.

.

.

Sabtu, 08 September 2018

PWI Sulsel : Wartawan Pengawal Kebenaran dan Keadilan !

Tampak puluhan wartawan sedang fokus mendengarkan Wakil Ketua Bidang  Pendidikan PWI Sulsel, H. Ismail ketika mempersentasekan materinya.

PALOPO, Tabloid SAR- Jangan pernah merasa sombong tapi merendahlah karena wartawan sebagai pengawal kebenaran dan keadilan. Jadilah pembela kebenaran dan terdepan untuk masyarakat.

Hal ini, dikatakan oleh Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), H. Ismail, saat menjadi pemateri pada Konfercab PWI Luwu Raya dan Toraja di aula Hotel Harapan, Kota Palopo, Sulsel, Sabtu (08/09/2018).

Lakukan tugas anda sesuai fakta dan jadilah guru bagi bangsa ini. Sebelum wawancara lengkapi data sehingga narasumber tidak lebih pintar dari pada anda.

“Sebagai wartawan, kita adalah pembawa kebenaran karena memberitakan sesuai dengan fakta dan harus tangguh dalam melaksanakan tugas jurnalisme,” ungkapnya di hadapan para peserta yang didominasi oleh para wartawan asal daerah Luwu Raya dan Toraja.

Ia menambahkan bahwa dulu, kebebasan pers memang suatu hal yang langka. Pemberedelan bagi mereka yang lugas menyuarakan kebenaran dan tantangan bagi pemerintah adalah hal biasa.

“Namun kini era sudah berubah. Pers bisa bergerak lebih bebas dan lebih cepat, seiring perkembangan zaman. Bebas dalam mengangkat issu dan mengolahnya sesuai dalam tahapan-tahapan jurnalistik untuk mencapai kebenaran informasi yang akurat,” sambung Ismail.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel tersebut, mengatakan bahwa tentu saja, tugas seorang wartawan adalah mencari, mengolah dan menampung, serta  menyajikan kebenaran sebuah informasi atau berita. Sesuai dengan tahapan jurnalistik yang baik dan benar, ketika turun langsung ke lapangan, riset, hingga wawancara narasumber terkait.

“Sehingga dengan memegang teguh prinsif dan kode etik jurnalistik, maka sudah seharusnya wartawan menjadi laskar pembawa kebenaran, bukan kepalsuan,” ujarnya.

Kendati demikian, kata Ismail, kebenaran memang kerap kali menjadi problematika tersendiri dalam dunia wartawan. Prasangka, sering mengaburkan kebenaran. Namun  sampaikanlah demikian, apa adanya. Itulah kebenaran.

“Bukan menyampaikan persepsi sendiri. Lantas menulis judul dengan nada yang ‘wah’ dan menyesatkan, berbeda judul dan isi beritanya, hal seperti itu, juga sebuah masalah dalam menulis,” sebutnya.

Di depan puluhan wartawan, Ismail juga mengakui bahwa memang sulit rasanya untuk luput dari subjektivitas, dan mengedepankan objektivitas. Bahkan, ada yang mengatakan objektivitas hanyalah sebuah intersubjektivitas. Namun, itu tidak berarti bahwa wartawan hanya mengandalkan persepsi dan merasa paling benar.

“Karena pada hakikatnya, seorang wartawan harus mengesampingkan subjektivitas, ego, dan rasa paling tahu akan sesuatu, apa lagi jika dilatari rasa kebencian. Artinya, setia pada kebenaran adalah mutlak. Sehingga meski dituntut cepat, namun data dan fakta harus tetap dijunjung tinggi,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Ismail juga menegaskan bahwa pada intinya, konsep dasar jurnalistik adalah 5W+1H, haruslah dipertahankan.

“Jangan mudah percaya, lalu langsung memuat berita. Konfirmasi dan klarifikasi semua pihak, dalam upaya menegakkan kebenaran adalah hal yang utama,” tegasnya menghimbau para peserta.

Pada penghujung materinya, Wakil Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulsel ini, mengharapkan agar segenap insan pers dalam menjalankan tugas jurnalistik, agar tetap menyajikan informasi yang terpercaya.

“Terakhir, saya mengingatkan kita semua selaku insan pers, sebagai penerang masyarakat. Sepatutnya kita membawa suatu bentuk informasi yang tepercaya. Karena banyak sekali isu dalam masyarakat, yang bisa dikaji secara mendalam, tanpa harus menggiring pembaca,” kuncinya.

Penulis   : Echa
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.