.

.

Rubrik

.

Minggu, 22 Oktober 2017

Mencari Pendaki Buntu Sikolong yang Sempat Hilang, Salah Satu Personil Polsek Bastem Nyaris Masuk Kedalam Ranah Alam Gaib, Kok Bisa?

Kapolsek Bastem AKP Syamsuddin SH (dua dari kanan) bersama anggotanya. Tampak pula Direktur Eksekutif Pembela Arus Bawah Rahmat K Foxchy (duduk) dan warga selaku pemandu jalan saat melakukan pencarian terhadap tiga pendaki Buntu Sikolong yang dinyatakan hilang.
LUWU, Tabloid SAR - Pegunungan Latimojong yang membentang di bagian barat wilayah Kabupetan Luwu Sulawesi Selatan (Sulsel), nampaknya kembali dihebohkan atas hilangnya kelompok pendaki dari kalangan pencinta alam. Lalu nyaris pula membuat salah satu anggota personil Polsek Basse Sangtempe (Bastem) masuk ke dalam ranah alam gaib.
Disebutkan bahwa kelompok pendaki gunung tersebut, terdiri dari tiga orang, masing-masing bernama Afrin Dihamri alias Indeed (40) dan Widi ( 25) keduanya asal Kota Makassar, Sulsel serta Tuye (30) asal Kabupaten Enrekang, Sulsel adalah selaku penunjuk jalan.
Awalnya, mereka mengambil titik star dari Desa Ulu Wai, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel, pada Jumat (06/10-2017). Bertujuan untuk mendaki puncak Buntu (Gunung) Sikolong yang berketinggian 2.754 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Kemudian dinyatakan hilang, akibat tidak juga kembali menurut jadwal yang direncanakan pada Minggu (08/10-2017). Pada gilirannya diterjunkan Tim SAR yang didukung oleh personil TNI dan Polres Tana Toraja untuk melakukan pencarian.
Halnya Kapolres Luwu, AKBP Ahmad Yanuari Insan, tak ketinggalan pula menerjunkan Tim Pencarian yang dipimpin oleh Kapolsek Bastem, AKP Syamsuddin SH. Tampak pula Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy dalam Tim Pencarian yang terdiri dari empat anggota Polsek Bastem tersebut.
Saat Tim Gabungan Pencarian yang dipimpin mantan Kapolsek Lamasi ini, lalu melakukan penyisiran pada Sabtu (14/10-2017), di bagian sisi timur Buntu Sinaji. Tepatnya melalui jalur Desa Sinaji Kecamatan Bastem Kabupaten Luwu, justru diliput langsung oleh media Tabloid SAR. 
Tim Gabungan ini diantar oleh salah satu warga desa setepat, ketika memasuki kawasan hutan hingga mencapai ketinggian 1.700 mdpl. Namun informasi yang diperoleh, bahwa ketiga pendaki yang dinyatakan hilang tersebut masih juga belum diketahui keberadaannya.
Karena suasananya sudah hampir memasuki waktu magrib, akhirnya Tim Gabungan yang terdiri dari personil Polsek Bastem bersama salah seorang aktivis dan wartawan Tabloid SAR, termasuk seorang warga selaku pemandu jalan. Kemudian memutuskan untuk kembali ke perkampungan masyarakat Desa Sinaji. Tapi singgah beristrahat sejenak pada sebuah lapangan sepak bola yang kelihatannya baru saja dibuat.
Kala di sela-sela sedang beristrahat, sambil menikmati indahnya pemandangan alam Bastem dari atas ketinggian (lapangan, red). Lalu melalui hubungan komunikasi handphone (HP), sehingga menyusul pula salah seorang anggota Polsek Bastem, untuk maksud bergabung dengan tim gabungan pencarian yang sedang menunggu di lapangan tersebut.
Ironisnya, anggota Polsek Bastem (minta agar tidak dimediakan) yang lagi menyusul itu, dirinya justru hampir kembali dicari oleh rekan-rekannya sesama anggota polisi yang sedang menunggunya di lapangan tersebut. Pasalnya, ia malah tampak melajukan motornya menuju ke atas kawasan hutan.
Melihat dirinya semakin melajukan motornya ke atas kawasan hutan, lalu rekan-rekannya sesama polisi memanggilnya dengan cara berteriak-teriak yang sangat kencang tapi rupanya ia tidak dengar. Bahkan berkali-kali pula dibunyikan klason motor, namun tetap saja tidak diresponsnya.
Pun juga beberapa kali dihubungi nomor HP-nya, itupun cukup lama, barulah anggota Polsek Bastem tersebut mengangkat HP-nya. Sehingga dia disuruh berbalik arah, supaya kembali manuju lapangan sepak bola, di mana tempat dirinya sudah ditunggu dari tadi.
Setibanya di lapangan sepak bola tersebut, maka komandannya (AKP Syamsuddin) langsung bertanya, kenapa kamu lewat saja, apa kamu tidak lihat ini lapangan yang begitu besarnya. “Tadikan sudah dikasi tahu bahwa kami menunggu di atas lapangan, letaknya pas di pinggir jalan,” jelas Kapolsek Bastem dengan nada heran.
Kemudian ditimpali oleh Kanit Reskrim Polsek Bastem, Bripka Abu Bakar, tadi saya lihat kamu sempat melihat ke arah kami di sini (lapangan –red), tapi kamu malah melajukan motor ke atas.
Lalu dibenarkan oleh Bripka Andri Ramli, adalah juga salah satu anggota Polsek Bastem. Ujarnya, saya juga melihat kamu sempat menoleh ke lapangan, saya pikir kamu tadi langsung belok masuk ke lapangan tapi kamu justru kasi kencang laju motor kami ke atas. Hal ini diamani pulah oleh salah satu anggota Tim Polsek Bastem lainnya.
Setelah ditanya begitu, anggota Polsek Bastem tersebut, justru nampak kebingungan menjawab. Beberapa saat kemudian, barulah ia bertutur, jika dirinya tadi memang sempat menoleh ke sini (ke arah lapangan –red) tapi hanya awan yang kelihatan.
Maka ucapannya tersebut langsung disanggah oleh Kapolsek Bastem, sembari berkata, mana ada awan dengan cuaca yang sangat cerah begini. “Jawaban kamu itu sangat aneh dan membingungkan,” ucap Syamsuddin, lagi-lagi mengekspresikan rasa herannya.
Tak ketinggalan pula jurnalis Tabloid SAR yang juga ikut dalam tim tersebut, lalu bertanya, bagaimana perasaan bapak tadi naik motor, kelihatannya kencang sekali laju motornya ke atas, padahal jalanannya sangat darurat dan cukup licin dilalui?
Jawabnya, saya sepertinya tidak ingat apa-apa. Saya mengendarai motor layaknya di jalan yang bagus. Jadi saya tidak merasa naik motor jalan rusak di pegungungan ini, dan sama sekali tidak mendengar apa-apa. “Itupun HP saya berbunyi hanya kedengaran sekali , maka langsung saya angkat,” akunya.
Kembali Kanit Reskrim Polsek Bastem ini menyampaikan, saya beberapa kali menelpon kamu, tapi tidak juga diangkat-angkat. Karena pak Kapolsek kelihatannya tidak sabar, sehingga saya disuruh menyusul kamu. “Susul cepat itu (off the record), kenapa ia terus naik ke atas dan motornya malah justru melaju kencang,” kata Bripka Abu Bakar menirukan perintah Kapolseknya.
Setibanya kembali di perkampungan masyarakat Desa Sinaji, sehingga peristiwa ini lalu diungkapkan pada tetau kampung di desa yang terletak pada ketinggian di wilayah Kecamatan Bastem tersebut.
Namun mereka justru menunjukkan rasa kagetnya, ungkapnya hampirmi kasian itu salah satu anggota Polsek Bastem masuk ke dalam alam gaib. “Untung saja cepat sadar, sehingga masih bisa kembali,” tutur P Palimbong Pasangka, selaku Ketua BPD-Desa Sinaji.
Lanjut tokoh adat yang lebih akrab disapa Palimbong ini menjelaskan, bahwa kawasan hutan yang ada di Desa Sinaji ini dikenal sangat keramat. Apalagi ini kaki Buntu Sinaji, merupakan salah satu gunung yang sangat dikenal gaib. “Masuk ke dalam kawasan hutan gunung ini banyak larangannya, salah satunya tidak boleh membawa telur,” bebernya.
Terlebih lagi jika orang baru, ujar Palimbong lagi, jika tidak dikawal warga sini, maka bisa saja menjadi gaib, atau hilang dibawa mahluk halus. “Soalnya, Buntu Sinaji ini merupakan salah satu simbol kebesaran peradaban mitos (To Manurung -red) yang bersifat berdimensi mistik dalam legenda Bastem,” paparnya.
Apa yang diutarakan oleh Ketua BPD – Desa Sinaji tersebut, diamini pula oleh sejumlah tetua adat di desa ini. Bahkan diampaikan pula, jika sudah beberapa orang yang pernah mengalami hal-hal gaib di dalam kawasan hutan di gunung ini. “Wahh…. bikin merinding saja, yah…?”
Namun syukurlah, sebab salah satu anggota Polsek Bastem (namanya diminta tidak disebut-sebut) yang hampir nyaris memasuki ranah alam gaib tersebut, sehingga dapat bergabung kembali dengan sesama rekannya dari Polsek Bastem.
Terlebih lagi bagi ketiga pendaki gunung ke puncak Buntu Sikolong yang sempat dinyatakan hilang tersebut, akhirnya tiba dengan selamat di Desa Langi’ Kecamatan Bastem, pada Senin (16/10-2017) pagi.
Untuk diketahui bahwa puncak Buntu Sinaji ini adalah memiliki ketinggian 2.457 mdpl. Dalam perspektif mitologi Bastem, di mana gunung ini disebut-sebut merupakan rangkaian tentang asal-usul To Manurung yang disebut Puang ri Sinaji, atau kadang pula disebut To Manurung Puang Tamboro Langi’.
Adapun eksistensi kedudukan Puang Ri Sinaji ini, pun digentek Puang Ma'tanduk Bulawan Dewata Mararang Ulunna Malea Pa'barussanna Borrong Lise'matanna.
Apabila diartikan menurut Bahasa Indonesia, mungkin maksudnya, bahwa Puang ri Sinaji adalah digelar pemimpin besar (puang dewata -red) bermahkotakan emas yang bertahta di atas rambut dengan kemilau merah merona seolah menyilaukan tatapan mata.
Sementara menurut sumber-sumber cerita rakyat, bahwa pada masa lampau, apabila ada orang yang mengalami peristiwa gaib. Lalu masuk ke dalam sebuah istana megah, maka dia akan diberikan kesaktian untuk didaulat membawa amanah kepemimpinan (pak puangan –red) bagi kebesaran peradaban Bastem, sesuai fase-fase zamannya.
Konon menurut legendanya bahwa diantara tokoh sentral yang dikenal sangat memfenomanal dalam tatanan adat Bastem, lalu ditengarai mengalami peristiwa gaib, sehingga memasuki istana kebesaran Puang ri Sinaji, antara lain Puang Timbajo “Lawisa” To Kassalle ri Tabuan dan Puang Kongle Langi’. 

(Tim-Lipsus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.