.

.

Rubrik

.

Jumat, 23 Maret 2018

Kepala SMP Negeri 2 Rantepao Berupaya Penuhi 8 Standar Pendidikan Nasional


Kepala SMP Negeri 2 Rantepao, Zeth Patanduk, S.Pd
TORAJA, Tabloid SAR- SMP Negeri 2 Rantepao yang berada disekitar jantung Ibukota Kabupaten Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah salah satu sekolah tervaforit dan banyak digandrungi para pelajar berprestasi setelah tamat pada Sekolah Dasar (SD) atau sederajatnya .

Bahkan jauh sebelum Torut, mekar dari Kabupaten Tana Toraja (Tator) SMP Negeri 2 Rantepao sudah menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) pasca runtuhnya Orde Baru (Orba) pada awal reformasi di akhir tahun 1990an.

Untuk menjadi sebagai sekolah vaforit berstatus RSBI, tentu tidak-lah mudah dan segampang membalikkan telapak tangan. Karena sebelumnya harus mampu meraih berbagaimacam prestasi, baik pada bidang akademik, maupun non akademik.

Kendati demikian, seiring berjalannya waktu sekolah ini, kemudian mengalami distorsi. Masa-masa kejayaannya yang penuh dengan prestasi di masa silam nyaris memudar pada awal berdirinya Kabupaten Torut sebagai daerah otonomi baru.

Namun beberapa tahun terakhir, SMP Negeri 2 Rantepao kemudian bangkit kembali mengukir sejumlah prestasi gemilang, sama seperti yang pernah diraih pada masa lampau. Sehingga masa-masa kejayaannya pada era tahun 1990an bisa dirasakan kembali hingga saat ini.

Bahkan dengan istilah baru dalam dunia pendidikan pada era sekarang, SMP Negeri 2 Rantepao kini sudah menjadi ‘Sekolah Model’ yang memiliki 5 ‘Sekolah Imbas’ yang masih berstatus sebagai ‘Sekolah Reguler Biasa’.

Kelima Sekolah Imbas yang sedang diperjuangkan dan didampingi oleh SMP Negeri 2 Rantepao untuk dapat naik menjadi Sekolah Model adalah SMP Negeri 1 Tondon, SMP Kristen Tagari, SMP Pelita Harapan, dan SMP Anugrah Rantepao, serta SMP Katolik Rantepao.

Menjadi Kepala Sekolah (Kepsek) berpredikat Sekolah Model yang bertanggungjawab untuk meningkatkan sekolahnya menjadi ‘Sekolah Rujukan’ dan berkewajiban memajukan lima Sekolah Imbas dengan predikat Sekolah Reguler Biasa agar dapat menjadi Sekolah Model tidaklah mudah dilaksanakan.

Hal tersebut, diungkapkan Kepala SMP Negeri 2 Rantepao Zeth Patanduk, SPd, saat ditemui wartawan Tabloid SAR di ruang kerjanya, Jumat (23/3/2018) siang.

“Menjadi Kepsek Model, saya bersama seluruh Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) SMP Negeri 2 Rantepao bertanggungjawab untuk meningkatkan mutu sekolah kami, agar dapat menjadi Sekolah Rujukan, dan dalam waktu bersamaan pula, kami juga berkewajiban untuk mendorong lima Sekolah Imbas kami agar dapat meningkat menjadi Sekolah Model adalah sebuah tugas berat,” kata Zeth.

Meski demikian, Zeth mengaku kedua tugas dan tanggungjawab tersebut, dapat diwujudkan dengan cara memenuhi 8 standar pendidikan nasional.

“Untuk meningkatkan mutu pendidikan sebuah sekolah, kuncinya selain semangat optimisme dan kebulatan tekad, kita harus memenuhi delapan standar pendidikan nasional yang meliputi standar isi, proses pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan (PTK), sarana dan prasarana (Sapras), pengelolaan, penilaian, pembiayaan dan standar kelulusan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sejak dirinya resmi menahkodai SMP Negeri 2 Rantepao, dirinya berkomitmen untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di sekolah itu, dengan cara berupaya semaksimal mungkin memenuhi 8 standar pendidikan nasional.

“Dalam rangka mewujudkan delapan standar pendidikan nasional itu, maka saya harus melakukan pembenahan internal dan eksternal,” tukasnya.

Lebih lanjut, mantan Wakil Kepala SMP Negeri 2 Sanggalangi’ tersebut, menjelaskan bahwa pada tahap pembenahan internal, ia mengawalinya dengan melakukan pendekatan presuasif pada selutuh PTK yang ada di SMP Negeri 2 Rantepao.

“Alhasil saya dapat meyakinkan seluruh teman-teman PTK untuk berkomitmen memenuhi delapan standar nasional itu. Dalam hal ini, semua setuju bahwa apapun yang akan dilakukan dalam rangka pemenuhan delapan standar pendidikan tersebut, harus kami tetapkan secara bersama-sama dan dilaksanakan sesuai dengan pembagian tugas atau tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati bersama. Tanpa mengabaikan tugas dan fungsi pokok (Tupoksi), serta hak perogatif mereka,” jelasnya Zeth.

Karena menurutnya, sehebat apapun seorang Kepsek, ia tidak akan berhasil jika tidak bekerjasama dan tidak didukung oleh seluruh PTK di sekolah yang dinahkodainya.  

Sedangkan dalam upaya pembenahan eksternal, Zeth mengaku bahwa pihaknya bekerjasama dengan seluruh pihak terkait, untuk mewujudkan 8 standar pendidikan nasional tersebut.

“Pada ruang lingkup eksternal, kami bekerjasama dengan seluruh stakeholder terkait, mulai dari orangtua anak didik kami, pihak masyarakat sekitar sekolah dan pemerintah setempat (kelurahan- red), hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Torut. Agar seluruh komponen tersebut, bisa sama-sama mendukung untuk memenuhi delapan standar pendidikan nasional itu,” sebutnya.

Selain itu, Zeth menegaskan bahwa para Kepsek termasuk PTK sekolah diwajibkan mengelola pendidikan secara profesional. Sedangkan orangtua peserta didik, serta masyarakat dan pemerintah harus pula ikut berpatisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut.

“Sehingga dalam pemenuhan sarana dan prasarana (Sarpras) sekolah, selain butuh pengelolaan manajerial secara profesional, juga butuh dukungan dari pihak luar dan stakeholder terkait. Hal itu, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,” tegasnya.

Sementara terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP), serta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang akan dilaksanakan selama empat hari pada tanggal, 23-26 April 2018 mendatang.

Menurut, Zeth bahwa pada prinsipnya mereka harus siap, apa lagi sekolah yang dinahkodainya dipercayakan sebagai penyelenggara UNBK tahun ini.

“Sebenarnya UNKP dan UNBK bukanlah momok yang harus ditakuti dan diwaspadai secara khusus, karena itu sudah menjadi aktivitas dan rutinitas sekolah setiap tahun,” ucapnya.

Walau demikian, Zeth mengungkapkan bahwa pihaknya tetap melakukan sejumlah persiapan khusus, agar anak didiknya dapat lulus dengan hasil yang lebih maksimal dan memuaskan.

“Untuk mempersiapkan mental dan wawasan siswa-siswi Kelas IX (Kelas 3- red) di sekolah ini, kami melakukan peningkatan atau tambahan jam belajar pada waktu sore hari, mulai pukul 14.00-16.00 Wita, sejak bulan Januari hingga Maret 2018. Pada jam tambahan ini, Kelas IX dilatih mengerjakan simulasi soal-soal UNBK yang terdiri dari soal mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Matematika dan IPA,” ungkapnya seraya mengatakan simulasi tersebut, dilaksanakan tiga kali tahapan, dan terakhir glady bersihnya berlangsung tanggal, 19-20 Maret baru-baru ini.

Melalui kesempatan ini, Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (FKIP UKI) Toraja, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tersebut, menerangkan bahwa tahun ini, sebanyak 394 orang muridnya akan mengikuti UNKP dan UNBK.

“Jumlah keseluruhan peserta didik kami, sebanyak 1.026 orang, 394 diantaranya akan mengikuti UNKP dan UNBK pada bulan April mendatang,” tandasnya.

Untuk diketahui Tenaga Pendidik dan Kependidikan (TPK) di SMP Negeri 2 Rantepao, terdiri dari 48 orang guru PNS, 5 tenaga honorer daerah dan 8 orang guru masih berstatus honorer sekolah atau guru sekurela, serta 8 orang staf, 3 diantaranya sudah PNS dan 4 orang masih honorer daerah, termasuk 1 orang tenaga sukarela yang bertugas sebagai cleaning sevice.

Penulis   : William Marthom & David Luase
Editor     : Zottok  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.