.

.

Rubrik

.

Kamis, 06 September 2018

Perlunya Pemkot Palopo Prioritaskan Pengembangan Potensi Industri Jasa Pariwisata

Anggota Fraksi Partai Golkar  DPRD Kota Palopo, Steven Hamdani, ST, MM, M.Si (kanan) salam komando dengan Pj.Walikota Palopo, Andi Arwien Azis, S.STP, di ruang Sidang Paripurna DPRD Palopo seusai mengikuti persidangan.

Steven Hamdani : Sebaiknya Kota Palopo Jadi Tuan Rumah Porda Sulsel Tahun 2022 Mendatang

PALOPO, Tabloid SAR- Pekan Olahraga Daerah (Porda) XVI Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), sebagaimana yang akan digelar di Kabupaten Pinrang pada tanggal 9 hingga 16 September 2018 mendatang, sesuai hasil penetapan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulsel sebelumnya.

Hal tersebut tampaknya mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi I DPRD Kota Palopo. Mereka sangat mengharapkan Porda Sulsel pada tahun 2022 mendatang agar dapat digelar di Kota Palopo.

Salah satunya adalah Steven Hamdani dari Partai Golkar, mengungkapkan hal tersebut, ketika ditemui awak media Tabloid SAR di kantornya di ruang Komisi I DPRD Kota Palopo, Senin (03/09/2018) lalu.

“Untuk menutup dengan manis masa kepemimpinan HM Judas Amir sebagai Walikota Palopo dua periode, maka saya sangat mengharapkan agar Porda Sulsel 2022 mendatang dilaksanakan di Kota Palopo ini,” tuturnya.   

Pasalnya, kata dia, Porda merupakan sebuah moment olahraga multi event yang sangat prestisius di tingkat daerah dan dapat pula membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.

“Khususnya dalam memajukan sektor kepariwisataan daerah,” ujar Steven.

Jadi moment seperti ini harus bisa kita tangkap, lanjut politisi yang kadang pula disebut-sebut “Ahok-nya” Kota Palopo, maka itu justru akan dapat memacu kemajuan Kota Palopo untuk menjadi kota jasa ke depannya.

“Salah satunya yang mesti dieksploitasi adalah potensi jasa usaha industri kepariwisataan,” kata Steven.

Menurutnya, karena Palopo ini tidak memiliki potensi resources atau sumber daya mineral dan migas (minyak dan gas- red).

“Makanya sumber daya pariwisatalah yang mesti digenjot untuk dapat dieksploitasi, demi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Kota Palopo sebagai kota jasa ke depannya,” harap Steven.

Sementara sektor jasa usaha perdagangan dan sektor industri keuangan, tutur Steven lagi, itu sudah hampir memasuki tahap titik jenuh atau mulai lesuh. “Itu karena Palopo inikan kota kecil,” ungkapnya.

Lanjut ia menuturkan, apalagi Kota Palopo ini, masih sangat tidak memungkinkan  untuk mengembangkan industri pabrikan manufaktur, sebab tidak didukung oleh fasilitas  pelabuhan berkategori ekspor.

Itu yang menjadi kendala serius, sambung dia, apalagi Palopo berada di ujung lekukan laut (Teluk Bone- red) yang sangat dalam.

“Jadi sektor jasa industri pariwisatalah yang harusnya menjadi prioritas kebijakan Pemkot (Pemerintah Kota) Palopo, jika ingin menumbuhkan perekonomian di daerah ini ke depannya. Apalagi Bandara I Laga Ligo-Bua di Kabupaten Luwu, tutur Steven lebih lanjut, sudah pula menjadi salah satu pintu masuk wisatawan domestik dan manca negara yang tujuannya ke Toraja.

“Jadi itu yang mestinya ditangkap oleh Pemkot Palopo dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata,” tukasnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, Palopo jangan hanya menjadi daerah sebatas lintasan wisatawan saja. Tapi  harus juga dapat menjadi kota tujuan wisata.

“Makanya dibutuhkan perencanaan yang matang dalam mengembangkan potensi kepariwisataan di Kota Palopo ini, dengan melibatkan sejumlah OPD (Organisasi Perangkat Daerah -red) yang saling berkaitan,” paparnya.

Lalu ia menyampaikan OPD dimaksud, yakni Dinas Pariwisata, Bappepeda, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Dinas Kebudayaan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Dinas Pertanahan, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Sekretariat Daerah.

Jika perlu juga melibatkan Dinas Sosial dan para stake holder pemerhati kebijakan publik (LSM –red) dan kalangan akademisi.

“Sebab hal ini, perlu membutuhkan kajian secara komprehensif dan bersifat ilmiah ditinjau dari berbagai sisi kepentingan, khususnya dalam mempertahankan tradisi nilai-nilai budaya kearifan lokal,” kata Steven. 

Alasannya, sebab pengembangan jasa industri kepariwisataan, selain berdampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian daerah.  Juga cukup signifikan dapat menimbulkan dampak negative, terhadap pranata-pranata kehidupan sosial, akibat dipengaruhi oleh interaksi budaya global secara terbuka.

Ya, itulah konsekwensinya, kata Steven lebih lanjut, tapikan jasa industri kepariwisataan sudah menjadi trend bisnis yang sangat menjanjikan untuk menjadi potensi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah –red).

“Apalagi dapat membuka lapangan kerja yang sangat terbuka pula, dan dapat menyerap tenaga kerja, sehingga secara simetris dapat mengurangi angka pengangguran di kota kita ini,” ucapnya.

Hanya saja, tuturnya lagi, apakah pimpinan OPD terkait sudah memiliki SDM yang memadai untuk berinovasi dalam pengembangan pembangunan dunia kepariwisataan unggulan?

Itu yang masih kita sanksikan, ujarnya lebih lanjut, sebab saya melihat terdapat beberapa OPD yang tidak menujukkan ekspektasinya dalam mengakselerasi pembangunan Kota Palopo selama di bawah kepemimpinan Walikota HM Judas Amir.

“Itu yang perlu dievaluasi kinerjanya, kata Steven, sebab selama ini sama sekali tidak nampak program kerjanya dan hanya membebani APBD Kota Palopo saja,” bebernya. 

Saat ditanyakan OPD mana saja itu? Steven lalu menimpalinya, bahwa itu tidak dapat ia sebutkan satu persatu secara rincin di luar forum resmi.

“Itu ngak etislah saya sebutkan dalam perbincangan kita kali ini, dan saya yakin publik lebih tahu itu. Apalagi rekan-rekan wartawan, sudah pasti juga tahulah soal itu,” ucapnya sembari tertawa lepas.

Kendati demikian, ia lanjut menyampaikan harapannya supaya Porda Sulsel pada tahun 2022 mendatang dapat diselenggarakan di kota bertajuk “Idaman” ini.

“Itukan juga dapat dijadikan sebagai ajang promosi destinasi wisata di kota ini,” terangnya.

Lalu dia mengemukakan, jadi ada waktu selama empat tahun, untuk mempersiapkan pembangunan tempat-tempat destinasi wisata unggulan itu.

“Akan tetapi, kita terlebih dahulu perlu melakukan pengkajian zonasisasi potensi kepariwisataan pada masing-masing wilayah kecamatan,” terangnya.

Lanjut, Steven mencontohkan, seperti di Kecamatan Mungkajang yakni daerah Latuppa dan Kambo. Menurutnya itu dapat dikembangkan menjadi zona pengembangan agrowisata dengan menitik beratkannya pada pembudidayaan berbagai macam buah-buahan.

Termasuk pengembangan resort wisata pegunungan, sebab Kambo juga menyajikan pemandangan alam yang tak kalah eksotisnya dengan destinasi wisata alam di daerah lain. Tak terkecuali potensi “Negeri di atas Awan” yang ada di Kambo tepatnya di Gunung Sarang-sarang tersebut.

Begitu juga di wilayah Kecamatan Wara Barat, dapat pula dikembangkan menjadi tempat desitinasi agro wisata sayur mayur dan potensi panorama alamnya. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Wara Selatan, itu dapat dikembangkan menjadi tempat destinasi wisata ternak besar seperti sapi dan kerbau.

“Yah, semacam daerah basis peternakan dan pasar ternak-lah. Jika perlu dijadikan pasar induk ternak di Luwu Raya, sekaligus dijadikan sebagai obyek wisata unggulan, seperti Pasar Hewan di Kabupaten Toraja Utara,” tandasnya.    

Sedangkan wilayah Kecamatan Telluwanua, kata Steven dapat dikembangkan menjadi tempat desitinasi agro wisata tanaman holtikultura dan pemancingan air tawar, serta dikembangkan menjadi obyek wisata peternakan berbagai jenis unggas.

“Tentunya pula mengoptimalkan pengelolaan wisata alam yang sudah ada,” imbuhnya.

Halnya untuk wilayah Kecamatan Wara Timur dan Bara, atau wilayah kecamatan lainnya yang bersentuhan dengan pesisir pantai. Maka itu dapat dikembangkan menjadi obyek wisata bahari dan kuliner berbagai macam jenis makanan lokal, serta pengembangan hotel berbintang dan tempat hiburan rakyat.

Ada pula yang perlu dikembangkan di sini, kata Steven, yakni wisata kuliner buroncong dan pisang goreng usaha rakyat, pada sebuah lokasi di daerah pinggiran kanal. Di mana kanalnya juga disulap menjadi penangkaran ikan hias.

Kata dia lagi, jadi kanalnya perlu dibersihkan dulu sampai airnya bisa jernih, lalu dipasangi jaring atau keramba tempat melapas ikan-ikan hias. Itu akan sangat menarik bagi para pengunjung untuk datang makan buroncong dan pisang goreng, sambil menikmati keindahan ikan-ikan hias. “Asyik kan?,” ucapnya.    

Untuk wilayah kecamatan lainnya, itu juga dikembangkan menurut potensi wisatanya, terlebih yang memiliki potensi wisata sejarah dan budaya.

“Pokoknya, bagaimana situs-situs sejarah dan budaya Luwu, seperti Istana, Masjid Tua (Masjid Jami’ Palopo- red), Kuburan Raja-Raja Lokkoe, kuburan Belanda dan lain-lain, agar dapat dioptimalkan menjadi tempat-tempat destinasi wisata sejarah dan budaya,” urai Steven.

Terlebih lagi di sini, lanjut ia menyampaikan, apa lagi jika sarana dan prasarana pariwisata sudah mendukung di Kota Palopo nantinya, maka dengan begitu dapat pula  diagendakan festival tahunan budaya Luwu ke depannya.

“Namun yang paling penting lagi di sini, harap Steven, bahwa bagaimana event Porda Sulsel-2022 mendatang, dapat pula dijadikan sebagai moment promosi wisata domestik di Kota Palopo. Sekaligus menutup dengan manis masa pemerintahan Walikota HM Judas Amir selama dua periode,” ulasnya.

Apalagi di Kota Palopo ini, kadang pula digelar berbagai event baik yang digelar oleh pemerintah maupun yang digelar oleh kalangan masyarakat melalui Ormas (organisasi masyarakat –red) dan pihak-pihak akademisi.

“Jika tersedia sarana dan prasarana pariwisata yang memadai di kota ini, maka akan lebih banyak lagi event dalam bentuk pelatihan, atau Diklat  dan sejenisnya, termasuk sarasehan ilmiah atau seminar dan semacamnya. serta kegiatan musyawah Ormas dan lain-lainnya,” sebut Steven.

Dalam kesempatan itu, tak lupa pula politisi muda partai Golkar ini, menyampaikan untuk menyemarakkan kunjungan wisata, termasuk mengundang wisatawan manca negara.

Sehingga perlu adanya kegiatan kalender pariwisata tahunan dalam bentuk festival budaya dan adat istiadat Luwu, seperti acara Lovely December di Toraja yang dihelat setiap akhir tahun secara bergantian di Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara.

Maksudnya, supaya terselenggaranya agenda tetap event pariwisata berkelanjutan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Kota Palopo pada sektor industri jasa pariwisata itu sendiri.

“Soalnya sektor industri ini, sedang naik trendnya dan menjadi salah satu bisnis paling prospektif pada era global sekarang,” kunci Steven Hamdani.

Penulis   : Ories
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.