.

.

.

Kamis, 11 Oktober 2018

Kok Bisa… Hasil Pilkades Tamuku di Lutra, Belum Final ?

Calon Kepala Desa (Cakades) Tamuku, Wisudawan, S.Kom

LUTRA, Tabloid SAR- Pemilihan kepala desa (Pilkades) yang dilaksanakan secara serentak di 41 desa se Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel) pada tanggal 3 Oktober 2018 lalu, ternyata belum seutuhnya final.

Pasalnya, selain karena masih ada beberapa calon kepala desa (Cakades) yang dinyatakan kalah oleh Panitia Pilkades, belum mau menerima hasil pemilihan dan perhitungan suara dengan berbagai macam alasan.

Juga karena adanya hasil pemilihan Pilkades yang dinyatakan draw atau seri setelah perhitungan suara hasil pemilihan dilakukan oleh Panitia Pilkades setempat.

Seperti halnya yang terjadi di Desa Malangke, Kecamatan Malangke, Kabupaten Lutra, dari lima kandidat Cakades, dua diantaranya tidak mau menerima kekalahan mereka. Karena kedua Cakades yang gagal tersebut, merasa dicurangi oleh kandidat peraih suara terbanyak.

Mereka menuding, Kades terpilih bekerjasama dengan Panitia Pilkades Malangke, untuk mengikutkan sejumlah pemilih yang bukan warga Desa Malangke, bahkan ada tudingan bahwa sejumlah pemilih ilegal tersebut, adalah anak di bawah umur.

Akhirnya kasus ini, masih bergulir pada tingkat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutra, setelah kedua Cakades Malangke yang gagal itu, melakukan complain dan mengajukan keberatan.

BACA JUGAhttp://www.tabloidsar.com/2018/10/sejumlah-calon-kades-yang-kalah-dalam.html

Kisruh tersebut, berbeda dengan yang terjadi dalam Pilkades Tamuku, Kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Lutra.

Sebab di Desa Tamuku, masalahnya terletak pada hasil pemilihan dan perhitungan suara Pilkades yang draw atau seri.

Dari empat kandidat Cakades Tamuku yang berkompetisi, dua diantaranya meraih perolehan suara tertinggi dengan jumlah seri.

Kedua Cakades yang suaranya seri setelah perhitungan suara Pilkades Tamuku dilakukan oleh Panitia Pilkades setempat, adalah kandidat nomor urut 2. Isnandar dan kandidat nomor urut 4. Wisudawan.

Perolehan suara Isnandar dan Wisudawan mengungguli dua pesaing lainnya, namun suara mereka berdua jumlahnya sama.

Hal itulah yang menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat Desa Tamuku hingga saat ini.

Beragam issu pun kian merebak bagai bola api di tengah-tengah warga setempat, ada yang menyatakan bahwa kasus demikian sudah ada regulasi dan ketentuan mengaturnya, yakni Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Lutra.

Bahkan tafsiran atas Perda tersebut, beragam pula dan semakin liar karena diasumsikan sesuai versi dan selera masing-masing pihak.

Ada yang mengatakan bahwa jika hasil perhitungan suara Pilkades berakhir draw, maka pemenangnya akan ditentukan berdasarkan Perda itu, dengan kriteria bahwa harus memiliki pengalaman dalam pemerintahan, dan atau akan ditinjau dari kriteria memiliki latar belakang pendidikan formal yang lebih tinggi dari kandidat pesaingnya.

BACA JUGAhttp://www.tabloidsar.com/2018/10/usai-pilkades-serentak-2018-kapolres.html

Terkait dengan kisruh tersebut, wartawan media ini menemui  salah satu kandidat yang mengajukan gugatan, mengenai hasil pemilihan imbang itu.

Ia menyatakan bahwa pihaknya menduga, ada keberpihakan Panitia Pilkades Tamuku terhadap salah seorang Cakades pada Pilkades tersebut.

“Karena adanya keberpihakan panitia penyelenggara dalam Pilkades ini, sehingga saya merasa dirugikan dan akhirnya saya melakukan persuratan kepada Pemkab Lutra terkait masalah ini,” kata Wisudawan kandidat nomor urut 4 Cakades Tamuku, saat ditemui di kediamannya, Kamis (11/10/2018) siang .

Lebih lanjut Alumni Fakultas Teknik Komputer Universitas Cokroaminoto Palopo (FKOM UNCP) tersebut, membeberkan beberapa hal terkait dugaan keberpihakan Panitia Pilkades Tamuku.

“Pada saat pemilihan berlangsung, panitia penyelenggara tidak pernah mengumumkan jumlah surat suara yang ada, dan jumlah wajib pilih yang hadir dalam pemilihan itu,” sebut Wisudawan dengan nada kesal.

Selain itu, Wisudawan juga menyesalkan issu penetapan yang kini merebak bahwa Perda yang mengatur tentang hasil imbang dalam Pilkades tersebut, mengedepankan pengalaman di pemerintahan dan berdasarkan tingkat pendidikan formal.

“Jika Perda itu, mengedepankan pengalaman dalam pemerintahan tingkat desa, berarti saya sudah tidak bisa dilantik jadi Kades Tamuku. Tetapi jika ditinjau dari pada sisi pendidikan formal, saya ini juga seorang sarjana (S1), bahkan selama kuliah saya aktif berorganisasi khususnya di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),” terangnya.

Dalam kesempatan ini, Wisudawan juga menuturkan bahwa Cakades nomor urut 2, Isnandar yang suaranya seri dengan perolehan suaranya, hanyalah seorang tamatan SMA.

“Namun pada intinya saya sejak awal mendaftarkan diri sebagai salah satu kandidat, sejak saat itu, saya sudah bersedia untuk dikalah atau menang. Karena itu konsekuensi mutlak dalam pertarungan demikian. Sehingga saya akan selalu siap dilantik maupun  dinyatakan kalah, jika penetapan pemenang Pilkades ini, nantinya ditetapkan secara adil dan jujur, sesuai regulasi yang ada,” tandasnya.

Bahkan kata, Wisudawan dirinya juga mewanti-wanti kepada keluarga dan para pendukungnya supaya tidak mudah terpancing dengan issu-issu yang berkembang di tengah-tengah masyarakat terkait kisruh tersebut.

“Karena problem demikian sangat berpotensi menimbulkan konflik antar warga yang berbeda dukungan,” kuncinya.

BACA JUGAhttp://www.tabloidsar.com/2018/10/panwascam-malangke-di-lutra-ucapkan.html

Oleh karena dugaan tidak netralnya pihak penyelenggara, maka Wisudawan bersama dua Cakades lainnya tidak mau menandatangani Berita Acara Hasil Perhitungan Suara yang disedorkan oleh Panitia Pilkades Tamuku.

Hal tersebut, dibenarkan Cakades Tamuku nomor urut 3, Hasding yang telah dinyatakan gagal dalam Pilkades tersebut.

Dirinya membenarkan dugaan keberpihakan Panitia Pilkades Tamuku pada salah satu kandidat yang menjadi rival mereka.

“Karena kami dicurangi dengan berpihak pada kandidat Cakades nomor urut 2, Isnandar. Maka seandainya Pilkades putaran kedua dilaksanakan, tentu saya akan mengalihkan dukungan saya kepada kandidat nomor urut 2, saudara Wisudawan,” tegas Hasdiang melalui telpon selulernya ketika dikonfirmasi.

Sementara itu, Isnandar Cakades nomor urut 2, yang perolehan suaranya sama dengan suara Wisudawan, menyatakan bahwa pihaknya menyerahkan semua persoalan itu, kepada Panitia Pilkades.

“Saya tidak bisa komentar terlalu banyak mengenai persoalan ini, oleh karena itu, saya serahkan semuanya kepada Tuhan dan panitia penyelenggara,” ucap Isnandar dibalik telpon genggamnya saat dikonfirmasi.

Sedangkan Ketua Panitia Pilkades Tamuku, Nyoman Raka dengan tegas membantah issu tudingan keberpihakan panitia penyelenggara Pilkades tersebut.

“Tudingan mengenai issu itu, sama sekali tidak benar. Karena tidak ada panitia yang tidak netral,” tampiknya ketika dikonfirmasi melalui handphonenya.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Lutra, Misbah ketika dihubungi melalui teleponnya, tidak bersedia menjelaskan persoalan tersebut.

“Maaf Pak, saya lagi mengikuti sebuah acara penting, jadi tidak bisa menanggapi apa yang hendak dikonfirmasi,” tukasnya dibalik telpon seluler miliknya.

Diketahui, Pilkades Tamuku yang berlangsung pada tanggal 3 Oktober 2018 lalu, diikuti oleh empat orang kandidat Cakades, yakni nomor urut 1. Bahri, 2. Isnandar, 3. Hasding, 4. Wisudawan.

Dua diantara empat Cakades tersebut, telah dinyatakan gugur karena perolehan suaranya lebih sedikit, yaitu Bahri dan Hasding. Sedangkan Isnandar dan Wisudawan lebih unggul, namun perolehan suaranya seri atau sama.

Penulis   : Andi Muhammad Rizaldy
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.