.

.

.

Rabu, 12 September 2018

Meski Tak Lagi Menjabat Kapolres Luwu, AKBP Adex Yudiswan Tetap Santuni Penderita Hydrocephalus di Luwu

Wulan si penderita penyakit hydrocephalus dipangku Hardiana Ibu kandungnya 

LUWU, Tabloid SAR- Pada umumnya seorang pejabat akan memberikan sumbangan atau membantu warga yang lagi membutuhkan, hanya untuk masyarakat pada wilayah di mana dirinya sedang bertugas.

Namun hal demikian, tidak berlaku bagi Mantan Kapolres Luwu AKBP Adex Yudiswan yang saat ini sedang bertugas sebagai Wakapolresta Jakarta Barat.

Pasalnya hingga kini, AKBP Adex masih terus membantu seorang penderita penyakit hydrocephalus bernama Wulan, warga Tadette, Desa Senga Selatan, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal tersebut, diungkapkan Hardiana Ibu kandung Wulan, saat ditemui wartawan Tabloid SAR di kediamannya, Rabu (12/09/2018) siang.

Menurutnya, hingga kini AKBP Adex masih rutin mengirimkan bantuannya kepada Wulan sebanyak Rp 1 juta setiap bulan.

Santunan dari mantan Kapolres Luwu itu, setiap bulannya dikirim AKBP Adex melalui salah satu mantan anak buahnya yang bertugas di Polres Luwu.

“Alhamdulillah hingga kini, Pak Adex masih rutin mengirimkan santunannya buat Wulan. Kiriman beliau tiap bulannya diantarkan oleh salah satu anggota Polres Luwu. Bantuan itu, saya pakai beli popok dan susu buat Wulan. Karena anak saya ini, walau sudah makan, ia tetap harus minum susu. Karena Wulan menangis kalau tidak dikasih minum susu sehabis makan,” ungkap Hardiana.

Hardiana mengaku dirinya, sangat bersyukur karena mendapat bantuan dari AKBP Adex yang dikirim secara rutin untuk membantu Wulan.

Ibu kandung anak penderita hydrocephalus itu, juga menuturkan bahwa dirinya selalu mendoakan agar mantan Kapolres Gresik tersebut, sukses selalu di dunia dan akhirat.

Selain itu, Hardiana menerangkan pula bahwa Wulan juga sudah pernah dikunjungi oleh pihak Polres Luwu dan mendapatkan santunan dari Kapolres Luwu AKBP Dwi Santoso.

“Saya baru sadar, ternyata yang sangat peduli kepada kami ini, justru para polisi. Padahal bagi kebanyakan orang, para polisi ditakuti dan kadang dianggap tidak baik oleh masyarakat,” tuturnya seraya meneteskan air mata.
Manager Tabloid SAR, Kartini Echa  memangku Wulan si penderita penyakit hydrocephalus 
Untuk diketahui, Wulan merupakan anak ke lima dari 6 bersaudara, lahir dari pasangan suami istri Hardiana dan Baharuddin.

Penderita hydrocephalus itu, mengalami cacat total, tidak mampu berbicara, tidak bisa berdiri sendiri. Bahkan Wulan yang sudah mulai beranjak dewasa pada usia 11 tahun, hanya bisa menangis jika ada keinginannya yang tidak terpenuhi, seperti ketika ia ingin makan dan minum susu.

Model kepala Wulan, berukuran besar dan lonjong ke atas pada bagian ubun-ubunnya, kedua matanya juga tidak normal karena sebelah melongok keluar dan sebelahnya tertutup. Sedangkan kakinya sangat kecil sehingga tidak mampu berpijak untuk dapat berjalan sendiri.

Menurut pengakuan Ibunya, sewaktu ia mengandung Wulan, perutnya terasa penuh dan sesak mungkin akibat kepala Wulan yang berukuran besar dan agak lonjong.

Saat dilahirkan pada tanggal 15 Juli 2007, Wulan mengalami kelainan pada waktu dilahirkan karena kakinya duluan keluar dari mulut rahim Ibunya.

Penulis   : Echa
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.