.

.

.

Kamis, 07 Desember 2017

Kades Pompengan Tengah Laporkan Oknum Anggota LSM Terkait Dugaan Percobaan Pemerasan

Kades Pompengan Tengah, Rustan, S.AP
Rustan Layangkan Surat Laporan ke Kapolres Luwu

LUWU, Tabloid SAR- Sepertinya seorang oknum anggota LSM kembali berulah, setelah sekelompok orang yang menamakan dirinya berasal dari LPPNRI pada sekitar bulan April 2017 lalu yang sempat menjadi sorotan media, karena diduga kuat memeras sejumlah Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pemerasan serupa nyaris menimpa Kades Pompengan Tengah, Rustan, S.AP, meski modus operandinya berbeda.

Namun kali ini, Rustan mengadukan salah satu oknum yang mengaku anggota sebuah LSM yang hendak memerasnya, karena meminta sejumlah uang.

Pengaduan Rustan terkait dugaan pemerasan tersebut, dilaporkan secara tertulis dengan ditujukan kepada Kapolres Luwu.

Dalam suratnya yang bernomor 200/DPT/KLT/XII/2017 tertanggal, 6 Desember 2017 itu. Selain mengadukan peristiwa dugaan percobaan pemerasan, juga mengadukan dugaan pencemaran nama baik sebagaimana yang dirilis melalui salah satu media massa (online- red).

Rustan melaporkan oknum anggota LSM itu, karena terang-terangan meminta uang melalui telepon selulernya sebesar Rp 7 juta. Karena permintaan tersebut, tidak disanggupinya, sehingga oknum anggota LSM tersebut, kembali menurunkan permintaannya sebesar Rp 5 juta.

“Itupun saya tidak penuhi, sebab saya tidak punya uang untuk memenuhi permintaan tersebut,” tutur Rustan di Redaksi Tabloid SAR, sepulang dari Mapolres Luwu menyerahkan surat laporannya, Rabu (6/12/2017).

Dalam surat laporan tersebut, lanjut Rustan pihaknya juga melaporkan salah satu warganya, terkait dugaan pencemaran nama baik yang dipublikasikan melalui sebuah media online.

“Saya sangat berharap agar pengaduan saya itu, dapat diusut tuntas oleh pihak Polres Luwu,” tandasnya sembari menunjukkan arsip surat laporannya.

Kendati demikian, Kades Pompengan Tengah dua periode itu, meminta agar nama oknum anggota LSM dan seorang warganya yang dijadikan sebagai terlapor tersebut, agar tidak mediakan.

“Janganmi ditulis dulu namanya dalam pemberitaan, karena baru diadukan melalui surat laporan. Kita tunggu saja hasil penyelidikan pihak Polres Luwu. Sebab pada gilirannya akan ketahuan juga siapa-siapa yang saya adukan melalui surat laporan ke Polres Luwu,” kata Rustan dengan dialek lokalnya yang masih sangat kental.

Dalam kesempatan itu, Rustan menyebutkan bahwa terkait pengaduan tersebut pihaknya meminta bantuan pendampingan Aktivis Pembela Arus Bawah.

“Permintaan pendampingan Aktivis Pembela Arus Bawah itu, saya lakukan sesuai dengan petunjuk dari sejumlah pihak, termasuk petunjuk dari salah satu perwira menengah di Polres Luwu,” ucapnya.

Rustan juga mengungkapkan jika perwira itu, menyarankan agar pihaknya melayangkan surat laporannya dengan ditujukan kepada Kapolres Luwu.

“Kalau didampingi oleh Aktivis Pembela Arus Bawah jelas akan diperhatikan proses penanganannya,” terang Rustan menirukan saran-saran yang disampaikan oleh sejumlah pihak.

Hanya saja Rustan enggan menyebutkan nama perwira menengah di Polres Luwu itu.

“Jadi kasus ini saya laporkan, sebab selain karena saya sangat dirugikan dan untuk memberikan efek jerah, juga karena adanya saran dari sejumlah pihak. Termasuk setelah saya meminta petunjuk dari atasan saya selaku pemerintah desa,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kasus dugaan pecobaan pemerasan yang dilaporkan oleh Kades Pompengan Tengah tersebut, kejadiannya pada tanggal 29 September 2017.

Adapun alasan oknum anggota LSM tersebut, sehingga meminta uang sampai jutaan rupiah kepada Rustan, katanya untuk pembayaran guna meluruskan pemberitaan yang menyoroti Kades Pompengan Tengah itu, di salah satu media massa.

Sedangkan kasus dugaan pencemaran nama baik yang dipublikasikan sebanyak dua kali melalui media online, terlapornya adalah salah satu warga Desa Pompengan Tengah.

Pemberitaan pertama kalinya dirilis pada tanggal 11 September 2017. Lalu muncul lagi pemberitaan untuk kedua kalinya pada tanggal 5 November 2017.

Menurut Rustan, pemberitaan yang bermuatan pencemaran nama baik itu, akibat dari adanya statement bersifat hoax atau bohong (fitna- red) dari salah satu warganya yang menjadi sumber dalam pemberitaan media massa tersebut.

Karena merasa difitnah dan nama baik, serta harkat dan martabatnya dirusak melalui pemberitaan itu, sehingga kasus tersebut dilaporkan langsung kepada Kapolres Luwu.

Penulis   : Redaksi
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.