.

.

Sunday, 19 March 2017

Lima Pelaku Kasus Vaksin Palsu Divonis 7 Hinga 10 Tahun Penjara

Ilustrasi Vaksin Palsu

Suwarsa : Masih Ada 14 Terdakwa yang Saat Ini Masih Menanti Vonis Hakim

BEKASI, Tabloid SAR- Lima terdakwa vaksin palsu, yang terlibat dalam kasus pembuatan dan peredaran vaksin palsu, yang beredar pada periode tahun 2010 hingga 2016, telah divonis hukuman penjara dan denda, oleh dua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bekasi, Jawa Barat.

Ketua Majelis Hakim Marper Pandiangan bersama anggotanya  Oloan Silalahi dan Bahuri yang mengadili dan memeriksa terdakwa pasangan suami-istri (Pasutri) Syafrizal dan Iin Sulastri, dinyatakan terbukti melanggar Undang-undang Kesehatan dan Undang-undang Perlindungan Konsumen, dengan peran membantu proses produksi dan peredaran vaksin palsu.

Kendati dengan peran yang sama, Majelis Hakim PN Bekasi menjatuhkan vonis berbeda pada Pasutri tersebut. Syafrizal divonis penjara selama 10 tahun, sedangkan Iin divonis 8 tahun penjara.

Meski demikian, Majelis Hakim menjatuhkan jumlah denda yang sama terhadap Pasutri tersebut, yakni dengan denda sebesar Rp 100 juta.

Hal itu, diungkapkan Kepala Humas PN Bekasi, Suwarsa kepada wartawan pada Sabtu (18/3/2017).
  
Menurutnya, alasan Majelis Hakim memvonis Iin lebih rendah dari hukuman suaminya karena yang bersangkutan, baru-saja melahirkan.

“Pertimbangan vonis Iin lebih rendah karena yang bersangkutan baru saja melahirkan anaknya,” ujar Suwarsa.

Sementara Majelis Hakim PN Bekasi, yang diketuai Kurnia Yani Darmonk dengan anggotanya Hera Kartiningsing dan Tri Yuliani, yang memeriksa dan mengadili tiga terdakwa lainnya menjatuhkan vonis penjara bervariasi, tetapi dengan denda sama.

Terdakwa Irnawati yang berperan sebagai perawat Rumah Sakit Harapan Bunda, Pondok Ungu, Bekasi Utara, divonis selama tujuh tahun penjara dengan denda Rp 1 miliar.

Demikian pula dengan terdakwa Seno yang bertindak sebagai perantara, yang menghubungkan produsen dengan pihak rumah sakit dihukum delapan tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Sedangkan terdakwa M Farid yang berperan sebagai pemilik Apotik pengedar vaksin palsu tersebut, divonis penjara selama delapan tahun dengan denda Rp 1 miliar.

Suwarsa menyebutkan, kelima terdakwa yang telah divonis itu, terbukti bersalah karena melanggar Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Ia juga menjelaskan bahwa terdakwa lainnya dalam kasus tersebut, masih ada 14 orang yang saat ini masih menanti vonis hakim.

“Dalam kasus yang sama masih ada 14 orang terdakwa yang belum divonis, dan telah dijadwalkan paling lambat akhir maret ini, diputuskan hukumannya,” terang Suwarsa.

Untuk diketahui, kasus vaksin palsu mencuat setelah polisi menggerebek pabrik pembuatannya di Tangerang dan Bekasi.

Editor : William Marthom

No comments:

Post a Comment

.

.