali ke kampung halamannya pada tahun 1941 di Luwu. lalu sempat bekerja di sebuah instansi Jepang, Nippon Dahopo.

Hanya saja ia memiliki sikap anti feodalisme dan anti penjajahan yang terlalu kental dalam dirinya. Akibatnya, ia tak hanya dibenci Jepang tapi juga tidak disukai oleh kalangan Istana Kerajaan Luwu.

Apalagi Kahar Muzakkar melakukan pemberontakan terhadap kepala-kepala adat setempat. Alasannya, karena dia membenci sistem feodal yang berlaku di Sulsel, sehingga ia difitnah dengan tuduhan mencuri.

Akhirnya kerajaan Luwu pun menghukumnya dengan hukum adat, dimana hukuman yang diterimanya terhitung sangat berat, yakni diganjar vonis ri paoppangi tana, yaitu hukuman yang mengharuskannya keluar dari tanah kelahirannya di Luwu.

Maka, untuk kedua kalinya, pada Mei 1943, kembali ia meninggalkan kampung halamannya, balik ke Solo dan mendirikan toko Usaha Semangat Muda. Beberapa lama setelah itu, akhirnya ia menceraikan Siti Walinah.

Kemudian dirinya mempersunting peranakan noni Belanda bernama Corry van Stenus yang berasal dari keluarga yang cukup terkemuka. Adapun ayahnya istri Indo-Belandanya ini, bernama Adnan Bernard van Stenus. Sedangkan ibunya bernama Supinah, berasal dari Solo.

Menurut ceritanya, bahwa Kahar Muzakkar beberapa kali menikah dan secara keseluruhan, tercatat memiliki sembilan istri dan 15 anak. Di kampung halamannya sendiri ia diketahui beristri tiga kali.

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Kahar Muzakkar memutuskan hijrah ke Jakarta. Di Ibukota, dia lalu mendirikan Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi. Kemudian menjadi Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi.

Di Jakarta pula dirinya membuktikan keberaniannya. Pada rapat raksasa di Lapangan Ikada, 19 September 1945, ia pun ikut mengawal Soekarno dan Muhammad Hatta. Kabarnya, Presiden Sukarno tidak merasa tenang jika tidak ada Kahar Muzakkar.

Apa yang Ia Dilakukan untuk NKRI?

Kahar Muzakkar adalah seorang figur karismatik dan legendaris dari tanah Luwu. Ia adalah seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terakhir berpangkat Letnan Kolonel atau Overste pada masa itu.

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta didesak untuk berpidato di Lapangan Ikada (19 September 1945), tidak banyak orang yang berani berdiri di depan mobil. Tapi, Kahar Muzakkar termasuk segelintir pemuda yang nekat melepaskan dua tokoh itu dari kepungan bayonet tentara Jepang.

Maka dengan sangat beraninya dia mengacung-acungkan golok untuk mendesak mundur pasukan Jepang yang bersenjatakan bayonet, saat itu sudah mengepung kedua proklamator tersebut.

Selain itu, Kahar Muzakkar juga melakukan aksi patriot Kahar, pada bulan Desember 1945 untuk membebaskan 800 tahanan di Nusakambangan. Kemudian ia menjadi laskar andalan di bawah Badan Penyelidik Khusus atau semacam badan intelijen di bawah pimpinan Kolonel Zulkifli Lubis.

Kahar Muzakkar juga mengikuti berbagai pertempuran penting, untuk mempertahankan kemerdekaan. Jadi tak mengherankan, apabila karier militernya di Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) adalah makin menanjak.

Ketika terjadi serangan umum pada, 1 Maret 1946, Kahar Muzakkar bersama laskarnya berdiri paling depan. Mereka mampu menguasai Yogyakarta selama enam jam. Sayangnya distorsi sejarah, justru mengangung-agungkan Soeharto pada peristiwa agresi Belanda II saat itu.

Setelah itu, maka Kahar Muzakkar pun, akhirnya dipercaya menjadi Komandan Persiapan Tentara Republik Indonesia-Sulawesi. Ia pun menjadi orang Bugis-Makassar pertama yang berpangkat letnan kolonel (Letkol).

Pada 1952, setelah berhasil menumpas pemberontakan Andi Aziz di Sulsel, maka ia pun menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulsel (KGSS) menjadi formasi resimennya.

Lalu Mengapa “Dia” Disebut Pemberontak?

Nampaknya, keinginannya untuk memasukkan 10 batalyon pasukannya ke dalam APRI, untuk selanjutnya disebut Brigade Hasanuddin. Namun ditolak mentah-mentah oleh Kolonel AE Kawilarang, selaku Panglima Wirabuana pada saat itu

Jadi dari sinilah, rupanya menjadi babak baru sejarah kontroversial dalam mewarnai perjuangan sang patriot seorang Kahar Muzakkar. Akibat kekecewaannya yang begitu besar, kemudian ia meletakkan pangkat Letkolnya di depan Kawilarang.

Oleh sejarawan Universitas Indonesia, Anhar Gonggong, mengatakan bahwa hal tersebut membuat Kahar Muzakkar merasa gagal mengembalikan harga dirinya sebagai orang Bugis-Makassar.

Selain itu, ia pun tidak menyetujui kebijaksanaan pemerintahan Presiden Soekarno pada masanya yang berkeinginan membangun pemerintahan berideologi NASAKOM (Lebih detail tentang nasakom, cek omGoogle.com ).

Pada gilirannya, dia berbalik menentang pemerintah pusat dengan cara mengangkat senjata. Akibatnya, ia dinyatakan oleh pemerintah pusat sebagai pembangkang dan pemberontak.

Menurut Anhar Gongong, bahwa Kahar Muzakkar berikut KGSS lalu memutuskan bergabung dengan gerakan DI/TII Kartosoewirjo, pada tanggal 20 Agustus 1952 dan bergerilya di hutan-hutan Pulau Sulawesi.

Namun pada tanggal 7 Agustus 1953, lantas memproklamirkan Sulawesi Selatan menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia (NII). Kahar sendiri diangkat menjadi Panglima Divisi IV TII.

Kata Anhar Gonggong lagi, pada awal kemerdekaan 1945 hingga 1950, Kahar Muzakkar adalah patriot pembela bangsa. Setelah tahun 1952 dia menjadi pemberontak. Memang ada jasa Kahar Muzakkar untuk bangsa ini.

“Namun itu semua terhapus, karena pemberontakannya terhadap Negara Republik Indonesia, ” kata Anhar Gonggong, sebagaimana yang dirilis Sindonews.

Rupanya Kahar Muzakkar tidak selamanya setuju dengan paham Kartosoewirjo yang menginginkan Indonesia menjadi negara kesatuan di bawah payung Islam.

Ia justru cenderung menginginkan Indonesia sebagai negara federal, sehingga asas Islam tak perlu diterapkan di seluruh wilayah negara. Antiklimaksnya, maka ia memecahkan diri dari Kartosoewirjo, lalu mendirikan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) di Sulsel.

Sebagai pemimpin RPII, Kahar Muzakkar bersumpah untuk bertindak tegas, radikal, dan revolusioner, dengan konsep negara yang berbentuk federal Islam dan mengusung sistem pemerintahan demokrasi sejati.

Dalam pandangannya, pemerintahan tersebut berbentuk presidensial dengan presiden sebagai kepala Negara, dibantu oleh menteri-menteri yang dipilih langsung oleh rakyat.

Selama di hutan melakukan perlawanan, Kahar Muzakkar banyak mengislamkan masyarakat di sekitar pegunungan Latimojong, saat itu masih banyak belum mengenal Islam.

Meskipun di tengah melakukan perlawanan bersenjata secara bergerilya dalam hutan. Akan tetapi Kahar Muzakkar tidak ingin masyarakat menjadi ketinggalan pendidikan, sehingga mewajibkan semua penduduk untuk bisa membaca latin dan Arab.

Perjuangan Kahar Muzakkar berakhir dalam Operasi Tumpas TNI dan dinyatakan tewas ditembak mati oleh Anggota Batalyon Kujang 330/Siliwangi, pada 3 Februari 1965 di tepi Sungai Lasalo, Kolaka Utara Sultra.

Pertanyaannya, Benarkah Dirinya telah Wafat?

Ada banyak cerita mistik di balik misteri tentang sejarah hidup Kahar Muzakkar, antara lain disebut-sebut dapat menghilang dan dikenal sangat kebal peluru atau benda tajam. Hal mengenai kematiannya, pun masih menjadi kontroversi hingga saat ini.

Sedangkan tokoh sentral yang dapat menjadi saksi kunci di balik kematian sang patriot asal Tana Luwu ini adalah Jenderal Yusuf. Hanya saja mantan Panglima ABRI yang satu ini, lebih memilih bungkam hingga akhir hayatnya.

Salah satu gerilyawan tak lain adalah juru masak Kahar Muzakkar yang tidak mau disebut identitasnya berkata, selama di hutan ia mengaku tidak pernah melihat ada wajah ketakutan pada Kahar Muzakkar.

Bahkan ketika ditanyakan, bahwa apa memang waktu penyergapan di hutan Lasolo, Kahar Muzakkar bersama pasukannya sudah meninggal?

Gerilyawan mantan tukang masak ini hanya tersenyum lalu berkata “siapa yang bilang itu yang kau tanya nak”

Kemudian mantan tukang masak tersebut ditanya lagi, bahwa menurut info pada saat akan ada penyergapan, apa kita ada didalam hutan bersama beliau (Kahar Muzakkar, re)?

Masih dengan senyum yang sama hanya ia berkata ketawa sembari dia berkata dalam bahasa daerah, he....he.....he...... masaina sisola tapi taena deng na palonana toi sanjata, nakua mannasu bammiki, appa iyyate tannia perang, akenna dengna jioto sola Kahar Muzakkar wattu iyato, nah mate dukamo kapang..

Pesanku nak, ujarnya lagi, magguru maballoko dengsia mangka tu na caritangko to pabarani na tau luwu tu carita tonganna.

Artinya, saya lama di hutan sama namun beliau (Kahar Muzakkar, red) melarang saya angkat senjata, hanya menyuruh jadi juru masak karena menurut beliau, ini bukan perang, jika saya ada di hutan bersama Pak Kahar Muzakkar waktu itu, mungkin saya juga sudah mati*).

Lanjut arti ucapannya, pesanku nak bahwa rajinlah belajar, suatu saat nanti akan ada orang pintar atau pemberaninya Luwu yang akan bercerita tentang kebenarannya*).

Jadi terlepas dari adanya kontoversi atas kematian Kahar Muzakkar yang masih sangat bersifat misterius tersebut. Namun jelasnya bahwa, eksitensi dirinya sebagai patriot atau to barani telah menjadi legenda tersendiri di tengah sebagian masyarakat Sulsel, khususnya di Tana Luwu ini.

Hal lain sebagai bukti adanya kecintaan rakyat Sulsel terhadap Kahar Muzakkar dan keluarganya, pun juga tak terbantahkan. Buktinya, maka dari sejumlah anak-anaknya telah menjadi atau pernah menjadi pemimpin di daerahnya dan wakil rakyat terhormat.

Misalnya, Andi Mudzakkar menjadi Bupati Luwu dua periode, Anaknya Abdul Aziz Kahar merupakan anggota DPD RI dua periode, Buhari Kahar Mudzakkar pernah menjadi anggota DPR Sulsel dan salah satu perempuan pernah pula menjadi anggota DPRD Kabupaten Luwu.

Begitulah tentang sekelumit sejarah singkat Sang Patriot Tak Bermahkota, Kahar Muzakkar adalah seorang Pahlawan Nasional yang Terlupakan, sebagaimana yang dirilis oleh Informasiterikin.com dan diedit ulang oleh Redaksi Tabloid SAR tanpa mengubah subtansi beritanya. (Rd/Infoterkini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.