.

.

Rubrik

.

Selasa, 06 Maret 2018

Dinkes Gelar Pertemuan dengan 19 Pengembang Pasar Tradisional di Kabupaten Lutim

Asisten Pemerintahan Kabupaten Lutim Dohri As’ari (tengah) bersama Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Lutim Juleha (kanan) 

LUTIM, Tabloid SAR- Pasar tradisional adalah salah satu sentral transaksi jual-beli kebutuhan pokok masyarakat, khususnya Sembako (sembilan bahan makanan pokok). Sehingga pasar merupakan tanggungjawab pemerintah sebagai salah satu sektor layanan publik untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakatnya.

Oleh karena itu, pasar  perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik dari aspek kesehatan maupun dari sisi lingkungannya, agar para pengunjung atau pembeli, termasuk para pedagang dapat merasa nyaman dan kesehatannya terjamin saat melakukan transaksi di pasar.

Kendati demikian, pasar tradisional umumnya masih mendapat stigma negatif sebagai pusat niaga yang kumuh, kotor, jorok, semrawut, dan bau busuk. Tak terkecuali, 19 pasar tradisional di Kabupaten Luwu Timur (Lutim), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Mengingat hal tersebut diatas, sehingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutim, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Lutim berupaya meningkatkan layanan kesehatan di pasar tradisional.

Upaya Dinkes Lutim itu, ditandai dengan digelarnya sebuah pertemuan dengan para pengembangan pasar se- Kabupaten Lutim, bersama sejumlah stake holder terkait yang dipusatkan di Aula Kantor Camat Malili, Senin (5/3/2018).

Dalam kesempatan ini, Asisten Pemerintahan Dohri As’ari yang mewakili Bupati Lutim HM Thoriq Husler mengatakan peranan pasar tradisional sangat penting dalam menunjang pemenuhanan kebutuhan masyarakat.

“Sehingga keberadaan pasar, sangat penting memperhatikan aspek kesehatan dan lingkungan, agar pengunjung atau pembeli yang datang dapat merasa nyaman saat melakukan transaksi di pasar,” kata Dohri. .

Melalui kesempatan ini pula, Dohri, menyebutkan bahwa di Kabupaten Lutim terdapat 19 pasar tradisional.

“Semua pasar itu, perlu mendapat perhatian baik dari aspek kesehatan maupun lingkungan,” himbaunya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa disadari atau tidak,  stigma negatif yang melekat pada pasar tradisional disebabkan karena perilaku sejumlah pihak.

“Baik pedagang dan pengunjung, maupun pengelola pasar, umumnya selalu mengabaikan aspek kesehatan dan lingkungan,” tegas Dohri.

Sehingga, perlu dicetuskan bersama pengembangan pasar sehat sebagai strategi untuk memperkuat biosekurity pada rantai pangan yang dapat meningkatkan keamanan pangan sejak produksi, hingga konsumsi dengan cara mendidik produsen, pemasok, pedagang dan konsumen. Agar kesadaran mereka terhadap resiko keamanan pangan, bisa semakin meningkat.

“Karena begitu pentingnya pertemuan ini, maka kita diharapkan dapat merumuskan bersama tata cara atau model pengelolaan pasar sehat. Agar nantinya, setiap orang yang beraktivitas dipasar dapat merasa nyaman,” tandasnya.

Sementara, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Lutim Juleha mengungkapkan bahwa pengembangan pasar sehat sesuai dengan amanat Kemenkes Tahun 2008 tentang Pentingnya Pasar Sehat.

Untuk diketahui, fokus pembinaan pasar sehat ini, meliputi sanitasi pasar, bangunan hingga lingkungan pasar secara umum yang sesuai standar kesehatan dan kenyamanan.

Kegiatan tersebut, diikuti para pengelola pasar, sanitarian, Kepala Puskesmas, kepala desa/lurah dan camat se-Kabupaten Lutim.

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.