.

.

Sunday, 25 February 2018

Ada Apa ? Hingga Kini Ketua DPRD Tana Toraja Belum Menentukan Sikap Go To DPRD Sulsel atau Senayan ?

Ketua DPRD Kabupaten Tana Toraja, Welem Sambolangi' SE

Welem Sambolangi’ : Saya Berharap Kedepannya Tidak Ada Lagi Politisi yang Mengandalkan Uangnya untuk Berkuasa !

TORAJA, Tabloid SAR- Para politisi di berbagai belahan dunia, termasuk politisi Indonesia secara umum tentunya berkeinginan untuk melanggeng ketingkatan jabatan politik yang lebih tinggi.

Sehingga jika seorang politisi telah berhasil duduk di DPRD kabupaten/kota beberapa kali, maka pada periode keduanya, ia akan mulai ikut sebagai salah satu kontestan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) sebagai calon bupati atau walikota.

Setelah berhasil lolos menjadi kepala daerah, baik sebagai bupati maupun walikota sebanyak dua periode. Maka bupati atau walikota itu, akan mencoba keberuntungannya pada kompetisi yang lebih tinggi dan semakin ketat dengan menjadi seorang kandidat calon gubernur atau sebagai calon anggota DPR RI.

Sementara bagi politisi yang telah tiga periode duduk sebagai wakil rakyat di DPRD kabupaten/kota, pada umumnya mereka akan berupaya melangkahkan kaki pada level di atasnya. Baik itu, ketingkat DPRD provinsi maupun mencoba keberuntungan untuk melanggeng ke-Senayan sebagai calon anggota legislatif pada tingkat pusat atau DPR RI.

Namun keinginan untuk naik kelas pada pentas politik lebih tinggi, bagi para politisi yang sudah matang cara berpikir dan kalkulasi politiknya, tentu akan lebih jelih, serta melek membaca situasi politik khususnya dalam memperhitungkan hasil analisis medan kekuatan atau SWOT.

Pemetaan medan kekuatan berdasarkan analisis SWOT merupakan sebuah langkah analisis untuk membandingkan antara kondisi eksternal yang mungkin terjadi dengan kondisi subjektif seorang politisi.

Analisi SWOT tersebut, meliputi kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) adalah kondisi subjektif atau mengenai internal seorang politisi. Baik terkait masalah pribadinya maupun menyangkut keadaan internal dalam organisasi atau partai politiknya. Sedangkan kondisi eksternalnya adalah mengenai peluang (Opputunity) dan ancaman atau tantangan (Threat) yang ada. Realitas eksternal dan internal itu, harus dikondisikan agar dapat menguntungkan politisi tersebut.

Intinya, seorang politisi harus mampu memaksimalkan kekuatan yang dimilikinya dan meminimalisir kelemahan-kelemahannya. Serta memanfaatkan peluang yang ada untuk dijadikan kekuatan dan menghancurkan segala bentuk ancaman atau tantangannya.  

Pembacaan demikian, tentunya juga dapat dilakukan oleh Ketua DPRD Tana Toraja  Welem Sambolangi’ setelah berhasil duduk sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) 4  yang meliputi Kecamatan Bittuang, Masanda dan Malimbong Balepe’.

Politisi partai Golkar tersebut, tidak mungkin gegabah atau ceroboh dalam menentukan sikap politiknya untuk melangkahkan kaki pada jenjang yang lebih tinggi, baik sebagai calon Bupati Tana Toraja di masa mendatang maupun sebagai calon anggota DPRD Sulsel atau DPR RI.

Hal itu, dibenarkan Welem Sambolangi’ ketika ditemui wartawan Tabloid SAR di ruang kerjanya pada awal pekan lalu, Selasa (20/2/2018).

Menurutnya, meski pada kampanye calon legislatif (Caleg) DPRD Tana Toraja periode 2014-2019 lalu dirinya sudah mulai mensosialisasikan keinginannya untuk naik kelas ketingkat DPRD Provinsi Sulsel pada pemilihan legislatif (Pileg) 2019 mendatang, namun ia tidak boleh mengabaikan kondisi dan perkembangan situasi politik yang kekinian.

“Memang harus diakui, bahwa sebagai politisi yang berhasil duduk sebanyak tiga priode di DPRD ini, saya tentunya berkeinginan untuk naik kelas kejenjang lebih tinggi. Baik itu, ketingkat provinsi maupun kepusat (DPR RI),” kata Welem seraya tersenyum lebar dan berkelakar.

Kendati demikian, politisi partai Golkar yang berhasil duduk sebagai Ketua DPRD Tana Toraja sebanyak dua periode ini, menerangkan jika niatan itu kini mulai memudar seiring berjalannya waktu karena faktor kondisi internal dan eksternal yang berkembang saat ini.

“Seperti yang saya ungkapkan tadi, bahwa sejak masa kampanye Caleg periode 2014-2019 lalu saya sudah mensosialisasikan keinginan saya untuk melanggeng ketingkat provinsi. Akan tetapi keinginan itu, sepertinya mulai memudar dan membuat saya harus lebih jelih dan hati-hati dalam menentukan sikap pada Pileg 2019 mendatang,” terang Welem.

Lebih lanjut kader partai berlambang pohon beringin yang pertama kali menjabat sebagai Sekretaris Komisi A di DPRD Tana Toraja selama satu tahun, sebelum diangkat menjadi Ketua Komisi B selama empat tahun, pasca dilantik menjadi anggota DPRD pada tahun 2004 lalu ini, menjelaskan bahwa perubahan sikapnya itu dipengaruhi oleh beberapa faktor.

“Perubahan sikap itu karena adanya niat Ibu Hajja Nurliah Datuan Batara, istri Wakil Bupati Tana Toraja, Pak Victor Datuan Batara yang juga Ketua DPD II partai Golkar Tana Toraja berkeinginan untuk maju sebagai Caleg DPRD Sulsel dari Dapil X yang meliputi Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara pada Pileg 2019 mendatang. Sebab jika saya maju bersaing dengan istri Pak Wakil, nantinya tentu peluang kami berdua sangat tipis untuk bisa duduk di DPRD Sulsel. Karena suara Golkar di Kabupaten Tana Toraja akan terbagi dua secara signifikan, sementara kader DPD II Golkar Toraja Utara, Ibu Alfritha Pasande Danduru selaku incumbent akan lebih unggul memborong suara Golkar di Kabupaten Toraja Utara karena tidak memiliki saingan yang cukup kompetitif di Toraja Utara. Akibatnya, tentu berdampak kepada saya dan istri Pak Wakil, kami berdua berpotensi sama-sama gagal duduk di DPRD Sulsel dan yang lolos adalah Caleg petahana asal Kabupaten Toraja Utara,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, bahwa pada prinsipnya dia tidak takut berkompetisi dengan Hajja Nurliah Datuan Batara, karena yakin suaranya akan lebih unggul. Namun dari pada sama-sama gagal menuju DPRD Sulsel, maka lebih baik dirinya membatalkan niatnya untuk mencalonkan diri-pada Pileg DPRD Sulsel 2019 medatang.

“Jika Golkar Tana Toraja gagal mendudukkan kader terbaiknya di DPRD Sulsel, karena persaingan internal maka lebih baik niat tersebut dibatalkan. Sementara jika saya harus memilih untuk Go To (pergi) ke-Senayan dengan menjadi Caleg DPR RI dari Dapil III Sulsel, maka saya harus memperhitungkan kekuatan politik Ibu Andi Fausiah Pujiwatie Hatta, anak mantan Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma, termasuk Pak Muhammad Fauzi, suami Bupati Luwu Utara Hajjah Indah Putri Indriani yang juga Ketua DPD II Golkar di sana dan Ketua DPD II Toraja Utara Frederik Victor Palimbong,” ungkap Welem dengan penuh perhitungan.

Alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar pada awal tahun 2000an tersebut, juga menyatakan bahwa jika pilihannya adalah Go To Senayan pada Pileg 2019 mendatang maka ia harus memperhitungkan sesama Caleg dari rumpun keluarga Toraja yang berlatar belakang tokoh masyarakat dan tokoh politik.

“Dalam pertarungan politik pada Pileg 2019 mendatang, khususnya Caleg DPR RI saya tidak boleh hanya memperhitungkan kekuatan politik sesama kompetitor dalam internal partai Golkar. Akan tetapi harus pula memperhitungkan para kompetitor dari partai lain, utamanya para tokoh masyarakat dan tokoh politik dari sesama kalangan orang Toraja. Karena pada prinsipnya, kami akan memperebutkan suara komunitas Toraja, baik suara masyarakat Toraja yang berada di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, maupun suara yang tersebar di Luwu Raya meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur dan Kota Palopo,” sebut Welem.

Para elit Toraja yang dikabarkan bakal maju sebagai kompetitor Caleg DPR RI periode 2019-2024 mendatang diantaranya, mantan Bupati Toraja Utara Fredrik Batti’ Sorring (PDIP) dan mantan Anggota DPR RI Jakobus Kamarlao Mayong Padang (PDIP), Eva Stevani Rataba (NasDem) istri Wakil Bupati Toraja Utara Yosia Rinto Kadang, dan Federik Victor Palimbong (Golkar), serta Jhon Rede Mangontang (Golkar).

Mantan Ketua DPD II Partai Golkar Tana Toraja periode 2015-2010 ini, juga mengatakan bahwa dirinya juga merasa sangat prihatin dengan perkembangan karir para politisi partai Golkar yang ada di Kabupaten Tana Toraja jika masih harus bertahan sebagai Caleg DPRD Tana Toraja pada Pileg 2019 mendatang.

Pasalnya, selain terkesan bakal menghambat proses regenarasi untuk menduduki posisi Ketua DPRD Tana Toraja, dirinya juga terkesan menjadi batu sandungan bagi kader potensial partai Golkar dari Dapil 4 Tana Toraja yang dapat duduk menggantikan posisinya sebagai wakil rakyat dari Kecamatan Bittuang, Masanda, dan Malimbong Balepe’.

Meski demikian mantan Kepala Lembang/Desa Belau tersebut, menegaskan bahwa pada akhirnya dia dan partainya harus menentukan sikap untuk maju menjadi salah satu kompetitor dalam Pileg 2019 mendatang.

“Jadi kalaupun saya diperadapkan dengan pilihan yang serba sulit diputuskan, namun mau tidak mau saya dan partai harus menentukan sikap untuk maju bertarung pada Pileg 2019 mendatang, baik sebagai Caleg DPRD kabupaten, provinsi, maupun pusat,” tegas Welem sembari mengatakan bahwa kondisi dan situasi demikian merupakan salah satu dinamika, serta bunga rampai dalam berpolitik.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Persatuan Kaum Bapak Gereja Toraja (PKBGT) ini, menandaskan bahwa pilihan untuk terjun dalam politik electoral setelah dirinya berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi dari UKIP Makassar tak lain adalah agar dirinya bisa membantu lebih banyak masyarakat melalui kekuasaan yang diembannya. 

“Niatan saya untuk terjun dalam dunia politik tentunya agar dapat membantu dan mengabdi bagi orang banyak. Karena dengan modal investasi sosial yang cukup dan niat tulus untuk melangkahkan kaki pada gelanggang politik, maka jika Tuhan berkenan, etikat baik itu akan di aminkanNya,” tandas Welem.

Pada penghujung wawancara khusus dengan wartawan Tabloid SAR, tokoh masyarakat dari Kecamatan Sanda, Kabupaten Tana Toraja tersebut, mengemukakan harapannya. Ia berharap agar kedepannya, tidak ada lagi para politisi yang mengandalkan politik uang atau money politic, ketika maju bertarung pada gelanggang politik di masa mendatang, baik sebagai Caleg maupun selaku calon kepala daerah, tak terkecuali para calon Kepala Lembang atau Desa.

“Saya berharap kedepannya tidak ada lagi politisi yang mengandalkan uangnya untuk berkuasa. Sebab dengan money politic, kualitas hasil pilihan rakyat sangat diragukan bobot dan bebetnya. Maka politisi yang tidak mempunyai kapabilitas, kredibilitas dan integritas, serta investasi sosial, sebaiknya tidak usah maju jadi kompetitor dalam kancah politik manapun,” himbaunya.

Untuk diketahui, berkat kapasitas, kapabilitas dan integritas, serta investasi sosial yang begitu nyata dirasakan masyarakat sekitarnya, maka Welem berhasil menduduki jabatan Ketua DPRD Kabupaten Tana Toraja selama dua periode mulai dari tahun 2009- hingga kini.

Welem Sambolangi mengawali karir politiknya setelah menyelesaikan study S1 Ekonomi di UKIP Makassar dengan mengiyakan keinginan masyarakat di kampung halamannya untuk dicalonkan sebagai Kepala Lembang Belau, Kecamatan Masanda, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan pada tahun 2002.

Kendati Welem saat itu, baru berumur 26 tahun namun ia sudah dipercaya oleh mayoritas masyarakat Lembang Belau untuk memimpin mereka.

Setelah menjabat selama 20 bulan menjadi Kepala Lembang Belau, pada usia 28 tahun Welem kembali didesak oleh warganya untuk maju bertarung pada Pileg DPRD Tana Toraja periode 2004-2009 dari Dapil 4 Tana Toraja dengan mengendarai partai Golkar.

Pada tahun 2004, Welem berhasil menjadi peraih suara terbanyak Caleg Golkar dari Dapil 4. Pasca dilantik sebagai Anggota DPRD Tana Toraja, ia dipercaya menjadi Sekretaris Komisi A selama satu tahun.

Pada usia 30 tahun (2006), Welem dilantik menjadi Ketua Komisi B selama 4 tahun hingga periode pertamanya di DPRD Tana Toraja berakhir pada tahun 2009.

Karir politik Welem semakin melejit, ketika dirinya berhasil meraih suara terbanyak diantara para Caleg partai Golkar yang lolos sebagai Anggota DPRD Tana Toraja periode 2009-2014. Sebagai kader partai peraih suara terbanyak, pada usia 33 tahun, Welem dilantik menjadi Ketua DPRD Tana Toraja periode 2009-2014. Saat itu, Welem menjadi Ketua DPRD termuda se- Indonesia.

Setahun kemudian, Welem dengan posisi sebagai Ketua DPRD Tana Toraja tepatnya pada tahun 2015 didorong oleh para kader muda partai Golkar untuk berkompetisi sebagai Calon Ketua DPD II Golkar Kabupaten Tana Toraja masa bakti 2015-2010.

Meski usianya, baru 39 tahun dan masih tergolong mudah ketika dicalonkan sebagai Ketua DPD II Golkar Tana Toraja, namun Welem berhasil mengungguli pesaingnya yang tak lain adalah senior- seniornya di partai besutan Presiden Soeharto.

Kansnya sebagai politisi di panggung politik elektoral semakin diperhitungkan ketika, Welem kembali berhasil menjadi peraih suara terbanyak diantara para Caleg Golkar dalam Pileg 2014. Sebagai kader partai peraih kursi terbanyak di DPRD Tana Toraja periode 2014-2019, Welem kembali dilantik menjadi Ketua DPRD Tana Toraja pada tanggal, 12 November 2014 lalu dan hingga kini masih menjadi orang nomor satu di gedung wakil rakyat daerah yang berjuluk “Tondok Lepongan Bulan Tanah Matarik Allo atau Bumi Lakipadada”.

Penulis   : William Marthom
Editor     : Zottok

No comments:

Post a Comment

.

.