.

.

.

Senin, 12 Desember 2016

Peringati Hari Pahlawan ke-71

Mengenang Kahar Muzakkar, Sang Patriot Bangsa Tak Bermahkota

Saat Presiden Soekarno berpidato pada rapat raksasa (19 Desember 1945) di Lapangan Ikada (sekarang, Lapangan Benteng) Jakarta dikawal oleh Kahar Muzakkar, sang patriot dari Tana Luwu.

 Rahmat K Foxchy
Oleh : Rahmat K Foxchy

Kahar Mudzakkar, orang-orang juga menyebutnya Abdul Qahhar Mudzakkar, merupakan salah satu lelaki dari Bumi Sawerigading (Tana Luwu, red) yang meneruskan tradisi to barani (pemberani, red) yang dititipkan Tuhan untuk menegakkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

Kahar Mudzakkar sangat pantas mendapat satu tempat terpuji di hati bangsa ini, sebab dia adalah seorang patriot bangsa dan negara asal Sulawesi Selatan (Sulsel) pada era revolusi kemerdekaan. Namun dalam perjalanan sejarah hidupnya, justru menjadi kontroversi, terlebih dipandang sebagai pemberontak oleh pemerintah pusat pada era orde baru.

Olehnya itu, melalui peringatan Hari Pahlawan ke-71 ini, maka saya mencoba mengangkat opini berjudul “Mengenang Kahar Muzakkar, Sang Patriot Bangsa Tak Bermahkota” ini, tak lain untuk mengenang jasa-jasa kepahlawanan seorang tokoh kharismatik, sekaligus sebagai anak emas Presiden Soekarno tersebut.

Sehingga dikatakan sebagai “Sang Patriot Bangsa Tak Bermahkota,” sebab salah satu pahlawan revolusi kemerdekaan yang sangat memfenomenal pada zamannya, tapi tidak dianugerahi dengan gelar “Pahlawan Nasional” oleh pemerintah pusat.

Adapun mengenai sekelumit sejarah Kahar Muzakkar ini, maka dapat pula dibaca pada rubrik “Special Edition News” pada halaman 05, berjudul “Kahar Muzakkar, Pahlawan Nasional yang Terlupakan” sebagaimana yang telah dirilis oleh Informasi terkini.com. Hal ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan bagi kita semua.

*****

Andaikan tidak ada Kahar Muzakkar yang pernah lahir di Tana Luwu ini, maka mungkin sejarah Indonesia akan berkata lain. Pasalnya, dia adalah salah satu dari sedikit pejuang Indonesia yang berjiwa patriot yang sangat disegani tentara Jepang pada era revolusi kemerdekaan.

Bahkan Soekarno pun tak ingin berpidato untuk membakar semangat kemerdekaan bangsa dan negara, jika tidak ada Kahar Muzakkar yang mengawalnya. Namun putra Luwu kelahiran 24 Maret 1921 ini disebut pahlawan yang terlupakan?

71 tahun sudah peringatan Hari Pahlawan yang diperingati pada tanggal 10 November 2016. Pasalnya pada setiap tahun pada tanggal tersebut, dirayakan sebagai tonggak bersejarah bagi peringatan hari pahlawan.

Maksudnya untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan kusuma bangsa yang telah rela mengorbankan jiwa raga dan harta bendanya, hanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan NKRI, sebagaimana yang diproklamasikan 71 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kita selaku generasi anak-anak bangsa, pada umumnya hanya mengenal para pahlawan nasional melalui pelajaran sejarah yang disajikan oleh guru-guru di sekolah. Tentunya kita telah banyak tahu, bahwa siapa-siapa saja pahlawan nasional tersebut, lalu apa saja jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara yang disebut Indonesia ini.

Sementara bagi kita selaku generasi belakangan, khususnya yang masih berusia belia atau remaja pada era rezim orde baru. Namun justru yang dibangun oleh rezim melalui materi pelajaran sejarah di sekolah, bahwa Kahar Muzakkar adalah sosok pemberontak terhadap negara.

Ya, itulah stigma yang sifatnya berkonotasi jelek yang salalu dipropagandakan di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD hingga pada tingkat SMA/SMK (SMEA, red) selama 32 tahun era rezim pemerintahan orde baru.

Namun setelah mewawancarai sejumlah istri dan anak-anak korban pembunuhan pasukan Darul Islam/Tentara Islam (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar, justru beberapa diantara mereka justru mengatakan bahwa putra kelahiran Lanipa tersebut adalah seorang pahlawan.

“Itu sudah resiko yang terjadi pada saat suasana perang, jadi semestinya ada yang korban,” ujar Om Amiruddin Tende yang ayahnya dibunuh secara tragis oleh pasukan DI/TII di Bolu Bastem, Kabupaten Luwu. Senada pula dengan korban-korban penembakan pasukan DI/TII lainnya.

Om Amiruddin ini adalah juga sepupu satu kali Puang Hji Mama saya (Hj Syamsia Puang Sanggalangi), sebab ayahnya yang dibunuh secara tragis tersebut adalah bersaudara kandung dengan Ayah dari Puang Hj Mama saya sendiri, dengan kata lain adalah saudara kakek saya langsung.

Sangat sukar memang menerima adanya argumen seperti ini menurut nalar logika. Tapi itulah ungkapan Om saya dan beberapa keluarga korban perang DI/TII lainnya pada zamannya.

Hanya saja rezim pemerintahan orde baru telah menjustifikasi Kahar Muzakkar sebagai pemberontak, seperti yang diajarkan dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Akan tetapi pada kenyataannya tidak sedikit pula masyarakat, khususnya di Sulsel ini yang tetap menganggapnya sebagai pahlawan.

Bahkan dari kalangan keluarga yang telah menjadi korban pasukan DI/TII sekalipun, masih saja menghormatinya sebagai seorang pahlawan. Itu karena Kahar Mudzakkar adalah sosok yang sangat kharismatik dan salah satu pilar pejuang bagi tegaknya kemerdekaan NKRI.

*****

Apabila mendengar kisah-kisah sejarah tentang ketokohan dan jiwa patriotisme seorang Kahar Muzakkar, sebagaimana yang diceritakan dari berbagai sumber. Kita seolah disajikan tentang kisah-kisah cerita, tak ubahnya semacam kisah-kisah legenda.

Mulai saat dirinya masih bayi layaknya seperti cerita mitos. Hingga menjadi patriot dalam mempertahankan kemerdekaan, serta kisah-kisahnya kedekatannya dengan sang proklamator (Presiden Soekarno, red) dan kematiannya.

Patut dikatakan bahwa sejarah perjalanan hidup seorang Kahar Muzakkar ini adalah hampir menyerupai mitologi tentang legenda Sawerigading yang sarat bermuatan mistik dan penuh misteri. Hanya bedanya, jika Kahar Muzakkar adalah sebuah fakta sejarah, sedangkan Sawerigading adalah sebuah cerita mitos.

Namun ada persamaan keduanya, jika Sawerigading dijatuhi sanksi hukum adat dengan vonis ri paoppangi tana (maksudnya, diharuskan keluar dari Kerajaan Luwu) akibat melanggar norma-norma moral dalam masyarakat. Maka demikian juga halnya Kahar Muzakkar, pun vonis ri paoppangi tana akibat melawan tradisi feodalisme yang berlaku di Kerajaan Luwu.

Kendati demikian, keduanya sama-sama mengibarkan kebesaran tentang semangat patriotismenya terhadap bangsanya, meskipun masing-masing berada pada perspektif zaman yang sangat jauh berbeda. Kematiannya pun, keduanya sama-sama diselimuti oleh misteri kegelapan.

Akan tetapi terlepas daripada itu, bahwa penantangan Kahar Muzakkar, sehingga lebih memilih menggerakkan perlawanan bersenjata melalui DI/TII. Itu karena bukan untuk memberontak terhadap negara, tetapi justru melawan ketidak-adilan kekuasaan pada zamannya.

*****

Ada pula sejumlah sumber cerita bahkan Presiden Soekarno, rupanya pula berkali-kali telah memanggilnya kembali ke Jakarta, dengan sebutan “ananda”. Akibat manuver politik Presiden Pertama tersebut, rupanya lebih condong mengarah ke kiri-kirian (berpaham komunisme).

Pada gilirannya, dirinya tetap saja memilih bersama pasukannya untuk terus bergerilya dari hutan ke hutan, di tengah memperjuangkan berdirinya Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) di Sulsel ini. Karena secara idiologis, bahwa paham komunisme dianggap sangat bertentangan dengan pandangan hidup di tengah masyarakat religi di Indonesia.

Maka dari sikap perlawanannya tersebut, sehingga disebut-disebut salah satu tokoh kontroversial dalam sejarah nasional, akibat dituding sebagai pemberontak. Hal tersebut telah dirilis dalam sebuah buku berjudul “Abdul Qahhar Mudzakkar Dari Patriot Hingga Pemberontak” karya Anhar Gonggong.

Olehnya itu, meskipun tidak ada gelar “Pahlawan Nasional” sebagai mahkota yang disematkan pada diri mendiang Kahar Muzakkar tersebut. Akan tetapi nama besarnya yang telah melegendaris, justru jauh melampaui sejumlah pejuang lainnya yang telah dianugrahi dengan gelar pahlawan nasional.

Jadi sudah sewajarnya melalui peringatan Hari Pahlawan ke-71 ini, kita patut untuk mengenang “Sang Patriot Bangsa Tak Bermahkota” tersebut, bahwa betapa besar jasa-jasanya terhadap perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia, seolah berusaha pula untuk dilupakan oleh negara.

*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Tabloid SAR
/Aktivis Pembela Arus Bawah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.