.

.

Rubrik

.

Senin, 12 Desember 2016

Masyarakat Keluhkan Raskin yang Tak Layak Konsumsi

Di Toraja Malah Justru Dijadikan Makanan Babi. “Bulog” Jangan Sampai Bunuh Rakyat Miskin

Sampel Raskin yang tak layak konsumsi yang didapat wartawan di rumah Maria Tayong. (Foto : Kareba Toraya).
TORAJA, Tabloid SAR — Malang nian nasib yang dialami seorang janda bernama Maria Tayong beranak enam ini. Janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu tersebut, diketahui berdomisili Kelurahan Pantan, Kecamatan Makale, Tana Toraja Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sebagaimana yang dikutip dari laman berita Kareba Toraya, bahwa Maria Tayong untuk menghidupi enam  anaknya, Maria harus membeli beras untuk masyarakat miskin (Raskin) yang dieli dengan harga Rp27 ribu per sak.

Sialnya, Raskin yang dia beli di kantor kelurahan itu sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Warna beras kekuning-kuningan dan berulat. Banyak kutu, batu-batu kecil, juga banyak sekam dan gabahnya.

“Terpaksa kami tidak makan, karena beras seperti ini,” kata Maria sambil menunjukkan beras Raskin yang dibelinya kepada wartawan. Dia mengaku, beras itu terpaksa diberikan kepada babi sebagai pakan.

“Tetapi tetap saya cuci dulu sebelum kasi babi, karena pernah saya kasi makan ayam, na mati itu ayamnya,” urai Maria. Maria, yang juga menderita penyakit gondok ini, mengaku bukan bulan ini saja dirinya mendapatkan beras dengan kondisi tidak layak konsumsi seperti ini. Tetapi sudah berulang kali.

Dia berharap, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja memberikan perhatian terhadap kondisi Raskin ini, supaya ke depan tidak ada kejadian seperti ini lagi. Terus, warga lain tidak mengalami nasib yang sama dengan dirinya.

Selain di rumah Maria, raskin yang tidak layak konsumsi juga didapatkan di kantor Kelurahan Pantan. Dari empat sak beras yang belum tersalurkan, satu diantaranya dalam kondisi rusak dan tak layak konsumsi.

Sementara itu, pihak Kelurahan Pantan membantah menjual beras Raskin dengan harga Rp27 ribu per sak. Mereka mengaku menjual dengan harga Rp24 ribu per sak.

Menyikapi hal ini, maka kalangan aktivis pun meminta Bulog supaya tidak lagi menyalurkan Raskin yang tak layak konsumsi, terlebih berpotensi dapat menjadi racun untuk membunuh bagi warga penerima manfaat.

“Jika benar yang dikemukakan oleh seorang janda bernama Marya Tayong itu, bahwa ayamnya mati akibat makan Raskin. Maka apa Bulog sebagai stakeholder terhadap pengadaan Rakin, justru juga akan membunuh manusia,” tutur Direktur Eksekutif Pembela Arus Bawah, Rahmat K. Foxchy.

Ini tidak boleh terjadi, lanjut aktivis yang akrab disapa Bang Ories ini, karena negara harus menjamin keselamatan masyarakat miskin dalam mengkonsumsi Raskin. “Bulog jangan sampai membunuh rakyat miskin akibat menyalurkan Raskin yang diduga sudah beracun,” ujarnya dengan nada ketus.

Lalu aktivis yang dikenal vokal menyoroti kasus-kasus korupsi ini, mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Tana Toraja agar memperketat pengawasan penyaluran Raskin kepada warganya. “Masa iyah, masyarakat diberikan Raskin untuk makanan binatang pun tidak layak,” tandas Bang Ories.

Menurutnya, hal seperti ini mesti diusut oleh aparat penegak hukum baik Kejari maupun Polres Tana Toraja, demi melindungi warga miskin dari kwalitas Raskin yang sangat buruk seperti itu. “Kita sangat berharap agar aparat penegak hukum di Toraja segera mengusut kasus ini,” tegas Bang Ories.

Itu tidak boleh dibiarkan, tambah bang Ories, sebab tidaknya hanya sebatas mengusut pada dugaan potensi timbulkan korupsi. “Namun terpenting lagi disini adalah melindungi warga miskin dari kemungkinan akan berpotensi keracunan Raskin yang jauh dari layak konsumsi,” pungkas tokoh kunci Aktivis Pembela Arus Bawah ini. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.