.

.

.

Jumat, 03 Agustus 2018

Terkait Dugaan Korupsi Proyek Irigasi di Desa Pongko, “Andi Cincing Makkasau Dkk” Ditetapkan Sebagai Tersangka

Kajari Belopa, Gede Edhy Bujanayasa SH MH saat diwawancarai awak media Tabloid SAR, Senin (9/7/2018) di ruang kerjanya.

Kasat Reskrim Polres Luwu : Satu Orang Tersangka Dinyatakan Buron

LUWU, Tabloid SAR- Mungkin masih ingat dengan kasus dugaan korupsi Proyek Irigasi Salu (Sungai- red) Ampak yang berlokasi di Desa Pongko, Kecamatan Walenrang Utara, Kabupaten Luwu, Sulsel.

Adapun kasus dugaan korupsi yang sumber dananya berasal dari APBD Sulsel 2015 ini, cukup lama tidak terdengar. Ternyata kasus yang diusut pihak Polres Luwu ini, sudah memasuki tahap penyidikan yang ditandai dengan terbitnya tiga Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP).

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Luwu, Gede Edhy Bujanayasa SH MH, pada Senin (9/7/2018) siang lalu di ruang kerjanya.

“Ada tiga SPDP yang baru-baru ini telah diserahkan oleh pihak Polres Luwu pada kami, terkait dugaan korupsi proyek irigasi yang berlokasi di Desa Pongko tersebut,” tuturnya pada awak media Tabloid SAR.

Jadi dari ketiga SPDP yang sudah kami terima tersebut, lanjut Gede Edhy mengemukakan, terdapat empat orang tersangka masing-masing adalah ACM (Andi Cincing Makkasau) selaku pelaksana, AH (Andi Hasanuddin) selaku penerima kontrak atau rekanan.

Ia menambahkan,begitu juga halnya dengan kedua tersangka lainnya, yakni YK (Yunus Kalibo) selaku ASN yang bertindak sebagai PPTK, dan MP (Mappile) juga berstatus ASN yang bertindak sebagai pengawas dalam proyek yang dikerjakan pada tahun anggaran 2015 ini.

Maka dari keempat nama tersangka itu, sebutnya, baru berkas YK sudah dinyatakan lengkap atau P21 tahap pertama. Sementara berkas ACM, AH, dan MP masih dalam tahap dilengkapi oleh pihak penyidik.

“Kami sisa menunggu pelimpahan barang bukti dan tersangka YK atau P21 tahap kedua,” ungkap Gede Edhy.

Menurutnya, apabila melihat SPDP keempat tersangka ini, kasusnya ditingkatkan oleh penyidik Polres Luwu sejak bulan Mei kemarin.
“Mungkin karena faktor pertimbangan Pilkada, sehingga pelimpahan tersangka dan barang bukti belum dilakukan,” imbuh Gede Edhy.
Lalu ia menambahkan, bahwa dalam berkas para tersangka juga disebutkan mengenai besaran kerugian negara yang ditimbulkan dalam proyek ini yaitu senilai Rp200 juta.

“Proyek ini sendiri bersumber dari APBD Sulsel tahun 2015 senilai Rp1,8 miliar, dengan item pengerjaannya berupa pembangunan rehab DI (proyek saluran irigasi- red) yang berlokasi di Salu Ampak, Desa Pongko, Walenrang Utara,” tandas Kajari Luwu tersebut.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Luwu, AKP Faisal Syam SH SIK, Kamis (12/7/2018) saat dikonfirmasi awak media ini di ruang kerjanya, ia menyampaikan bahwa dari empat orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, satu orang diantaranya yang berinisial AH dinyatakan buron oleh penyidik Polres Luwu.

AH atau Andi Hasanuddin, lanjut Kasat Reskrim Polres Luwu ini, bertindak selaku penerima kontrak atau rekanan. Kata dia lagi, jika pihaknya telah melakukan pemanggilan berulang kali, namun yang bersangkutan tidak pernah memenuhi panggilan penyidik atau mangkir.

Tutur Faisal lebih lanjut, kami sudah melakukan pemanggilan berulang kali. Bahkan kami sudah mendatangi rumahnya, namun tidak koperatif dan tidak ada di rumahnya.

“Hal itulah, sehingga AH kami anggap telah melarikan diri, sekaligus dinyatakan sebagai buronan Polres Luwu,” tutur perwira Polri berpangkat tiga balok yang dikenal akrab dengan awak media tersebut.

Sedangkan menurut informasi yang dihimpun media ini, bahwa tersangka Andi Hasanuddin adalah juga adik kandung dari ACM (Andi Cincing Makkasau- red).

Kasus ACM sendiri terkait dengan dugaan korupsi ini, juga sudah berstatus P21 tahap pertama, karena berkas perkaranya telah pula diserahkan pada pihak Kejari Luwu dan dinyatakan telah lengkap.

Untuk diketahui, bahwa dugaan korupsi yang menyeret Andi Cincing Makkasau dan kawan-kawan (Dkk) tersebut, sebelumnya sangat intens menjadi sorotan pihak kelompok LSM Aktivis Pembela Arus Bawah, dan senantiasa pula dirilis pemberitaannya melalui Tabloid SAR beberapa waktu lalu.

Penulis   : Nia
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.