.

.

Wednesday, 19 April 2017

Ritual Adat Mappalesso Samaja Digelar di Pattimang

Bupati Lutra Indah Putri Indriani saat membawakan sambutannya dalam ritual adat Mappalesso Samaja dengan Manre Saperra di Baruga Datok Pattimang di Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Kabupaten Lutra, Selasa (18/4/2017)

LUTRA, Tabloid SAR- Pihak Kedatuan atau Kerajaan Luwu bersama Pemerintah Kabupaten Luwu Utara (Pemkab Lutra) mengadakan ritual adat ‘Mappalesso Samaja’ dengan ‘Manre Saperra’ di Baruga Datok Pattimang di Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (18/4/2017).

Dalam acara tersebut, Luthfi Andi Mutty Opu To Ampanangi  selaku Pabicara Kedatuan Luwu mewakili Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau dalam sambutannya mengatakan, acara Mappalesso Samaja yang berarti melepas nazar dengan Manre Saperra atau santap bersama, sejak dahulu kala sudah dilaksanakan di Tana Luwu.

Mantan Bupati Lutra dua periode itu juga mengatakan, bahwa atas nama Paduka Datu Luwu, pihaknya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada Ibu Bupati Lutra dan seluruh jajaran Pemkab Lutra atas sokongan dan bantuannya sehingga acara Manre Saperra dapat terlaksana dengan baik.

Anggota DPR RI dari Fraksi Nasdem  tersebut, juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kapolres Lutra atas dukungan pengamanannya sehingga acara itu dapat terlaksana dengan aman, tertib dan damai.

Sementara Bupati Lutra Indah Putri Indriani dalam sambutannya menyebutkan bahwa empat abad yang lalu wilayah Desa Pattimang pernah menjadi Pusat Pemerintahan Kedatuan Luwu.

Bupati cantik itu, juga menjelaskan asal-usul ritual Manre Saperra yang merupakan pelaksanaan nazar, yang pernah diucapkan mendiang Datu Luwu Andi Djemma di Cappasol, Malangke, saat mengalami situasi kritis ketika memimpin perang gerilya dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada zaman dahulu.

“Konon saat itu, Andi Djemma bersama Permaisurinya Andi Tenri Padang Opu Datu, beserta segenap Dewan Adat Luwu dan pasukan Pemuda Keamanan Rakyat sedang dalam keadaan terdesak, ketika menghadapi serangan pasukan KNIL (tentara Belanda- red) di Cappasolo. Andi Djemma dalam situasi kritis itu, mengucap nazar untuk melaksanakan Manre Saperra, bersama seluruh lapisan masyarakat Tana Luwu jika mereka lolos dari gempuran pasukan KNIL saat itu,” ujar Indah mengisahkan.

Jadi Saperra adalah kain putih yang ditetapkan sebagai alas makanan yang disantap bersama, melambangkan ikatan masseddi siri atau ikatan batin suci antara yang mulia Datu Luwu dengan seluruh lapisan masyarakat Tana Luwu, jelasnya.

Selain itu, Indah juga berharap agar kegiatan adat demikian bukan hanya sekedar serimonial belaka, namun diharapkan dapat menjadi momentum untuk tetap menjaga dan melestarikan tatanan nilai-nilai adat dan budaya Luwu.

Tampak hadir dalam acara tersebut, Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu To Bau bersama Permaisurinya Opu Cenning, Dewan Adat 12, Pemangku Adat Kedatuan Luwu, Wakil Bupati Lutra Muh Thahar Rum, Wakil Walikota Parepare Achmad Faisal Andi Sapada, Kapolres Lutra AKBP Dhafi, Kejari Lutra Andi Mirnawati, dan sejumlah pejabat se Tana Luwu, serta ratusan warga Lutra.

Penulis   : Dedhy
Editor     : William Marthom

No comments:

Post a Comment

.

.