.

.

.

Senin, 17 April 2017

Pengosongan Lahan Undanda di Walmas, Batal

Kasat Polisi Pamong Praja Andi Iskandar (kiri), tampak warga menghadang alat berat excavator, sehingga pengosongan lahan Undanda di Walmas berujung batal (kanan)

Andi Iskandar : Diduga Warga Terprovokasi Pihak-Pihak Tertentu

LUWU, Tabloid SAR– Pengosongan lahan untuk pembangunan kampus baru Universitas Andi Djemma (Unanda) yang terletak pada dua desa di Walmas, tepatnya di  Desa Barammamase dan Desa Kalibamamase, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (12/04/2017) akhirnya batal dilakukan.

Itu lantaran adanya perlawanan dari warga yang berujung kericuhan, akibatnya operator alat berat excavator tidak mampu melanjutkan penggusuran atas lahan seluas kurang lebih 30 hektar yang dihibahkan oleh Pemerintah Kabupaten Luwu, untuk Unanda.

Hal ini diutarakan oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kabupaten Luwu, Andi Iskandar saat dikonfirmasi, baru-baru ini di ruang kerjanya.

“Padahal kita sudah melakukan langkah mediasi, dengan memberikan pemahaman kepada warga yang menumpang dan menggarap lahan tersebut. Kita jelaskan manfaat atas kehadiran kampus baru Unanda yang akan dibangun pada lahan tersebut,” tutur mantan Camat Belopa Utara ini.

Menurut Andi Iskandar, pihaknya menduga warga terpropokasi oleh pihak-pihak tertentu. Karena tidak mungkin warga melakukan perlawanan yang sifatnya massif dan sistematis seperti itu, kalau tidak diprovokasi.

“Akibatnya, kita dari Sat Pol PP yang didukung oleh TNI dan Polri, dibuat tak berdaya, atas perlawanan warga,” kata Andi Iskandar.

Tuturnya lebih lanjut, memang kita lebih mengedepankan pengamanan yang bersifat persuasif, karena tujuan kita hanya mengawal pengosongan lahan untuk lokasi pembangunan kampus baru Unanda.

“Apalagi ini bukan eksekusi lahan seperti pemberitaan sejumlah media, karena lokasi tersebut bukan lahan sengketa, yang sudah mendapat putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau ingkrach,” ujarnya.

Waktu terjadi kericuhan, kata Andi Iskandar lagi, saya berada di tengah-tengah mereka (pelaku kericuhan, red). Bayangkan saja, sampai ibu-ibu tidak sedikit pula yang ikut melakukan perlawanan dengan cara berbusana setengah telanjang, sampai-sampai memperlihatkan (maaf) payu daramereka,” tuturnya dengan rada agak lucu.

Sambung dia, jadi akibat adanya ibu-ibu yang melakukan perlawanan seperti itu, sehingga kami dari aparat keamanan, menjadi berhati-hati dalam melakukan pengawalan saat akan dilakukan pengosongan lahan tersebut.

“Jika sudah begitu, masa kita mau bertindak dengan cara-cara represif, mala bisa jadi kami dituding pelanggaran HAM, atau dianggap melakukan pelecehan terhadap perempuan. Hal demikian dapat menjadi persoalan lain, yang dapat menyudutkan aparat keamanan,” sebutnya.

Andi Iskandar lalu mengutarakan, untung saja warga yang sudah anarkis saat itu tidak menyerang diri saya, pada hal saya berada di tengah-tengah mereka.

“Saya aman dari tindakan anarkis warga, karena rupanya sasaran mereka adalah operator excavator yang dilempari batu secara bertubi-tubi. Sehingga operator tersebut melarikan diri, membuat pengosongsan lahan menjadi gagal dilaksanakan saat itu,” jelasnya.

Dia pun mengaku, jika dirinya terus melakukan negoisasi dengan warga di tengah berlangsungnya kericuhan itu.

Misalnya, akan mengganti-rugi tanaman padi warga yang baru selesai ditanam, dengan sejumlah gabah yang sama dengan hasil panennya selama ini, atas lahan atau sawah yang digarap warga.

Selain itu, Andi Iskandar juga menyampaikan mengenai manfaat ekonomi bagi warga setempat dengan dibangunnya kampus baru Unanda pada lahan itu.

“Manfaatnya banyak lah misal, adanya peluang bagi warga untuk membangun rumah kost-kosan bagi mahasiswa, sebagai salah satu usaha yang sangat menjanjikan. Termasuk peluang-peluang usaha lainnya seperti, membuka warung makan, kios-kios barang campuran seperti Sembako, usaha foto copy, toko ATK dan lain-lain,” urainya.

Dan yang paling penting untuk diketahui  bahwa, di mana-mana tidak ada masyarakat miskin yang berada di sekitar kampus, apa lagi kalau perguruan tinggi itu adalah universitas.

“Karena disekitar kampus, peluang usaha bagi warga sekitarnya begitu banyak dan umumnya menjanjikan,”  jelas Andi Iskandar.

Selain itu, saya juga menjelaskan kepada warga di sana, bahwa jika anak-anak mereka ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi, anak mereka tidak perlu lagi pergi jauh-jauh, karena sudah ada kampus Unanda.

“Dengan demikian, bapak-bapak dan ibu-ibu tidak lagi terbebani biaya transportasi anak-anaknya ke kampus. Termasuk tidak lagi dibebani biaya kost-kosan atas adanya kampus Unanda ini,” terang Andi Iskandar, menirukan penjelasannya kepada warga yang sedang melakukan penolakan pengosongan lahan Unanda.

Kemudian saya lanjut menyampaikan, jika itu belum cukup, maka warga yang lahan garapannya akan dikosongkan ini, dapat pula digratiskan biaya kuliah anaknya oleh pihak Unanda.

“Jadi hal-hal itulah yang saya sampaikan kepada warga. Kendati sudah ada sebagain warga yang telah memahami manfaat atas kehadiran kampus Unanda di lokasi itu nantinya. Namun sebagian warga masih saja tetap melakukan aksi perlawanannya, sehingga pengosongan lahan tersebut menjadi gagal dilakukan,” tuturnya kepada wartawan Tabloid SAR di ruang kerjanya baru-baru ini.

Pihaknya juga menuturkan, bahwa begitulah resiko yang kerap dihadapi aparat ketertiban sebagai Satuan Polisi PP.

“Resikonya tinggi sekali sebab nyawa bisa jadi taruhannya. Maka dalam kondisi seperti itu, saya sebagai penanggungjawab, harus terjun langsung di lapangan mendampingi anak buah saya,” tukasnya.

Kata dia lebih lanjut, pihaknya tidak akan membiarkan anak buahnya, terpencing dengan emosi massa seperti itu, demi menghindari terjadinya bentrok antara aparat dengan warga.

Apabila terjadi apa-apa, tutur Andi Iskandar lagi, maka saya sebagai pimpinan yang paling bertanggung jawab.

“Jadi itulah resiko yang harus saya pikul, bahkan nyawa sekalipun dapat pula jadi taruhan bagi seorang komandan Satuan Polisi PP,” tambahnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, namun itulah masyarakat yang masih belum terbuka wawasannya, sehingga tidak dapat memahami bahwa keberadaan kampus Unanda di lokasi itu, justru jauh lebih memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka, ketimbang menggarap sawah pada lokasi tersebut.

“Akibatnya wawasan warga yang sangat sempit seperti ini, begitu mudah terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang hanya mencari keuntungan sesaat,” tukasnya lagi.

Ketika ditanyakan bahwa siapa pihak-pihak tertentu tersebut, yang membuat warga terprovokasi melakukan perlawanan seperti itu.

Jawabnya, itu bukan kewenangan saya untuk mengemukakannya, sebab para pelaku kericuhan sudah ditangani dan diproses oleh pihak penyidik Polres Luwu. “Yah, hasil penyidikan polisilah yang dapat mengungkapnya,” kilahnya.

Kemudian ia menambahkan, andaikan pengosongan lahan tersebut mulus sesuai rencana, lalu dibangun kampus baru Unanda pada lokasi tersebut, maka hal itu juga dapat menjadi salah satu faktor pertimbangan bagi pemerintah pusat, untuk dapat mempercepat persetujuan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah. Yah, ngak, kata Andi Iskandar dengan balik bertanya.

“Namun kita harus dapat maklumi, jika wawasan masyarakat masih sangat sempit dalam memahami atas adanya rencana pembanguan kampus baru Unanda pada lokasi itu. Saya pikir pada akhirnya warga sendiri akan menjadi sadar nantinya, sehingga permasalahan ini tidak berlarut-larut penyelesaiannya,” kunci Kasat Pol PP Kabupaten Luwu itu.

Penulis   : Ories
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.