.

.

.

Jumat, 30 Maret 2018

Kades Buntu Matabing Tanggapi Sorotan Media, Terkait Perdes Alat Tangkap Sero atau Belat

Kades Buntu Matabing, Hidayat

Hidayat : Kami Tidak Lakukan Pungli Terhadap Para Nelayan Pemilik Sero

LUWU, Tabloid SAR- Mencuatnya sorotan media atas dugaan pungutan liar (Pungli) yang dialamatkan kepada Kepala Desa (Kades) Buntu Matabing Hidayat di wilayah Kecamatan Larompong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). Nampaknya mulai mendapat penanganan pihak Polres Luwu.

Pasalnya, sejumlah perangkat Desa Buntu Matabing dan puluhan warga pemilik alat tangkap ikan jenis Sero atau Balla (Belat- red) yang dibongkar paksa Sero-nya atas perintah Pemerintah Desa Buntu Matabing, diperiksa dan dimintai keterangannya oleh pihak penyidik Polres Luwu, Senin (26/3/2018).

Berdasarkan pantauan wartawan Tabloid SAR ketika pemeriksaan itu berlangsung, semua unit kerja Satreskrim Polres Luwu, mulai dari Unit I (satu) sampai Unit IV (empat), tampak sangat disibukkan dengan pemeriksaan sejumlah saksi terkait dugaan Pungli di Desa Buntu Matabing tersebut.

Termasuk Kedes Buntu Matabing Hidayat, ikut pula diperiksa oleh tim penyidik Polres Luwu terkait kasus ini.

Dalam kesempatan ini, kepada wartawan Tabloid SAR, Hidayat menuturkan bahwa ia bersama para perangkat desanya tidak melakukan Pungli.

“Dalam kasus ini, kami diduga melakukan Pungli terhadap para nelayan yang menggunakan alat tangkap ikan jenis Sero. Itu tidak benar, karena kami hanya melakukan penertiban Sero yang dipasang para nelayan dari luar desa kami di wilayah pesisir pantai Desa Buntu Matabing,” bantahnya.

Menurut Hidayat, pada umumnya nelayan dari luar Desa Buntu Matabing yang datang memasang alat tangkap Sero di wilayah pesisir pantai desanya.

Karena Sero itu, kelihatannya sangat semrawut dan menggangu arus lalulintas perahu-perahu nelayan di desa kami, sehingga kami tertipkan dengan mengacu pada Perdes Buntu Matabing Nomor 04 Tahun 2016 tentang Penertiban Tempat Sero/Balla.

“Jadi Perdes itu, kami buat semata-mata untuk menertibkan alat tangkap Sero milik nelayan di wilayah pesisir kami, jika melanggar Perdes tersebut,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Hidayat menjelaskan bahwa proses pembuatan Perdes ini, sudah sesuai dengan mekanisme yang berlaku di desanya. Sebab, telah mendapat persetujuan dalam musyawarah masyarakat Desa Buntu Matabing, sebagaimana yang dituangkan melalui, Keputusan BPD Buntu Matabing Nomor : 07/DPD/VI/Tahun 2017 tentang Persetujuan Penetapan Peraturan Desa tentang Penertiban Tempat Sero/Balla di Desa Buntu Matabing Tahun 2016.

Ia menambahkan bahwa jika Sero milik para nelayan itu tidak ditertibkan. Maka kondisi pantai di Desa Buntu Matabing akan semakin semrawut.

“Apalagi pantai di desa kami menjadi tempat wisata yang biasanya dikunjungi parawisatawan domestik untuk rekreasi,” ucapnya.

Kades Buntu Matabing menjelaskan pula bahwa selain menggangu arus lalulintas perahu nelayan di desanya. Juga karena membuat tidak nyaman kegiatan rekreasi masyarakat. Terlebih bagi para wisatawan yang menggunakan motor boat. Mereka tidak bisa leluasa bermanuver akibat adanya Sero yang dipasang secara tidak beraturan tersebut.

“Jadi dengan alasan itulah, sehingga diterbitkan Perdes ini sebagai dasar untuk melakukan penertiban,” jelas Hidayat sembari mengatakan tidak ada warga desanya yang mempersoalkan Perdes itu.

Namun yang mempersoalkan Perdes tersebut, kata Hidayat justru warga dari desa tetangga (Desa Rantebelu- red).

“Mereka bisa saja tidak setuju dengan Perdes ini, sebab mereka memang bukan warga Desa Buntu Matabing,” ujarnya.

“Maka sangat aneh, jika warga desa lain yang justru merasa keberatan dengan Perdes ini. Karena produk Perdes ini adalah hasil musyawarah warga desa kami. Tentunya tidak perlu melibatkan masyarakat dari luar desa, termasuk desa tetangga yang berbatasan langsung dengan desa kami,” paparnya.

Lalu terkait adanya tudingan Pungli, Hidayat mengatakan pihaknya tidak mengerti apa alat bukti atau dasar para nelayan yang ditertibkan Sero-nya menuding bahwa Pemerintah Desa Buntu Matabing telah melakukan Pungli terhadap mereka.

“Kami sendiri tidak pernah liat uangnya. Tapi justru kamilah yang mengeluarkan uang untuk menertibkan alat tangkap Sero tersebut,” tandasnya.

Ketika ditanya mengenai sikapnya yang terkesan arogan dan malah menantang wartawan agar memberitakan permasalahan ini, saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu. Kades Buntu Matabing menuturkan bahwa sebenarnya ia tidak bermaksud demikian.

“Saya tidak bermasud begitu terhadap rekan-rekan wartawan, hanya saja nada suara saya memang termasuk keras secara alami. Apalagi dikonfirmasi melalui telepon. Kadang-kadang signalnya kurang bagus, sehingga harus pula suara saya mesti diperkeras agar lebih jelas kedengaran. Maka mungkin saja teman-teman wartawan mengira, bahwa saya membentak dan bersifat menantang, serta arogan, saat mendengar suara saya dibalik telpon,” tutur Hidayat sambil terkekeh-kekeh kecil, berlaku sok akrab.

Kemudian ia menjelaskannya bahwa maksudnya adalah silahkan angkat di media tapi jangan sepihak. Karena selama ini Hidayat, merasa selalu dipojokkan oleh pemberitaan di media terkait persoalan Persdes tersebut.

“Padahal apa yang dikemukakan warga kepada rekan-rekan wartawan, tidak seperti itu,” kilahnya.

Terkait permasalahan ini, Hidayat juga menyampaikan jika dirinya bersama Ketua BPD Buntu Matabing telah menerima surat permintaan klarifikasi dari Aktivis Pembela Arus Bawah.

“Saya sudah dua kali ke Palopo mencari kantor LSM tersebut, untuk memberikan klarifikasi secara langsung, namun tidak ketemu. Tapi saya tetap mau ketemu LSM itu, agar permasalahan ini bisa clear,” akunya.

Kemudian Kades Buntu Matabing menambahkan bahwa atas adanya pemeriksaan pihak penyidik Polres Luwu terhadap mereka (Kades dan perangkat-perangkatnya). Ia menerangkan bahwa sebagai warga negara, mereka jelas akan patuh dan taat pada hukum yang berlaku di Indonesia.

“Selaku warga negara, kami wajib taat dan patuh terhadap aturan, serta ketentuan hukum yang berlaku. Termasuk memenuhi panggilan pihak penyidik Polres Luwu terkait persoalan ini. Namun saya juga meminta kepada teman-teman wartawan, supaya berimbang dalam memberitakan hal ini,” pinta Hidayat dengan rada memohon.

Penulis   : Tim Lipsus
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.