.

.

Rubrik

.

Kamis, 01 Maret 2018

Tiga Pelajar SMA Kristen Barana’ Berhasil Bawah Pulang Medali dari WMTC Thailand 2017

Dari kiri kekanan : Wakil Kepala SMA Kristen Barana' Bidang Humas Efraim, S.Si, M.Pd, juara pemenang medali perunggu dari event WMTC Thailand 2017 Gloria Samantha Tikupasang, juara pemenang medali perak event Youth Environtmental Summit 2018 (KTT Lingkungan Hidup 2018) yang diselenggarakan di Singapura pada Februari 2018 Priskila Arta Bundu dan juara pemenang medali perunggu dari event WMTC Thailand 2017 Natasya Pinkan Mapaliey, serta Koordinator Event Organizer ASTA Ilmu Jakarta Andre. Foto bersama di Taman Johannes Belksma tempat belajar di ruang terbuka bagi siswa-siswi SMA Kristen Barana’, seusai mengikuti wawancara khusus dengan wartawan Tabloid SAR, Rabu (21/2/2018) siang.

Word Mathematics Team Champion (WMTC) Thailand Diikuti 1.194 Peserta dari 23 Negara

TORAJA, Tabloid SAR- Sungguh sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri dirasakan ketika siswa-siswi SMA Kristen Barana’ mendapat undangan untuk ikut berkompetisi pada ajang lomba matematika tingkat Internasional di negara Thailand.

Mungkin seperti itulah gambaran perasaan dan ekspresi yang dirasakan oleh segenap Keluarga Besar SMA Kristen Barana’. Baik kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para guru, staf dan segenap insan pelajar SMA Kristen Barana’ saat mendapat undangan untuk mengutus siswa-siswinya sebagai delegasi guna mengikuti Word Mathematics Team Champion (WMTC) Thailand 2017 pada awal November 2017 lalu.

Pasalnya baru kali ini, SMA yang diproyeksikan sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) tersebut, mendapat undangan untuk mengikuti lomba akademik tingkat internasional. Di sisi lain, ajang yang setara dengan olimpiade matematika internasional itu, dapat dijadikan sebagai ruang dalam menguji kemampuan atau kompetensi para pelajar SMA Kristen Barana’ pada tingkat internasional.

Karena selama ini, pelajar dari sekolah besutan penginjil asal negara Belanda, Mr. Johannes Belksma yang diutus Gereformeerde Zendings Bond (GZB) untuk mengabarkan injil di Toraja tersebut, sudah sering kali meraih prestasi gemilang pada olimpiade matematika baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pada tingkat nasional. Namun belum pernah mengikuti olimpiade matematika pada tingkat internasional.

Apa lagi Word Mathematics Team Champion (WMTC) Thailand yang sudah menjadi event tahunan selama ini diikuti oleh ribuan peserta dari 23 negara. Sebanyak 1.194 peserta yang ikut dalam lomba WMTC Thailand 2017, berasal dari negara-negara Asia Tenggara, Amerika, hingga Eropa.

Hal tersebut, diungkapkan oleh Wakil Kepala SMA Kristen Barana’ Bidang Humas Efraim, S.Si, M.Pd, ketika mendampingi anak didiknya yang berhasil menyabet medali perak dan perunggu dari even WMTC Thailand 2017, pada Rabu (21/2/2018) lalu di Taman Johannes Belksma tempat belajar di ruang terbuka bagi siswa-siswi SMA Kristen Barana’.

Menurutnya, dalam tempo 3 minggu sebelum lomba WMTC digelar di Thaliand, barulah SMA Kristen Barana’ mendapat undangan dari Koordinator Event Organizer ASTA Ilmu Jakarta, salah satu lembaga pemerhati pendidikan yang bergerak di bidang Pendidikan dan Sains.

“Karena waktunya sudah sangat mepet, baru sekolah kami mendapat pemberitahuan untuk mengutus delegasi pada even internasional itu, maka secara otomatis waktu kami sangat terbatas dalam membekali dan melatih secara khusus para delegasi kami,” kata Efraim seraya mengatakan, mereka (guru matematika- red) hanya memberikan bimbingan khusus kepada ketiga delegasinya sebanyak dua kali dalam sepekan dengan durasi sekitar 2 jam setiap pertemuan pasca menerima undangan.

Hal itu, dibenarkan oleh Koordinator Event Organizer ASTA Ilmu Jakarta Andre yang wilayah kerjanya di Indonesia meliputi daerah Kalimantan, Sulawesi dan Sumatra.

“Iya, waktu itu kami memang termasuk agak telat mengirimkan undangannya ke SMA Kristen Barana’. Sebab sebelumnya, kami harus memverifikasi semua sekolah yang masuk kategori berprestasi siswa-siswinya di bidang ilmu sains khususnya mata pelajaran matematika. Karena begitu banyaknya sekolah yang harus diverifikasi, maka verikasinya membutuhkan waktu lumayan lama,” ujar Andre menimpali penjelasan Efraim ketika sama-sama mendampingi para juara WMTC Thailand 2017 saat wartawan Tabloid SAR melakukan wawancara khusus di SMA Kristen Barana’.

Ia menjelaskan bahwa, ASTA Ilmu Jakarta selaku lembaga pemerhati pendidikan, bergerak pada bidang pemberdayaan pelajar yang berprestasi khususnya pendidikan ilmu sains di Indonesia. Dalam melakukan verifikasi sekolah berprestasi anak didiknya, mengacu pada sejumlah indicator penilaian yang dijadikan barometer.

“Ada beberapa indicator dalam melakukan penilaian, layak tidaknya peserta didik sebuah sekolah untuk mengikuti even ini. Mulai dari mencari informasi sekolah-sekolah yang berprestasi anak didiknya pada bidang ilmu pendidikan matematika, termasuk pernah mengikuti olimpiade matematika dan berhasil menjadi juara. Nilai-nilai prestasi tersebut, menjadi salah satu barometer kami dalam menilai tingkat kelayakannya. Termasuk penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa ingris yang menjadi bahasa Internasional,” jelas Andre.

Lebih lanjut, pria berbadan besar itu menerangkan bahwa ketiga delegasi SMA Kristen Barana’ setibanya di Jakarta, mereka di tampung dalam Base Camp ASTA Ilmu Jakarta selama hampir seminggu.

“Saat ditampung di Base Camp, para delegasi Indonesia, termasuk siswa-siswi utusan SMA Kristen Barana’ dilatih dan dibekali secara khusus oleh para mantan juara olimpiade matematika tingkat nasional  dan internasional yang diberdayakan oleh ASTA Ilmu Jakarta selama ini,” terangnya.

Menariknya, Andre mengatakan bahwa kalaupun tiga delegasi dari SMA Kristen Barana’ hanya dapat membawa pulang satu medali perak dan dua medali perunggu, namun ia sudah merasa bersyukur.

“Kalaupun adik-adik kita dari sekolah ini, cuma bisa membawa pulang medali perak dan perunggu. Saya sudah sangat bersyukur, karena itu menjadi awal yang baik dalam mengukir prestasi pada tingkat internasional khususnya dalam bidang ilmu matematika. Dan hal yang tak kalah pentingnya adalah bahwa kita telah membuktikan kalau para juara internasional, tidak hanya kalangan elit dari sekolah-sekolah di kota-kota besar atau metropolitan. Tetapi sebenarnya bibit para juara itu, juga banyak di pelosok daerah yang ada di Indonesia,” tegas Andre sembari menghimbau agar SMA Kristen Barana’ tetap menjaga dan berusaha meningkatkan prestasi-prestasi yang telah dicapai anak-anak didiknya.
Para siswi SMA Kristen Barana' yang berhasil meraih medali perak dan perunggu dari event Internasional, foto bersama kedua pembimbing mereka di halaman sekolahnya seusai mengikuti wawancara khusus dengan wartawan Tabloid SAR
Sementara, Natasya Pinkan Mapaliey dan Gloria Samantha Tikupasang yang berhasil meraih medali perunggu dalam even WMTC Thailand 2017 dalam wawancara khusus ini, mengatakan bahwa mereka bersyukur dan bangga dapat mengikuti lomba tersebut.

“Kami bersyukur dan bangga bisa mengikuti even itu, karena sebelumnya kami baru mengikuti lomba matematika (olimpiade matematika) pada tingkat kabupaten, provinsi dan nasional ketika kami masih berada dibangku Kelas XI. Kami juga bangga karena ini, kali pertamanya ada siswa-siswi SMA Kristen Barana’ ikut lomba akademik pada tingkat internasional. Tapi kalau lomba non akademiknya, sudah banyak  dari sekolah ini yang berhasil meraih juara, bahkan membawa pulang medali emas,” kata Natasya dan Gloria.

Kedua siswi Kelas XII Jurusan IPA SMA Kristen Barana’ tersebut, juga mengisahkan bahwa hal yang paling sulit dalam lomba yang mereka ikuti di Thailand itu, adalah mengerjakan soal-soal essai terbuka internasional menggunakan bahasa Ingris.

“Soal-soal essainya, meski hanya 20 nomor, tapi harus diselesaikan dalam interval waktu selama 40 menit. Termasuk sulit, karena selain waktunya begitu singkat, juga semua menggunakan soal essai terbuka internasional dalam bentuk bahasa Ingris,” tutur para juara WMTC Thailan 2017 tersebut.

Selain itu, Natasya mengungkapkan bahwa kendala yang mereka alami menjelang kompetisi ini adalah mengenai manajemen membagi waktu belajar.

“Sebelum berangkat ke Thailand, kami mengalami kendala dalam membagi waktu belajar. Kami harus pandai-pandai membagi waktu, mana waktu untuk mengikuti pelajaran reguler di dalam kelas dan waktu mengerjakan tugas-tugas belajar, termasuk waktu untuk mengikuti bimbingan khusus sebagai persiapan dalam mengikuti lomba bertaraf internasional itu,” ungkap alumni SMP Negeri 2 Rantepao yang bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran atau Fakultas Matematika Sains pada salah satu Perguruan Tinggi ternama di Indonesia setelah menyelesaikan study di SMA Kristen Barana’ nantinya.

Hal senada disampaikan Gloria, menurut alumni SMP Negeri 1 Palopo ini, bahwa dirinya bersama kedua rekannya yang ikut berkompetisi dalam ajang internasional di Thailand pada November 2017 lalu, lumayan kerepotan mengatur waktu belajarnya pra keberangkatan mereka.

“Karena waktu belajar kami begitu padat. Maka kami bertiga kompak mengatur jadwal bersama untuk mengikuti semua jam belajar secara maksimal, kalaupun sebenar kami lumayan keteteran,” sebut siswi Kelas XII IPA SMA Kristen Barana’ yang bercita-cita menlanjutkan study di Fakultas Tehnik Perminyakan Institut Tehnik Bandung (ITB) setelah tamat di sekolah yang dinahkodai Yusuf Pongsibidang, S.Si, M.Pd, sejak tahun 2009 tersebut.

Sayangnya, salah satu siswa SMA Kristen Barana’ yang berhasil membawa pulang medali perak pada ajang kompetisi WMTC Thailand 2017, yakni Yohannes Sebastian Sibarani tidak sempat mengikuti wawancara khusus ini. Berhubung karena yang bersangkutan sedang dalam kelemahan tubuh (sakit) ketika wartawan Tabloid SAR menggelar wawancara khusus dengan para juara internasional di SMA Kristen Barana’.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media ini, menyebutkan bahwa event tahunan WMTC yang berlangsung di Thailand selama 5 hari pada November 2017 lalu, diikuti 1.194 peserta dari 23 negara.

Delegasi dari Indonesia diwakili oleh masing-masing satu orang dari sekolah berprestasi asal Kabupaten Bogor, Bekasi, Jepara, Surabaya, Tanjung Selor, Bulungan dan tiga orang dari SMA Kristen Barana’ Kabupaten Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan.

Biaya transportasi yang dibutuhkan para delegasi dari SMA Kristen Barana’ untuk mengikuti event internasional tersebut, sekitar Rp 15 juta perorang. Lima belas persen dari biaya itu, ditanggung oleh pihak sekolah dan 75 persennya ditanggung secara mandiri oleh para delegasi.

Penulis   : William Marthom
Editor     : Zottok 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.