.

.

Tuesday, 20 March 2018

Woow Hebat.... Toraja TV Telah Miliki IPT dari Kementrian Kominfo RI

Manajer Toraja TV Ir. Rudi Rantepasang

TORAJA, Tabloid SAR- Sejak tahun 2011 Toraja TV milik PT Toraja Media Mandiri yang bergerak pada bidang layanan jasa cable television (televisi kabel- red) sudah mulai beroperasi di Rantepao, Ibukota Kabupaten Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Perusahaan ini, pada awal beroperasi hanya mampu menyiarkan belasan siaran (broadcast) atau saluran (channel) televisi lewat isyarat frekuensi radio yang ditransmisikan melalui bentangan kabel coaxial dari studio milik Toraja TV keratusan rumah penduduk di sekitar pusat Kota Rantepao.

Namun seiring berjalannya waktu, Toraja TV terus berkembang dan terus berbenah diri dengan dukungan teknologi modern yang disertai pelayanan prima, sehingga televisi kabel tersebut, kini telah mampu menyiarkan lebih dari 40 channel atau siaran televisi kepada ribuan rumah pelanggannya.

Perkembangan pesat yang berhasil diraih oleh Toraja TV dalam menggaet ribuan konsumen atau pelanggan, membuat manajemen perusahaan televisi kabel ini, lebih bersemangat dan bergairah untuk mengembangkan, serta berupaya melegalkan bisnis tersebut, sesuai dengan regulasi dan ketentuan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Hal itu, ditandai dengan upaya meningkatkan kualitas gambar dan suara siarannya. Untuk meningkatkan kualitas tersebut, pihak pengelola Toraja TV mengganti kabel coaxialnya dengan menggunakan teknologi kabel terbaru, yakni kabel fiber optik.

Karena melalui kabel fiber optik, siaran televisi yang ditransmisikan menggunakan gelombang cahaya dengan cara mengkonversi sinyal radio frekuensi (RF) menjadi gelombang cahaya laser SOS, membuat kualitas siaran lebih berkualitas.

Selain itu, kabel fiber optik memiliki kapasitas bandwidth lebih besar gigabitnya dalam hitungan per detik, dengan jarak transmisi yang lebih jauh dan mampu menjangkau hingga radius lebih dari 60 kilometer dari Studio Toraja TV, serta lebih kebal terhadap interferensi elektromagnetik.

Kendati demikian, penggunaan kabel fiber optik masih tergolong mahal karena perangkat elektroniknya masih selangit. Sehingga pihak pengelola Toraja TV harus mengeluarkan banyak biaya untuk kebutuhan itu.  

Sementara dalam upaya melegalkan bisnis tersebut, sesuai regulasi yang berlaku, maka pihak manajemen Toraja TV berupaya memenuhi segala prasyarat dan ketentuannya.
Upaya itu, kemudian menuai hasil awal dengan mendapatkan izin dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel.

Setelah berhasil mengantongi izin penyiaran dari KPID Sulsel, beberapa waktu lalu. Kemudian pada akhir tahun 2017 lalu, Toraja TV  akhirnya mendapat Izin Prinsip Tetap (IPT) dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo RI).

Hal tersebut, diungkapkan oleh Manajer Toraja TV, Ir Rudi Rantepasang saat ditemui di Studio Toraja TV, pada pertengahan Maret 2018 lalu.

“Ketika baru memulai usaha ini, kami cuma mampu menyiarkan belasan channel dengan pelanggan diatas seratusan sambungan rumah. Tapi dengan upaya dan semangat untuk mengembangkan eksistensi bisnis ini, sehingga kami terus meningkatkan kualitas siaran Toraja TV, termasuk menambah jumlah channelnya hingga mencapai lebih dari 40 siaran,” kata Rudi.

Ia menambahkan bahwa dari 40an channel tersebut, satu diantaranya merupakan siaran lokal.

“Siaran lokal itu, untuk menyiarkan iklan layanan masyarakat, seperti informasi-informasi Pemerintah Kabupaten Toraja Utara (Pemkab Torut) yang sifatnya harus segera diketahui publik. Termasuk untuk menyiarkan kegiatan-kegiatan kerohanian dan event-event atau pagelaran kebudayaan. Tak terkecuali upacara-upacara adat Toraja berupa rambu tuka’ (syukuran dan atau prosesi pernikahan- red), serta upacara rambu solo’ (prosesi ritual pemakaman- red),” tuturnya.

Alumni Fakultas Teknik Jurusan Arsitek Universitas Hasanuddin (Unhas) tersebut, menerangkan bahwa untuk penayangan siaran lokal berupa upacara adat Toraja atau pagelaran kebudayaan, Toraja TV hanya mengenakan tarif sebesar Rp 50 ribu per disc (Kaset CD- red) dengan durasi sekitar 60 menit.

“Tarif penayangan upacara-upacara adat baik untuk ritual rambu tuka’ maupun rambu solo’, termasuk event-event kebudayaan, pada siaran lokal Toraja TV, kami cuma mengenakan tarif murah senilai Rp 50 ribu per disc. Karena tarif itu, sekedar untuk membantu biaya operasional mentenace (pemeliharaan). Sedangkan untuk tarif jasa layanan televisi kabel, setiap pelanggan Toraja TV kami kenakan iuran bulanan sebanyak Rp 40 ribu perbulan,” terang Rudi.

Melalui kesempatan itu, Ketua Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) Cabang Torut  tersebut, menjelaskan bahwa saat ini Toraja TV telah melayani ribuan pelanggan yang tersebar di wilayah Kecamatan Rantepao dan sekitar.

“Puji Tuhan karena Toraja TV saat ini, telah mampu melayani ribuan pelanggan yang tersebar di wilayah Kecamatan Rantepao dan sekitarnya. Bahkan kita sudah menggandeng beberapa pengusaha televisi kabel konvensional lokalan untuk bermitra dengan Toraja TV,” jelas Rudi.

Lebih lanjut Ketua FKPPI Torut ini, menerangkan  bahwa kerjasama dengan para pengusaha televisi kabel berbasis lokalan tersebut, Toraja TV menyiapkan studio dan fasilitas penyiaran menggunakan kabel fiber optik, sementara mitra mereka mengambil siaran dari Studio Toraja TV.

“Dalam kerjasama itu, mereka tinggal menyetor sekitar 25 persen dari hasil pembayaran pelanggan mereka kepada kami dan mereka tidak perlu membangun studio sendiri, karena tinggal menyambungkan siaran dari Sudio Toraja TV kepada para pelanggan mereka,” jelasnya.

Menurut pentolan Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jemaat Rantepao ini, bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memberdayakan para pengusaha lokal yang bergerak pada bidang jasa layanan televisi kabel.

“Selaku umat Kristen, kita diwajibkan mengasihi sesama manusia. Sehingga memberdayakan mereka, melalui kerjasama dengan Toraja TV, selain mempraktekkan ajaran kasih dengan nilai-nilai kekristenan. Disisi lain kami juga tetap menjaga usaha lokalan mereka agar tetap hidup dan tidak mati atau gulung tikar,” tandas Rudi sembari mengatakan bahwa model kerjasama demikian juga meniadakan konflik rebutan pelanggan diantara para pengusaha televisi kabel berbasis lokalan.

Penulis   : William Marthom
Editor     : Zottok   

No comments:

Post a Comment

.

.