.

.

.

Jumat, 14 September 2018

Kisah Perjalanan Kapolres Lutra ke Daerah Terpencil Kecamatan Rampi

Kapolres Lutra AKBP Boy FS Somala bersama rombongannya melalui medan jalan yang extrim ketika menempuh perjalanan menuju daerah terpencil di Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra

LUTRA, Tabloid SAR- Perjalanan dari Ibukota Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Masamba menuju kecamatan terpencil Rampi, menjadi cerita tersendiri bagi Kapolres Lutra AKBP Boy FS Samola. Baginya menempuh perjalanan yang begitu panjang penuh tantangan merupakan perjalanan yang paling mengharukan sepanjang karirnya pada institusi kepolisian.

Menempuh perjalanan dari Masamba menuju Kecamatan Rampi dengan jarak sekitar 84 kilometer, terbilang butuh keberanian dan keahlian khusus dalam mengendarai sepeda motor. Karena jalur yang dilalui, selain cukup extrim dan terjal, juga sangat sempit.

“Jalan yang kita lewati itu, seperti terowongan. Bentuknya mirip huruf V, diapit gunung batu. Melintasi beberapa sungai. Yah betul-betul melelahkan,” tutur AKBP Boy mengisahkan perjalanannya kedaerah terpencil di Kabupaten Lutra itu, kepada awak media saat tiba di Masamba, Kamis (13/09/2018).

Kendati demikian menurutnya, rasa capek menempuh perjalanan dengan medan yang extrim tersebut, bisa langsung terobati dengan menikmati keindahan landscape (pemandangan- red) panorama alam, pegunungan dan lembah-lembah bukit di Rampi.

“Ibaratnya melihat seorang gadis cantik di daerah ketinggian nan sunyi. Aliran sungai yang sejuk nan jernih, menandakan hutan di sekitarnya belum terjamah oleh tangan manusia,” ujarnya dengan sebuah analogi humanis.

Kapolres lulusan Akademi Kepolisian (AKPOL) tahun 1999 ini, juga menerangkan bahwa setelah menempuh perjalanan selama 6 jam menggunakan motor Trail dari Masamba, saat tiba di Rampi. Ia merasa seperti sedang berada di ujung kampung paling jauh nan tersolok di Indonesia. Sebab di Kecamatan Rampi tersebut, secara umum belum didukung dengan teknologi jaringan komunikasi, untuk berkomunikasi dengan dunia luar (masyarakat di luar Rampi- red).

“Dalam perjalanan itu, betul-betul tidak ada komunikasi dengan dunia luar. Saya betul-betul lost contact dengan semua pihak. Termasuk dengan keluarga, saya tidak bisa memberi kabar karena tidak ada alat komunikasi. Beruntung setelah tiba di Bandara Udara (Bandara) Rampi, ada signal walaupun masih sangat terbatas. Karena suka hilang-hilang. Minimal saat itu, saya langsung nelpon ketika tiba di Bandara,” kisahnya.

Menariknya, Kapolres Lutra bersama rombongannya saat meninggalkan Kecamatan Rampi, mereka tidak lagi melalui jalur Masamba, akan tetapi melalui jalur Badak- Sulawesi Tengah (Sulteng). Menembus beberapa desa terpencil, seperti Desa Tedeboe dan Dodolo, hingga masuk ke daerah perbatasan Sulteng.

“Wah perjalanannya lebih parah. Meski jaraknya hanya sekitar 36 kilometer dari Rampi ke Badak, tapi kami menempuh perjalanan itu sekitar 10 jam. Pokoknya perjalanannya sungguh luar biasa dan membutuhkan stamina yang feat, serta banyak menguras adrenalin,” kenangnya.

Kapolres dan Rombongannya Disambut Secara Adat

Sekitar pukul 15.30 WITA, Kapolres Lutra AKBP Boy bersama rombongannya tiba di Desa Leboni, Kecamatan Rampi. Mereka masih lengkap dengan pakaian adventurenya saat itu, langsung disambut secara adat oleh para tokoh adat setempat, termasuk oleh Kepala Suku Rampi yang disebut ‘Tokoi’. Mengenakan pakaian adat kebesarannya yang terbuat dari bahan dasar kulit kayu.

Penyambutan itu, dimulai dengan tarian adat setempat. Para penari yang menyambut kami menaburkan sesuatu kepada saya bersama rombongan. Kemudian Tokoi menyerahkan seekor ayam jantan putih yang memiliki lima jari.

“Selain dikalungi bunga, saya juga diberikan ayam jantan berbulu putih bersih oleh kepala suku. Uniknya karena ayam itu, jari kakinya ada lima bro,” cerita Boy.

Kapolres Lutra itu, menambahkan bahwa sungguh sangat luar biasa kekayaan adat dan  budaya kita yang ada di Lutra.

“Salah satunya di Kecamatan Rampi, mereka mempunyai adat dan budaya tersendiri yang berbeda dengan daerah lain,” ujarnya.

Peresmian Pasar Tradisional di Desa Onondoa

Rampi yang dikenal sebagai kecamatan paling terpencil di Lutra, memiliki kandungan kekayaan alam yang melimpah. Selain pertanian kopi dan kakao, juga menyimpan kandungan alam berupa logam mulia, seperti emas dan biji besi.

Hanya saja emas yang ada di daerah tersebut, hingga saat ini masih kerap dieksploitasi secara ilegal. Masyarakat setempat dan dari luar Rampi, masih melakukan penambangan secara liar.

Untuk diketahui, salah satu tujuan AKBP Boy berkunjung ke Rampi adalah untuk peresmian pasar tradisional yang terletak di Desa Onondoa. Peresmian pasar rakyat tersebut, disambut dengan penuh kegembiraan oleh warga setempat.

Sambutan masyarakat begitu sangat antusias dan penuh keakraban, saat bercengkrama dengan Kapolres Boy bersama rombongan Luwu Utara Trail Adventur (Lutrac).
AKBP Boy ketika meresmikan pasar tradisional di Desa Onondoa, Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra
“Sangat antusias sekali masyarakat di sana dengan adanya pasar tradisional itu. Saya sampai terharu melihat masyarakat yang berbondong-bondong datang membawa jualan mereka, berupa hasil bumi. Semoga dengan adanya pasar tradisional itu, dapat menjadi motivasi tersendiri bagi masyarakat Rampi untuk meningkat komoditas hasil pertaniannya,” harap Boy.

Selain itu, polisi berpangkat dua melati tersebut, mengakui bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi di Kecamatan Rampi. Termasuk pengelolaan ternak yang tidak beraturan. Tidak ada ternak peliharaan yang dikandang maupun diikat oleh pemiliknya. Semua dilepas begitu saja.

“Mereka lebih banyak beternak sapi, tapi sapinya dilepas begitu saja. Sehingga tak jarang sapinya makan tanaman milik orang lain. Jadi saya pesankan kepada pemerintah setempat, untuk membuat Perdes (Peraturan Desa- red) yang mengatur soal beternak. Supaya peternak di sana lebih teratur,” pungkasnya.

Meninjau Daerah Perbatasan

Memilih jalur pulang dari Kecamatan Rampi melalui daerah Badak perbatasan Sulteng, untuk meninjau langsung kedaan di perbatasan tersebut. Mengingat Rampi berbatasan langsung dengan daerah yang dianggap jalur terorisme.

“Kan di sana itu, berbatasan langsung dengan Poso Sulawesi Tengah. Jadi kami menghimbau kepada masyarakat setempat untuk proaktif bersama dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang ada disana. Jaga lingkungan masing-masing, dan laporkan jika ada yang mencurigakan,” ucap Boy.

Sekaligus melakukan pengecekan pembangunan Pos Polisi (Pospol) Rampi. Dimana peletakan batu pertama pembangunan Pospol tersebut, telah dilakukan pada tanggal 28 Juni 2018 lalu, sehari setelah Pilkada.

Kapolres Lutra ini mengakui bahwa progres pembangunan Pospol itu, memang agak lambat. Mengingat akses untuk mengangkut material ke lokasi tersebut, sangat jauh sehingga membutuhkan biaya yang cukup tinggi.

“Hingga saat ini, baru pondasinya yang selesai dikerjakan. Mudah-mudahan proses pembangunan keseluruhannya bisa segera diselesaikan. Sehingga pelayanan kepolisian di Rampi dapat lebih ditingkatkan,” kuncinya.

Penulis   : Dedhy
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.