.

.

.

Minggu, 09 September 2018

Aktivis LSM, Mengulas Posisi Mulia Para Guru pada Kegiatan Sosialisasi Permendikbud No 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah di Luwu

Direktur Eksekutif LSM Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy sedang menyampaikan persentasinya di depan para guru dan kepala sekolah, pada kegiatan Sosialisasi Permendikbud No 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah yang diselenggarakan Forum MKKS SMA/SMK Kabupaten Luwu.
Rahmat K Foxchy : Kemuliaan Profesi Guru Janganlah Dicederai dengan Kasus Pungli

LUWU, Tabloid SAR- Kegiatan sosialisasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, sebagaimana yang digelar oleh Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/SMK Kabupaten Luwu, pada Kamis (06/09/2018) di Gedung Balai Rasdiana Center (BRC) Belopa, Kabupaten Luwu.

Tak terlepas pula menghadirkan Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah, Rahmat K Foxchy sebagai LSM peninjau dan pengamat. Sekaligus diminta untuk dapat menjadi LSM pendamping Forum MKKS SMA/SMK Kabupaten Luwu tersebut.

Saat diberikan kesempatan oleh moderator untuk menyampaikan saran dan tanggapannya dalam forum tersebut, aktivis yang lebih akrab disapa Bang Ories oleh rekan-rekannya sesama komunitas penggiat LSM, ia tampil memukau bahkan mampu menghipnotis para peserta sosialisasi Permendikbud ini, kendati dirinya berbicara  bukan sebagai narasumber.

Aktivis yang selama ini, dikenal vokal dan banyak mengungkap kasus-kasus korupsi pada sejumlah daerah, mengaku sangat mengapresiasi atas adanya kegiatan sosialisasi Permendikbud yang digelar oleh Forum MKK SMA/SMK Kabupaten Luwu ini.

“Adanya kegiatan sosialisai yang bersifat edukatif ini, sehingga diharapkan dapat menjadi instrument dalam upaya pencegahan secara dini, terjadinya kasus-kasus Pungli di sekolah,” tuturnya dalam mengawali statemennya.

Bang Ories pun membela sekolah-sekolah swasta agar tidak terlalu menjadi sasaran tembak Tim Sapuh Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Alasannya, guru-guru dan staf di sekolah swasta, sebagian besar tidak digaji oleh negara atau masih belum berstatus Aparat Sipil Negara (ASN).

Sedangkan dana BOS, tuturnya lagi, sudah sangat jelas peruntukannya, termasuk digunakan hanya untuk jasa honorarium jam kerja tenaga pendidik yang sifatnya sangat terbatas. Jelas itu tidak akan memberikan jaminan hidup layak bagi para tenaga kependidikan yang ada di sekolah-sekolah swasta.

Menurutnya, apabia sekolah swasta sampai juga dilarang mengatur sumber-sumber dananya, khususnya dari masyarakat pengguna jasa pendidikan pada sekolah tersebut.

“Lalu bagaimana mungkin dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah-sekolah swasta, jika guru-guru dan stafnya sendiri tidak memiliki kepastian jaminan pendapatan untuk hidup layak bersama keluarganya,” terang Bang Ories.

Berbeda dengan sekolah negeri, tutur putra Bastem yang selama ini malang melintang di Kota Metropolitan Jakarta, sebab guru-gurunya sudah pada berstatus ASN dan hanya sebagian kecil saja yang masih honorer.

BERITA TERKAIT BACA http://www.tabloidsar.com/2018/09/forum-mkks-smasmk-kabupaten-luwu-gelar.html

Kendati demikian, ucapnya, bukan berarti dana BOS atau dana bentuk lain dari pemerintah yang disalurkan pada sekolah-sekolah swasta harus bebas dari penanganan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi- red). Apabila memang ada indikasi penyalahgunaan keuangan negara, maka itu harus ditindak tegas secara hukum.

“Utamanya dana Bos, itu kan sudah ada Jutnisnya sebagai dasar petunjuk pengelolaannya. Jika keluar ketentuan Jutnis tersebut, berarti itu sudah namanya praktik-praktik korupsi,” tandas pendiri media cetak Tabloid SAR itu.

Lalu Bang Ories berpesan, walau sekolah swasta dikelola melalui badan hukum yayasan yang bersifat prerogatif dan mandiri dalam mengelola sumber-sumber pendanaannya dari masyarakat.

“Akan tetapi sebaiknya juga Permendikbud yang sedang disosialisasikan hari ini, supaya juga dapat dijadikan sebagai landasan yuridis,” harapnya.

Menurut Bang Ories, guru adalah sosok malaikat bagi terciptanya perubahan sebuah peradaban menjadi lebih maju, seperti yang telah dialami oleh negara-negara industri modern, atas kemampuannya menguasai IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi- red).

Pasalnya, kata dia, karena eksistensi guru sepanjang peradaban, akhirnya mampu melahirkan generasi pencetus revolusi industri di negara-negara barat, menurut zamannya.

“Hal itulah, sehingga pada gilirannya pula mampu membawa peradaban dunia yang semakin modern, melalui penguasaan IPTEK yang semakin canggih seperti di era global sekarang ini,” tuturnya.

Kemudian Bang Ories berilustrasi tentang pencapaian Bangsa Jepang terhadap kemajuan IPTEK saat ini. Itu karena berangkat dari sebuah gerakan yang disebut ‘Restorasi Meiji’, pada awalnya dicanangkan oleh Kaisar Meiji Tenno yang juga disebut Kaisar Mutsuhito.

Lanjut ia menyampaikan, pada awalnya Jepang didatangi oleh komodor Matthew Perry, seorang komandan angkatan laut Amerika Serikat. Peristiwa itu, membuat Kaisar Jepang menjadi sangat kaget, bahwa ternyata ada negara lainnya, telah memiliki peradaban yang sudah sangat maju ketimbang negerinya.

Lalu Kaisar Jepang itu, menjadi sadar bahwa betapa negaranya sangat jauh tertinggal dengan peradaban negara lainnya. Akhirnya kaisar mencari tahu, apa yang harusnya dilakukan supaya peradabang bangsa Jepang dapat lebih maju. Ternyata jawabannya adalah “guru.”

Hal itu pulalah, sehingga membuat Kaisar Jepang ini, mencari banyak guru dan menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat atau mulia. Maksudnya, untuk meletakkan secara fundamental tentang sistem pendidikan di negeri matahari terbit tersebut.

Setelah itu, maka kaisar pun melakukan perubahan besar-besaran pada struktur politik dan sosial di negeri Jepang, melalui pencanangan gerakan Restorasi Meiji pada tahun 1866 sampai 1869, di bawah deklerasi Perjanjian Shimoda dan Perjanjian Towsen Harris yang ditandatanganinya bersama dengan Komodor Matthew Perry tersebut.

Bang Ories lanjut berilustrasi, halnya ketika perang dunia kedua yang membuat Amerika Serikat menjatuhkan Bom Atom, baik di Hirosima pada tanggal 6 Agustus 1945 maupun di Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibatnya, Jepang menjadi takluk dan dinyatakan negara kalah perang.

Jadi bukannya jenderal atau panglima perang yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar Hirohito, tapi justru “gurulah” pada awalnya yang dicari. Ucapnya bahwa “masih adakah guru yang hidup?.”

Hal itu sebabkan karena begitu mulianya guru, bagi kemajuan IPTEK untuk mengakselerasi peradaban sebuah bangsa, seperti contohnya di Jepang. Sebab guru sangat memiliki peran penting dalam membangun karakter anak-anak negeri dalam mewujudkan misi agent of change terhadap penguasaan IPTEK, untuk menuju sebuah peradaban modern.

Jadi mari kita belajar pada sejarah Jepang yang pernah hancur lebur akibat perang dunia kedua. Namun pada gilirannya dapat bangkit menjadi salah satu bangsa yang industrinya maju dengan peradaban modern di era milineal sekarang ini.

Lanjut dikemukakan oleh aktivis LSM yang satu ini, jadi berangkat dari ilustrasi atas profesi guru yang begitu mulia tersebut. Maka kita pun sangat mengharapkan agar para guru, termasuk kepala sekolah yang hadir pada kegiatan sosialisasi Permendikbud No 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah ini, supaya tidak ikut-ikutan mencederai kemuliaannya sebagai tenaga pendidik anak bangsa, hanya karena secuil kasus Pungli.

Menurut Bang Ories, karena guru merupakan profesi yang sangat mulia. Sebab tanpa guru, kita jangan pernah barharap akan kemajuan suatu peradaban bangsa.

“Jadi janganlah menghina kemuliaan profesi guru secara tercelah dengan kasus Pungli,” tandasnya.

Lebih jauh dia mengemukakan jika sekolah-sekolah yang ada, masih saja terus melakukan praktik-praktik Pungli dengan melibatkan para kepala sekolah dan guru atau komite sekolah. Tentunya itu, justru akan menjadi preseden buruk dalam mendidik anak-anak negeri, untuk kelak menjadi generasi penerus bangsa yang sifatnya bermental korup.

Maka itu, sambungnya, jelas akan sangat berpotensi pula untuk dapat menimbulkan tragedi bagi generasi bangsa kita ke depannya terhadap penguasaan IPTEK. Akibatnya anak-anak negeri kita, tetap saja akan menjadi generasi bangsa bermental jongos (kuli- red) di bawah hegemoni negara-negara kapitalisme global.

“Bukankah itu sebuah ironi di tengah negeri kita yang dikenal sangat kaya dengan resources (Sumber Daya Alam/SDA- red),” ucap Bang Ories penuh lirih.

Untuk diketahui, kembail Bang Ories menegaskan, bahwa para guru adalah pelopor bagi kemajuan IPTEK dalam mewujudkan peradaban modern. Andaikan tidak ada guru  hingga saat ini, sudah jelas kehidupan umat manusia tentu saja masih berparadigma kuno dengan segala kegelapan peradabannya.

Jadi itulah letak kemuliaan dari profesi guru, dengan senantiasa mendedikasikan diri sebagai suluh penerang bagi umat manusia, untuk menuju sebuah peradaban yang lebih modern dari masa-kemasa.

“Terlebih bagi negara-negara industri maju, justru jauh sebelumnya telah merasakan manfaat IPTEK untuk memakmurkan kehidupan rakyatnya,” terangnya.

Lalu Bang Ories berpesan, jadi dengan adanya sosialisasi Permendikbud No 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah ini, maka diharapkan dapat menjadi penggerak revolusi mental pada tingkat satuan pendidikan, untuk bersih-bersih dari segala bentuk kegiatan praktik-praktik Pungli dan korupsi.

Apabila sudah demikian halnya, tambah dia, maka bukan tidak mungkin dari Luwu ini, kelak dapat eksis generasi anak bangsa yang intelektual, berkarakter dan bermoral, serta berkemampuan tinggi dalam penguasaan IPTEK untuk dapat mengelola kekayaan resources yang begitu melimpah ruah di Bumi Nusantara ini.

“Pada gilirannya kekayaan resources negeri kita, ke depan dapat mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonsia,” pungkas Rahmat K Foxchy secara lugas mengakhiri pemaparannya tanpa teks.

Seiring dengan itu, maka secara spontan pula membahana pekikan tepuk tangan applause dari para peserta sosialisasi yang begitu riuh menggema di dalam ruangan Gedung BRC-Belopa tersebut.

“Sungguh luar biasa, pencerahan wawasan yang dipresentasikan Adinda kita dari LSM Aktivis Pembela Arus Bawah barusan. Ini baru namanya LSM yang berkualitas dalam memberikan motivasi,” tutur Drs Nurdin Muin, MPd, yang juga Ketua Panitia Sosialisasi yang saat itu menjadi moderator, sekali lagi meminta hadirin untuk kembali memberikan tepuk tangannya.

Hebatnya lagi, kata Nurdin Muin, sebab tampak jelas dijabarkan mengenai ilustrasi tentang kedudukan guru yang begitu mulia di Jepang, sebagai pelopor bagi kemajuan IPTEK, pada gilirannya membawa Jepang menjadi sebuah negara industri yang sangat maju dan terdepan hingga saat ini.

“Salut buat Dindaku Rahmat K Foxchy atas wawasannya yang begitu brilian,” ucap Nurdin Muin sembari ia mengangkat jempol.

Lalu Kepala SMA Negeri 1 Luwu tersebut, memperkenalkan aktivis LSM yang satu ini kepada hadirin, bahwa Adinda kita tadi itu adalah bernama Rahmat K Foxchy, Pimpinan Umum Tabloid SAR dan Direktur Eksekutif Aktivis Pembela Arus Bawah.

Nurdin Muin pun menghimbau para rekan-rekannya sesama kepala sekolah pada tingkat SMA/SMK se-Kabupaten Luwu, supaya dapat menjalin kemitraan dengan pihak LSM yang dinahkodai Rahmat K Foxchy.

Tuturnya lagi, bahwa Adinda kita Rahmat K Foxchy sengaja saya undang secara khusus, untuk menghadiri kegiatan sosialisasi Permendikbud No 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah ini.

“Maksudnya agar rekan-rekan kepala sekolah dapat mengenalnya lebih dekat. Sekaligus diharapkan menjadi LSM Pendamping bagi Forum MKK SMA/SMK Kabupaten Luwu,” ujar Nurdin Muin.

Berdasarkan pantauan media ini, semua hadirin tampak fokus mengarahkan pandangannya pada Direktur Eksekutif LSM Aktivis Pembela Arus Bawah ini, saat menyampaikan persentasenya selama kurang lebih 25 menit.

Mereka mengaku terpukau bahkan merasa terhipnotis atas tampilnya Bang Ories, ketika menyampaikan pemaparannya, walau begitu singkat tapi sangat padat dan jelas,  serta lugas dan mudah dipahami. Maka acungan jempolpun bertubi-tubi pula diarahkan pada diri aktivis tersebut.

Sepertinya hadirin khususnya para kepala sekolah, saat itu baru mengetahui posisi kemuliaan seorang guru, sebagai pelopor bagi kemajuan peradaban modern, setelah usai mendengar persentasi yang disampaikan oleh tokoh aktivis yang satu ini.

Tidak hanya itu, Kepala Cabang Disdik Wilayah XI Sulsel, Hamsur Taha SE MM, bahkan sangat mengapresiasi atas pemaparan yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif LSM Aktivis Pembela Arus Bawah.

“Itu merupakan sebuah persentasi yang sangat luar biasa dan baru pertama kalai saya dengar dari seorang aktivis LSM. Jadi aktivis LSM sekualitas inilah yang mestinya dijadikan mitra pendampingan para kepala sekolah,” terang Hamsur Taha, menyanjung Rahmat K Foxchy.

Penulis   : Tim Lipsus
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.