.

.

Rubrik

.

Selasa, 09 Oktober 2018

Pasien Selamat dari Gempa dan Tsunami Sulteng, Kini Dirawat Ulang di Kota Palopo

Azis suami Rabiah pengungsi dari Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi Biromaru, Sulteng yang datang mengungsi bersama istrinya ke Kota Palopo, Sulsel

PALOPO, Tabloid SAR- Seorang pasien Rumah Sakit Undata Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang selamat dari guncangan gempa bumi dan tsunami pada Jumat (28/09/2018) lalu, kini mengungsi ke Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pasien yang selamat tersebut, adalah Nyonya Rabiah (45) penderita stroke asal Desa Omu, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi Biromaru, Sulteng. Saat ini, kembali menjalani perawatan medis di Rumah Sakit (RS) Siti Madyang, Kota Palopo, Senin (08/10/2018).

Menurut informasi yang berhasil dihimpun media ini, menyebutkan bahwa setelah menjalani perawatan medis selama beberapa hari di RS Undata Palu, Rabiah kemudian dinyatakan telah pulih dari penyakit stroke yang dideritanya. Ia bahkan sudah dijadwalkan bisa keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya.


Namun apes, karena ditengah kesibukan suaminya Azis (45) mempersiapkan kendaraan untuk membawanya pulang ke rumah dari RS Undata Palu, pada Jumat sore (28/09/2018), tiba-tiba saja bencana gempa dan tsunami memporak-porandakan Kabupaten Donggala, Sigi dan Kota Palu. Termasuk RS tempat merawat, Rabiah saat itu.

Beruntung penderita stroke yang baru dinyatakan telah pulih dan sudah bisa kembali ke rumahnya saat itu, bisa selamat dari guncangan gempa berkekuatan 7,4 skala richter (SR) yang melanda Kabupaten Donggala, Sigi dan Kota Palu.


Meski bisa selamat dari guncangan gempa dan tsunami yang meluluh-lantakan Kota Palu dan sekitarnya, Rabiah sempat terhempas ke tembok bangunan RS Undata Palu, sehingga ia mengalami luka dalam pada bagian tubuh sebelah kirinya.

“Saat gempa terjadi, saya lagi berjalan di teras rumah sakit tempat saya dirawat. Saat itu, saya sedang menunggu dijemput oleh suami saya yang sedang kembali ke rumah kami, mempersiapkan mobil untuk menjemput saya. Namun gempa dan tsunami tiba-tiba terjadi. Saat itu, saya sempat berlari keluar dari rumah sakit, tetapi saya terhempas dan terbentur ke tembok. Karena terbentur saat itu, saya mulai merasakan sakit pada bagian tubuh sebela kiri saya, walau saya tidak terluka. Sehingga saya yang merasa kesakitan saat itu, hanya bisa bertahan di depan rumah sakit, bersama korban lainnya,” kata Rabiah saat ditemui wartawan media ini di RS Madyang Palopo, Senin (08/10/2018).


Sementara itu, Azis menerangkan bahwa pasca peristiwa gempa dan tsunami yang mereka alami, ia bersama istrinya memilih mengungsi ke Kota Palopo di rumah salah satu keluarga dekatnya.

Azis menambahkan bahwa pasca mengalami peristiwa yang menimpa istrinya ketika masih berada di RS Undata Palu, Rabiah tidak bisa berjalan, selain karena penyakit stroke-nya kumat kembali, istrinya juga menderita luka dalam akibat terhempas dan terbentur pada tembok RS Undata Palu, saat gempa dan tsunami mengguncang daerah Kota Palu dan sekitarnya.

“Kondisinya makin menurun, dia tidak bisa berjalan dan dokter yang menanganinya di rumah sakit ini, mengatakan bahwa istri saya juga mengalami gangguan pada syaraf dan jantungnya,” tutur Azis.


Lebih lanjut, Azis menerangkan bahwa waktu kejadian gempa yang disertai tsunami  melanda Kota Palu dan sekitarnya, saat itu dia tidak bersama istrinya di RS Undata Palu. Saat itu, sedang berada di rumah mereka guna menyiapkan kendaraan untuk mengantar pulang istrinya.

Ketika gempa terjadi, istrinya terhempas dan terbentur ke tembok rumah sakit tempat ia dirawat, sedangkan Azis dihantam pecahan kaca lemarinya yang menyebabkan lengan bagian kanannya mengalami luka sobek.

“Karena gempa dan tsunami saat itu, maka besoknya baru saya berupaya untuk mencari istri saya. Karena waktu malam itu, kondisi gelap gulita dan tak ada yang bisa dihubungi lewat telepon seluler. Jaringan listrik dan telekomunikasi, semua terganggu. Beruntung pada keesokan harinya, setelah 2 jam mencari istri saya, Alhamdulillah saya berhasil menemukannya. Namun dia dalam keadaan tidak mampu lagi berjalan, karena terbentur ketika gempa terjadi,” ujar Azis mengisahkan peristiwa yang menimpa mereka.

Penulis   : Echa
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.