.

.

Friday, 16 February 2018

Kilas Balik Sejarah Lahir SMA Kristen Barana’ dan Keunggulannya

Kepala SMA Kristen Barana' Yusuf Pongsibidang, S.Si, M.Pd

Yusuf Pongsibidang, S.Si, M.Pd  : SMA Kristen Barana’ Unggul dan Berjaya Sejak Masa Lampau

TORAJA, Tabloid SAR- Dalam bahasa Toraja “Buntu” adalah sebuah gunung atau dataran tinggi. Bagi masyarakat Toraja Buntu melambangkan keunggulan dan kemapaman dalam artian lebih unggul dengan sebuah strata yang lebih tinggi.

Dalam bahasa lokal dan tradisi orang Toraja (Suku Toraja- red) kata Buntu banyak digunakan dalam penyebutan gunung atau nama gunung. Namun penggunaan kata Buntu dalam bahasa kiasan masyarakat Toraja, seperti penggunaan kata “Pa’ Buntuan Sugi” adalah julukan bagi orang atau rumpun keluarga yang unggul atau mapan secara ekonomi. Jadi Pa’Buntuan Sugi’ dalam istilah bahasa Toraja berarti orang atau rumpun yang kaya raya.

Sedangkan “Barana” atau pohon beringin. Secara simbolik, bagi masyarakat Toraja, pohon Barana’ merupakan lambang persatuan dan kepemimpinan yang mengayomi masyarakat.

Sehingga mungkin saja lewat pendekatan cultural, masyarakat Toraja pada zaman dahulu kala menggunakan nama Buntu Barana’ sebagai sebuah nama Lembang atau Desa di daerah berjuluk Bumi Lakipadada ini.

Yang mana kita ketahui bahwa setelah pemekaran wilayah Toraja menjadi  dua kabupaten, dimana Kabupaten Toraja Utara (Torut) memekarkan diri menjadi sebuah daerah otonomi baru dari induknya Kabupaten Tana Toraja (Tator), maka saat ini secara administrasi Lembang Buntu Barana’ berada dalam wilayah Kecamatan Tikala, Kabupaten Torut, Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Maka tidak menutup kemungkinan pula, selain menggunakan pendekatan kultural dan nilai-nilai kearifan lokal, serta dukungan posisinya yang strategis pada ujung punggung perbukitan dengan panorama alam nan indah dan menawan karena pesona landscape bantaran areal persawahan di sekelilingnya. Membuat Gereformeerde Zendings Bond (GZB) memilih Lembang Buntu Barana’ untuk mendirikan sebuah rumah kediaman bagi  Antonie Aris Van de Loosdrecht (A. A. Van de Loosdrecht) seorang penginjil asal Kerajaan Belanda yang pertama kali menginjakkan kaki di Toraja pada tahun 1913.

Melalui pendekatan sosiologis dan filosofis yang dikuatkan dengan karakteristik kultural, serta nilai-nilai kearifan local, maka keputusan GZB mendirikan kediaman A. A. Van de Loosdrecht di Lembang Buntu Barana’ adalah sebuah pertimbangan yang matang dan memiliki peran penting. Sehingga daerah ini, menjadi cikal bakal dimulainya babak baru dalam pengembangan kepemimpinan gereja dan masyarakat Toraja.

Setelah kematian A. A. Van de Loosdrecht pada tahun 1917, rumah penginjil yang pertama kali menginjakkan kaki di Toraja pada tahun 1913 tersebut, kemudian  didiami oleh penggantinya dari GZB, Johannes Belksma.

Selang beberapa waktu, pasca kematian A. A. Van de Loosdrecht akhirnya J. Belksma mendirikan Normaalcursus pada tahun 1917  di Lembang Buntu Barana’. Ia menjadi kepala lembaga pendidikan itu, hingga akhir hayatnya pada tahun 1942.

Normaalcursus yang didirikan oleh J. Belksma awalnya mendidik 12 murid yang berbakat dari berbagai penjuru Toraja. Dalam kurun waktu dua tahun, J. Belksma mendidik dan dipersiapkan ke-12 murid-muridnya untuk menjadi guru dan pemimpin-pemimpin gereja. Hingga tahun 1942, Normaalcursus menjadi satu-satunya lembaga pendidikan yang menghasilkan para pemimpin di Toraja.

Seiring berjalannya waktu, J. Belksma akhirnya meninggal dunia setelah berhasil mendidik sejumlah masyarakat Toraja menjadi para pemimpin, baik di gereja maupun dalam masyarakat umum.

Sebagaimana persiapan dan kesiapan GZB untuk terus meningkatkan kemajuan pengabaran Injil kesegala penjuru, utamanya di wilayah Toraja dan sekitarnya, maka lembaga tersebut, selalu mempersiapkan generasi penerus guna melanjutkan visi dan misi yang diembannya dalam penyampaian kabar keselamatan bagi segenap umat manusia.

Sehingga kematian J. Belksma tidak membuat pengembangan lembaga pendidikan Kristen di Toraja menjadi mati. Akan tetapi Normaalcursus yang didirikannya justru terus berkembang maju seiring berjalannya waktu.

Dimana GZB kembali mengirimkan penginjil dan pendidik terbaiknya, V. Sholte untuk menggantikan menidang J.Belksma dengan tugas mengembangkan Normaalcursus menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB) Kristen di Lembang Buntu Barana’ pada tahun 1951 dan terus dikembangkan menjadi Sekolah Guru Atas (SGA) Kristen pada tahun 1952 dibawah kepemimpinan H. V. Maulen.

Namun pasca penggulingan Orde Lama Soekarno, pada awal kekuasaan rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia ke- 2, SGA Kristen yang saat itu, dipimpin langsung oleh putra terbaik Toraja Y.S. Parura, kemudian dirubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Kristen.

Ketika SPG Kristen mendapatkan bantuan dana dari Inter Cerkelijke Coordinatie Commisie Intwik Keling Sprojecten (ICCO) untuk membangun gedungnya yang baru, para peserta didiknya menggunakan Asrama Elim Rantepao. Setelah pembangunannya rampung barulah para pelajar SPG Kristen kembali ke Lembang Buntu Barana’.

Akan tetapi pada akhir tahun 1980-an, rezim Orde Baru menutup seluruh SPG Kristen di Indonesia, termasuk SPG Kristen Barana’ yang dipimpin Ny. A. Lebang Palamba, BA.

Beruntung, pasca penutupan SPG Kristen Barana’, sejumlah tokoh pendidik masyarakat Toraja yang dipimpin oleh Dr. (HC) Jonathan Limbong Parapak, M.Eng.Sc mentransformasikan sekolah itu,  menjadi Sekolah Menengah Umum (SMU) Kristen Barana’ berdasarkan UU No. 2 Tahun 1989 dan PP No. 29 Tahun 1990.

Sejak awal berdirinya, SMU Kristen Barana’ dinahkodai Drs. J.P. Palebangan, dan setelah menyelenggarakan pendidikan sekitar 3 tahun dan berhasil menammatkan puluhan peserta didiknya, akhirnya SMU Kristen Barana’  mendapat pengakuan negara sejak 1 Januari 1993 dengan satus diakui.

Sejarah kemajuan lembaga pendidikan di sekolah rintisan penginjil yang dikirim GZB asal Kerajaan Belanda ini, terus berkembang dan mengalami kemajuan pesat. Bahkan lompatan kemajuan sekolah tersebut, semakin menonjol ketika Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) yang menaungi SMU Kristen Barana’ bekerjasama dengan Majelis Pusat Pendidikan Kristen (MPPK) menjadikan sekolah tersebut, sebagai sekolah model di kawasan Indonesia Timur.

Tidak hanya sampai disitu, dari waktu kewaktu sekolah tersebut, terus meraih sejumlah prestasi gemilang baik pada bidang akademik maupun non akademik sehingga Pemerintah Propinsi (Pemprov) Sulsel pada tahun 2.000-an di bawah kepemimpinan Gubernur Sulsel ke- 8 HM Amin Syam, menetapkan SMU Kristen Barana’ sebagai salah satu sekolah unggulan di Sulsel.

Bahkan setelah di bawah kepemimpinan Drs. Karel Karaeng sekolah yang menjadi kebanggan masyarakat Toraja ini, terus mengalami perkembangan yang pesat. Ketika berhasil menduduki posisi peringkat III terbaik Hasil Ujian Nasional-nya se-Indonesia Timur, pada tahun 2006 Presiden Republik Indonesia ke- 6 Susilo Bambang Yudohyono (SBY) melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 802.a/C4/MN/2006, SMU Kristen Barana‘ diproyeksikan menjadi salah satu Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dari 100 sekolah yang ada di Indonesia dengan status Rintisan SMA Bertaraf International.

Hingga kini, SMU Kristen Barana’ yang telah berganti nama menjadi SMA Kristen Barana’ masih menyandang status sebagai sekolah rujukan atau sekolah percontohan bagi seluruh SMA di Kabupaten Torut.

Hal tersebut, diungkapkan Kepala SMA Kristen Barana’ Yusuf Pongsibidang, S.Si, M.Pd ketika ditemuai wartawan Tabloid SAR baru-baru ini, di ruang kerjanya.

Menurut Kepala SMA yang ber-Visi “Cerdik dan Tulus, serta Berbudaya Lingkungan,” tersebut, bahwa sekolah yang dinahkodainya selain unggul pada bidang akademik dan non akademik, sekolahnya juga mendapat pengakuan luas dari masyarakat Indonesia pada umumnya dan Toraja pada khususnya terkait dengan nilai-nilai spiritual ke-Kristenan dan kedisiplinan yang diterapkan dan ditanamkan pada setiap peserta didiknya.

“Sekolah kami ini, dalam perjalanan historisnya memang selalu unggul dan terdepan dalam mengakselerasi kemajuan dunia pendidikan. Bahkan ketika pasca kepemimpinan Bapak A.K. Sampeasang, S.Pak, M.Pd, pada tahun 2009 lalu kepemimpinan di sekolah ini, sempat mengalami kekosongan beberapa saat. Karena beberapa orang yang ditawari untuk memimpin sekolah ini, menolak dengan alasan merasa kurang mampu dan takut jika prestasi sekolah tersebut justru mengalami kemunduran jika mereka yang pimpin,” kata Yusuf Pongsibidang.

Lebih lanjut, alumni jurusan Astronomi Institut Tehnik Bandung (ITB) tahun 1993 tersebut, menjelaskan bahwa dirinya ketika ditawari untuk menjadi Kepala SMA Kristen Barana’ sempat berfikir panjang dan termenung.

“Pada tahun 2009 lalu. Ketika ditawari menjadi kepala sekolah di sini, saya sempat berfikir panjang dan termenung apakah jabatan saya sebagai Kepala SMA Kristen Yusuf Jakarta Utara (Jakut) harus saya letakkan demi panggilan untuk mengabdi di kampung halaman saya atau bagaimana? Lalu apakah Yayasan Pekabaran Injil Indonesia (YPII) selaku yayasan yang menaungi SMA Kristen Yusuf Jakut dapat menerima alasan saya untuk memenuhi panggilan memajukan dunia pendidikan di kampung halaman saya”?

“Tetapi dengan meminta saran dan pertimbangan dari beberapa sahabat, kerabat dan keluarga, serta memohon bimbingan penyertaan Allah, maka saya putuskan untuk kembali membangun kampung halaman saya,” tutur Yusuf mengisahkan pergulatan batinnya ketika terpanggil kembali ke Toraja untuk memajukan SMA Kristen Barana’ dengan konsekwensi logis harus meninggalkan sekolah yang telah ia ditempati mengabdi selama 13 tahun.

Meski demikian, Alumni Pasca Sarjana Universitas Pelita Harapan (UPH) Tangerang tahun 2006 ini, bersyukur karena di bawah kepemimpinan tangannya yang dingin ia mampu meneruskan tradisi kepemimpinan pendahulunya untuk memajukan lembaga pendidikan yang berada di Lembang Buntu Barana’ tersebut.

“Saya bersyukur, karena berkat dukungan dan kerjasama semua pihak. Baik para pengurus YPKT, para tenaga pendidik di SMA Kristen Barana’ ini, serta para orang tua siswa dan pemerintah, sehingga sejumlah prestasi gemilang terus ditorehkan para siswa-siswi sekolah ini,” ujarnya.
 
Sertifikat Medali Perak yang berhasil dibawah pulang oleh siswa SMA Kristen Barana' Yohannes Sibastian Sibarani dari Kejuaraan Lomba Matematika Tingkat Internasional Tahun 2017 yang diselenggarakan di Thailand pada November 2017 lalu. Dua delegasi dari sekolah rujukan SMA di Kabupaten Torut tersebut, juga berhasil membawa pulang Medali Perunggu pada lomba tingkat Internasional itu.

Kepala SMA Kristen Barana’ yang sebelumnya berprofesi sebagai guru Matematika selama belasan tahun di bilangan Jakarta Ibukota Negara tersebut, menyebutkan bahwa ada sejumlah prestasi gemilang baik pada bidang akademik, maupun pada bidang non akademik berhasil diraih para anak didiknya di sekolah rujukan SMA se- Kabupaten Torut ini.

“Prestasi itu antaralain, Juara I Lomba Pidato Bahasa Ingris pada perayaan Event Toraya Maelo Expo dan Touring 2017 di Makale Kabupaten Tana Toraja, termasuk keberhasilan meraih Medali Perak dan Perunggu pada Kejuaraan Lomba Matematika Tingkat Internasional Tahun 2017 di Thailand, serta berhasil menyabet Medali Perak pada event Youth Environmental Summit 2018 (KTT Lingkungan Hidup 2018)  yang diadakan di Singapura pada akhir Januari hingga awal Februari 2018 baru-baru ini, dan sejumlah prestasi lainnya,” sebut Yusuf.
Sertifikat Medali Perak yang berhasil dibawa pulang oleh siswi SMA Kristen Barana' Priskila Arta Bundu setelah mengikuti Youth Environmental Summit 2018 (KTT Lingkungan Hidup 2018) yang diadakan di Singapura pada akhir Januari hingga awal Februari 2018 baru-baru ini

Dalam kesempatan itu, Kepala SMA Kristen Barana’ mengatakan bahwa pihaknya berharap agar kedepannya, sekolah yang dinahkodainya semakin bermutu dan prestasinya juga kian meningkat seiring perkembangan zaman.

Dengan segudang prestasi gemilang yang berhasil diraih siswa-siswi SMA Kristen Barana’ maka tidaklah mengherankan jika setiap kali penammatan ada 2-3 orang alumninya lolos masuk ITB, sekitar 20 persen masuk perguruan tinggi negeri yang ada di Sulsel yakni di UNHAS dan UNM di Makassar, dan selebihnya kuliah di Pulau Jawa pada Universitas Pelita Harapan Tangerang dan Universitas Atmajaya Jakarta, serta ada beberapa orang yang melanjutkan studinya pada perguruan tinggi di luar negeri.

Untuk diketahui, pada tahun 2017 lalu, ada 5 orang alumni SMA Kristen Barana’ yang bebas test kuliah di Cina dan tahun ini, akan menyusul 10 orang.

Menariknya, siswa-siswi SMA Kristen Barana’ tidak hanya fasih berbahasa Ingris akan tetapi juga menguasai Bahasa Toraja dan Bahasa Mandarin. Karena di sekolah ini, Budaya Toraja dan Bahasa Mandarin masuk mata  pelajaran Muatan Lokal.

Jumlah keseluruhan siswa-siswi SMA Kristen Barana’ sebanyak 507 orang dengan tenaga pengajar sekitar 40 orang.

Penulis   : William Marthom
Editor     : Zottok  

No comments:

Post a Comment

.

.