.

.

Rubrik

.

Selasa, 23 Januari 2018

Siswa-Siswi SMA Negeri 15 Lutra Belum Aktif Belajar, PB-IPMR Mengecam Para Guru yang Malas Masuk Mengajar

Ketua Umum PB IPMR, Bangsi Bati

Rubin Kaho : Sebaiknya Pihak Terkait Memberikan Sanksi Tegas Terhadap Para Guru yang Malas, Karena Kemalasan Guru-Guru Itu Menambah Keterbelakangan Anak Cucu Kami di Rampi

LUTRA, Tabloid SAR- Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi (PB-IPMR) mengecam para guru khususnya Aparatus Sipil Negara (ASN) yang mengajar di SMA Negeri 15 Luwu Utara (dahulu SMA Negeri 1 Rampi), Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pasalnya, hingga kini siswa-siswi SMA Negeri 15 Lutra belum juga aktif belajar pasca libur Natal 25 Desember 2017 dan libur Tahun Baru 1 Januari 2018, karena para ASN yang mengajar di sekolah tersebut umumnya belum pernah muncul di sekolah itu.

Menurut, Ketua Umum PB-IPMR Bangsi Bati hingga kini siswa-siswi SMA Negeri 15 Lutra belum aktif belajar, karena di sekolah tersebut, baru ada tiga orang guru yang masuk mengajar, dua diantaranya masih tenaga sukarela. Sedangkan para guru yang sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru satu orang yang masuk mengajar pasca libur 1 Januari 2018.

“Kasihan pelajar SMA Negeri 15 Luwu Utara di kampung halaman kami (Rampi), hingga kini mereka belum aktif belajar karena baru tiga orang gurunya yang masuk mengajar. Itupun dua diantaranya masih guru sukarela,” kata Bangsi Bati kepada wartawan media ini, Selasa (23/1/2018) sore.

Ia menambahkan bahwa kondisi demikian sejak dahulu kala sudah menjadi kebiasaan buruk para PNS yang bertugas di Kecamatan Rampi, baik para ASN yang bertugas di sekolah-sekolah maupun di instansi lainnya seperti ASN di kantor kecamatan, dan Puskesmas, termasuk PNS di UPTD Pendidikan Kecamatan Rampi.

“Secara umum PNS yang bertugas di Rampi memang malas masuk kantor, bukan hanya guru-guru namun juga pegawai kecamatan dan Puskesmas,” ujar warga Desa Rampi ini.

Alumni SMA Negeri 15 Lutra tahun 2014 tersebut, juga menerangkan bahwa kondisi demikian semakin memperburuk nasib masyarakat Lutra yang ada di Rampi karena mereka tidak dilayani secara maksimal oleh pemerintah.

“Coba bayangkan, bagaimana mungkin SDM (Sumber Daya Manusia- red) yang ada di Kecamatan Rampi bisa setara dengan masyarakat Luwu Utara pada umumnya, kalau hak-hak dasar mereka tidak dipenuhi oleh pemerintah. Siswa-siswi jarang belajar karena gurunya malas masuk mengajar, para guru yang sudah berstatus PNS di Rampi lebih banyak tinggal di rumahnya ketimbang masuk mengajar, karena mereka umumnya berasal dari luar Kecamatan Rampi,” jelas mahasiswa Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) asal Kecamatan Rampi tersebut.

Lebih lanjut, aktivis Serikat Rakyat Miskin Demokratik (SRMD) ini, mengatakan bahwa pihaknya berharap agar persoalan demikian segera ditindaklanjuti oleh pemerintah khususnya stakeholder terkait.

“Pemerintah Luwu Utara dan Pemerintah Provinsi Sulsel, serta stakeholder terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan, termasuk Inspektorat harus segera turun tangan supaya para ASN yang bertugas di Rampi dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal selaku abdi Negara. Jangan biarkan ASN jadi pemalas dan makan gaji buta,” harap Bangsi Bati.

Selain itu, Ketum PB IPMR tersebut, juga berharap agar para guru di Rampi bisa lebih aktif mengajar untuk mempersiapkan muridnya yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN), serta Ujian Sekolah (US) yang akan dilaksanakan pada bulan April dan Mei mendatang.

“Mestinya para guru yang ada di SMA Negeri 15 Luwu Utara lebih proaktif, kalau bisa adakan extrakurikuler atau penambahan jam belajar bagi siswa-siswi yang sebentar lagi menghadapi UNBK dan USBN, termasuk US. Jangan malah sebaliknya, menambah masa libur mereka,” pintanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh orangtua siswa SMA Negeri 15 Lutra, Rubin Kaho.   

Menurut warga Desa Onondowa tersebut, bahwa pihaknya mengutuk dan mengecam tindakan para guru SMA Negeri 15 Lutra yang malas masuk mengajar, karena ulah para guru yang demikian sangat merugikan anak-anak mereka.

“Sebaiknya pihak terkait memberikan sanksi tegas terhadap para guru yang malas, karena kemalasan guru-guru itu menambah keterbelakangan anak cucu kami di Rampi,” ketusnya.

Rubin Kaho juga berharap agar siswa-siswi di SMA Negeri 15 Lutra segera dibekali khusus agar mampu mengikuti UNBK dan USBN, serta US.

“Saya kuatir angka kelulusan siswa-siswi di SMA Negeri 15 Luwu Utara akan sangat minim karena selain gurunya malas masuk mengajar, anak-anak kami di Rampi juga secara umum tidak bisa mengoperasikan computer, jadi hampir pasti tidak dapat mengikuti UNBK seperti siswa-siswi di sekolah lainnya yang ada di Kabupaten Luwu Utara,” ucapnya sembari berharap agar pihak pemerintah segera melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan siswa saat mengikuti UNBK.

Untuk diketahui, diantara belasan guru SMA Negeri 15 Lutra hingga kini baru tiga orang yang masuk mengajar pasca libur Hari Raya Natal 25 Desember 2017 lalu, yakni Sine Gerosi, SPd (PNS) guru mata pelajaran Bahasa Ingris, serta dua orang guru tenaga sukarela yaitu Erni Gerosi, SPd guru Geografi dan Tomi Sigi, SH guru Penjas.

Penulis   : William Marthom
Editor     : Zottok


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.