.

.

Saturday, 1 July 2017

Bastem Negeri yang Terlupkan, Jalan Rusak Parah Sampai Kapan? Tanya Cakka, SYL dan Jokowi !

Yefta Yuli
Bastem yang Terlupakan Bagai Dianaktirikan oleh Pemerintah

Oleh : Yefta Yuli

LUWU, Tabloid SAR- Hujan adalah salah satu anugrah dari Tuhan pencipta alam semesta, air hujan yang turun dari langit membasahi bumi menjadi sumber kehidupan bagi segenap mahluk dan tumbuhan di jagat raya ini. Khususnya bagi masyarakat yang berprofesi sebagai petani di daerah Basse Sangtempe (Bastem) hujan adalah kebutuhan utama untuk mengairi sawah mereka karena di Bastem belum ada irigasinya, para petani masih mengandalkan sistem tadah hujan. Demikian pula dengan para peternak kerbau dan kuda di daerah Bastem, mereka tidak akan kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya. Para gembala dengan mudah mendapatkan rumput yang subur untuk ternak mereka pada musim hujan.

Namun di sisi lain hujan juga dapat menjadi sumber malapetaka dan ancaman bagi manusia, termasuk masyarakat di daerah Bastem yang secara topografi umumnya pegunungan dataran tinggi. Secara administrasi pemerintahan membagi wilayah Bastem menjadi tiga kecematan yakni Kecematam Bastem, Kecematan Bastem Utara (Bastura), dan Kecematan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ancaman nyata bagi masyarakat Bastem pada musim hujan adalah tanah longsor, tak terkecuali akibat lainnya yang sudah pasti akan merugikan masyarakat yaitu jalan  Poros Palopo- Bastem dan jalan Poros Belopa-Bastem akan mengalami kerusakan parah akibat hujan tersebut.

Kendaraan double hadle terjebak dalam lumpur saat melintasi jalan Poros Palopo-Bastem yang tak ubahnya kubangan kerbau, becekdan licin
Kondisi jalan rusak parah di Bastem yang bagaikan kubangan kerbau itu, becek dan licin, serta berlumpur tentu sudah menjadi hal lumrah bagi masyarakat Bastem karena telah menjadi langganan mereka setiap tahunnya ketika musim penghujan tiba. Hal itu di sebabkan oleh karena kondisi badan jalannya masih mayoritas berupa tanah liat ditambah dengan tidak adanya saluran air (draenase) di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan yang mengakibatkan air hujan tersebut meluap ke dalam badan jalan, tak pelak badan jalanpun terkikis air dan sebagian material tanah liatnya terbawa arus air hujan. Ketika kendaraan roda dua (sepeda motor) maupun roda empat (mobil) lalu lalang melintasi jalan tersebut dapat dipastikan jalanan itu berubah menjadi becek, berlumpur dan licin.

Ironisnya, selama puluhan tahun lamanya masyarakat Bastem terisolir karena kondisi jalan yang rusak sedemikian rupa, tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah apa lagi menjadi skala prioritas untuk diperbaiki maupun dibangun jalannya. Akses jalan yang demikian buruk itu sangat berkaitan erat dengan gerak laju perekonomian masyarat Bastem yang umumnya stagnan (jalan di tempat) dan tidak mengalami kemajuan karena mobilitas mereka terhambat oleh kondisi jalan.

Selain itu, daerah Bastem yang terisolir menyebabkan masyarakat di desa-desa yang berada pada tiga kecematan itu yakni, Kecematan Bastem, Bastura dan Kecematan Latimojong kesulitan untuk menjangkau dan menikmati berbagai macam fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah dan pasar. Karena selain jaraknya yang jauh dari pusat kota, akses untuk menjangkau berbagai fasilitas umum tersebut juga sulit karena kondisi infrastruktur jalannya tidak memadai.

Akibatnya tingkat kesejateraan warga Bastem sebagaimana harapan mereka, sepertinya semakin memudar dan pupus tinggal menjadi impian belaka. Harapan akan kesejatraan harus tertunda dengan waktu yang sangat relative untuk diwujudkan karena infrastruktur jalan yang tidak memadai. Padahal akses jalan sangat mempengaruhi dan menentukan hampir seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat pada umumnya apa lagi di wilayah Bastem yang terlupakan oleh Negara dan pemerintah.

Hal demikian sungguh miris dan memprihatinkan, serta tidak mencerminkan azas keadilan dalam pemerataan pembangunan di republik ini, karena masyarakat di berbagai daerah lainnya di wilayah kedaulatan NKRI tengah menikmati akselerasi kemajuan pembangunan dan perekonomian, sementara masyarakat Bastem masih saja berkutat pada kondisi ironi di tengah keterbelakangan mereka akan kesejahteraan oleh karena kondisi pembangunan infrastruktur jalan yang masih sangat minim di daerah mereka.

Melihat realitas kehidupan masyarakat Indonesia dan keadaan kampung halamanku yang demikian tertinggal jauh di belakang jika dibandingkan dengan daerah lainya di Kabupaten Luwu maupun di Sulsel termasuk di jazirah NKRI seakan mengoyak dan menyayat hati perih nanpedih jadi beban batinku sebagai warga Negara Indonesia dan masyarakat Sulsel, serta warga Luwu. Kondisi kampung halamanku sungguh sangat memprihatinkan, membuat aku terkadang merasa bahwa pemerintah tidak menaruh rasa keadilan kepada kami masyarakat Bastem. Tana moyangku bagai dianaktirikan oleh pemerintah dan tidak diperhatikan sebagai bagian atau satu kesatuan dari wilayah berdaulat NKRI, yah beginilah kondisi tanah kelahiranku.

**) Penulis adalah Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Basse Sangtempe (PP-HAM BASTEM).

Editor : William Marthom

No comments:

Post a Comment

.

.