.

.

Rubrik

.

Selasa, 06 Maret 2018

Pelajar SMA Kristen Barana’ Berhasil Bawa Pulang Medali Perak dari Singapura

Siswi SMA Kristen Barana' Priskila Arta Bundu memperlihatkan medali perak yang berhasil dibawa pulang dari event tingkat internasional yang diselenggarakan di Singapura setelah berhasil mengungguli delegasi negara-negara anggota ASEAN lainnya.

Priskila Arta Bundu : Pemerintah Singapura, Tegas dan Konsisten Menjalankan Aturan Hukum di Negaranya Terutama Mengenai Masalah Lingkungan

TORAJA, Tabloid SAR- Setelah pelajar SMA Kristen Barana’ berhasil membawa pulang satu medali perak dan dua medali perunggu pada tingkat internasional dari event Word Mathematics Team Champion (WMTC) Thailand pada November 2017 lalu.

Kini menyusul seorang siswi sekolah yang dinahkodai oleh Yusuf Pongsibidang, S.Si, M.Pd, sejak tahun 2009 tersebut, kembali mengukir prestasi gemilang.

Kali ini, siswi Kelas XI IPA SMA Kristen Barana’ kembali berhasil membawa pulang medali perak dari Youth Environmental Summit (YES) tahun 2018 yang diselenggarakan di Singapura pada tanggal, 31 Januari- 4 Februari 2018.

Event YES yang diadakan di Singapura ini, diikuti lebih dari 400 orang peserta dari 13 negara-negara anggota ASEAN termasuk Indonesia.

Siswi SMA Kristen Barana’ Priskila Arta Bundu  berhasil meraih medali perak setelah berhasil mengungguli ratusan kompetitor yang menjadi peserta Seminar dan Workshop YES 2018 tersebut.

Menurut, Priskila dalam event itu, para peserta mengikuti program terpadu dengan diajari pengetahuan khusus tentang masalah lingkungan melalui serangkaian seminar inspirasional oleh para pakar dan aktivis internasional dari lembaga sosial pemerhati lingkungan terkemuka di dunia.

Selain itu, peraih medali perak ini, menerangkan bahwa dalam workshop atau lokakarya tersebut, para peserta memiliki kesempatan untuk mendiskusikan ide-ide dan gagasannya dengan rekan-rekan mereka dan para mentor yang berlatar-belakang ahli lingkungan dan aktivis internasional dari lembaga pemerhati lingkungan.

“Kita bebas berinteraksi dengan para peserta lainnya, termasuk para mentor profesional yang diundang khusus dalam kegiatan itu. Guna menyusun konsep atau desain proyek (kegiatan) yang berkaitan dengan lingkungan untuk memperbaiki masyarakat di sekitar kita,” terang Priskila saat ditemui di sekolahnya pada, Rabu (21/2/2018) siang.

Selain seminar, kata Priskila mereka juga diajak melakukan kunjungan lapangan dan lokakarya untuk mempelajari metode pemilahan sampah berdasarkan sifatnya.

“Di situ, kami diajari cara memilah sampah berdasarkan sifatnya, yakni sampah sampah basah (organik), dan sampah kering (anorganik), serta sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun),” sebutnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sampah basah terdiri dari bahan-bahan yang bisa terurai secara alamiah atau biologis, seperti sisa makanan dan daun-daunan. Sebaliknya, sampah kering terdiri dari bahan-bahan yang sulit terurai secara biologis. Sampah jenis ini butuh proses penghancuran dengan penanganan lebih lanjut di tempat khusus, misalnya plastik, kaleng dan styrofoam. Sedangkan sampah B3 adalah limbah dari bahan berbahaya dan beracun, seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik dan lain sebagainya.

Priskila menambahkan, bahwa dalam kegiatan itu, para peserta juga belajar mengenai keanekaragaman hayati, dan belajar bagaimana cara pengolahan limbah cair.

Alumni SMP Negeri 1 Mamasa, Sulawesi Barat tersebut, juga mengungkapkan bahwa pada sesion terakhir dalam lokakarya itu, semua siswa yang menjadi delegasi sekolahnya diwajibkan mempresentasikan ide-ide dan gagasan mereka kepada para dewan juri untuk dinilai.

“Nah dalam persentase itulah, saya berhasil mengungguli peserta lainnya. Sehingga saya dapat membawa pulang medali perak,” jelasnya.
Sertifikat medali perak yang berhasil dibawa pulang oleh Priskila Arta Bundu dari Youth Environmental Summit  2018 
Anak ketiga, empat bersaudara dari pasangan Pdt. Yusuf Arha, S.Th dengan Ny. Arruan Langi’ tersebut, juga menuturkan bahwa ide dan gagasan yang mereka persentasekan pada bagian akhir event itu, berupa tawaran atau solusi konkrit untuk mengajak orang lain sehingga bisa peduli dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan di sekitarnya.

“Saya sendiri pada sesion itu, mempersentasekan cara pengolahan sampah secara ideal. Dengan mengajak peserta untuk mendaur ulang sampah, sehingga tidak menjadi limbah yang mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3). Karena mendaur ulang sampah, berarti kita mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis atau dapat menghasilkan uang dan bisa juga menjadi tambahan mata pencaharian, apa lagi dalam skala lebih besar,” sebut Priskila.

Dalam kesempatan ini, pelajar sekolah rujukan atau sekolah percontohan bagi seluruh SMA di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan tersebut, mengungkapkan kesaksiannya bahwa Singapura adalah negara yang sangat bersih dan tata kotanya begitu rapih, seperti sebuah kompleks perumahan elit di Indonesia.

“Di sana kotanya super bersih dan sangat rapih, karena pemerintah Singapura, tegas dan konsisten menjalankan aturan hukum di negaranya terutama mengenai masalah lingkungan. Mereka tegas, misalnya jika ada warga negara Singapura yang membuang sampah di sembarang tempat, kalau ketahuan akan dikenakan sanksi berupa denda sebanyak 500 dollar Singapura,” ungkap Priskila.

Tidak hanya itu, peraih medali perak dari event tingkat internasional tersebut, juga membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dan tata kota di Singapura dengan Indonesia.

“Pemerintah Singapura saya akui konsistensinya dalam menerapkan sanksi sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku di negaranya. Berbeda dengan negara kita. Karena di Indonesia terkadang aturan hukumnya, hanya sekedar dijadikan sebagai pajangan semata,” ketus Priskila dengan rada kritis.

Kendati demikian, kata Priskila negara-negara di dunia, khususnya anggota ASEAN mengakui keunggulan Indonesia dalam pengelolahan sampah.

“Indonesia terkenal dan diakui, sangat kreatif dalam mendaur ulang sampah. Sehingga sampahnya, dapat menjadi lebih bernilai ekonomis, bahkan sampah-sampah plastik dan kaleng yang terbuat dari besi atau aluminium dapat disulap menjadi peralatan atau perkakas rumah tangga,” salutnya.
  
Untuk diketahui, peserta seminar dan workshop tersebut terdiri dari dua kategori,  yakni kategori junior diikuti oleh siswa-siswi setingkat sekolah dasar (SD) usia 9-12 tahun, sedangkan peserta kategori senior adalah siswa-siswi SMP dan SMA sederajat berumur 13-18 tahun.

Penulis   : William Marthom
Editor     : zottok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.