.

.

Rubrik

.

Selasa, 09 Oktober 2018

Sejumlah Calon Kades yang Kalah dalam Pilkades Serentak 2018, Ajukan Protes

Dari kiri kekanan, Calon Kades Malangke Ardis Baso bersama Akop (paling kanan)

LUTRA, Tabloid SAR- Pemilihan kepala desa (Pilkades) yang dilaksanakan secara serentak pada 41 desa di Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Rabu (03/10/2018) lalu. Meski berlangsung aman dan damai, namun tidak sedikit  menyisahkan sejumlah cerita miring dan menuai protes.

Protes tersebut, dilakukan oleh sejumlah calon kepala desa (Cakades) yang kalah dalam Pilkades Serentak 2018 itu.

Mereka melakukan protes terhadap hasil pemilihan dan perhitungan suara Pilkades yang telah ditetapkan oleh Panitia Pelaksana Pilkades.


Para Cakades yang gagal itu, melakukan protes dengan menuding bahwa rivalnya melakukan sejumlah kecurangan dalam Pilkades tersebut.

Bahkan beberapa Cakades yang tidak mau menerima hasil Pilkades di desanya, saat ini sedang melakukan upaya keberatan pada tingkat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lutra, untuk mendapatkan kepastian.

Salah satu hasil Pilkades Serentak yang menuai protes dari para Cakades yang kalah adalah Pilkades Malangke di Kecamatan Malangke, Kabupaten Lutra.

Dari lima orang Cakades Malangke, dua diantaranya yang mengajukan keberatan karena merasa dicurangi oleh lawan politiknya saat Pilkades berlangsung.

Kedua Cakades yang mengadukan ketimpangan Pilkades di desanya tersebut, adalah Akop dan Ardis Baso.


Keduanya mengatakan bahwa Pilkades Malangke diikuti oleh lima (5) orang Cakades yakni nomor urut 1. Ardis Baso, 2. Mursan Wilo, 3. Hj. Ratna, 4. Hasan, dan 5. Akop.

Kepada wartawan media ini, Akop bersama Ardis Baso mengungkapkan tudingan kecurangan yang dilakukan Cakades pemenang Pilkades Malangke.

“Calon Kades yang menang di desa kami adalah Hj. Ratna calon nomor urut 3, ia bisa mengungguli suara kami berdua, karena dia melakukan kecurangan dengan mengikutkan warga dari luar desa kami untuk ikut memilih,” kata Akop dan Ardis Baso di Kantor DPRD Lutra, Senin (08/10/2018).

Mereka menambahkan, bahwa selain itu, Hj. Ratna juga mengikutkan anak-anak di bawah umur untuk ikut mencoblos pada saat Pilkades berlangsung di Malangke.


Sementara, Kades Malangke terpilih, Hj. Ratna yang dikonfirmasi melalui hand-phonenya, mengatakan pihaknya tidak tahu menahu soal adanya kecurangan itu.

“Saya tidak tahu-menahu mengenai tudingan kecurangan itu, karena pada prinsifnya saya hanya mengikuti proses pemilihan yang berlangsung sesuai aturan. Dan mengenai persoalan hasilnya, itu tergantung panitia penyelenggara,” kata Hj. Ratna dibalik sambungan telpon genggamnya.

Ia menambahkan bahwa terkait masalah adanya komplain dari kandidat yang kalah, dirinya menyerahkan semuanya pada proses yang ada.

“Kalau ada yang protes, saya menghargai itu, dan mempersilahkan mereka untuk menempuh mekanisme yang ada,” tandasnya.


Sedangkan, Wakil Ketua DPRD Lutra Andi Sukma yang merupakan wakil rakyat dari daerah pemilihan (Dapil) Kecamatan Malangke dan Malangke Barat, ketika berupaya dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, tidak berhasil dihubungi.

Wartawan media ini, beberapa kali mencoba menghubungi Andi Sukma, namun hand-phone yang bersangkutan tidak aktif.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun media ini, hingga kini sejumlah Cakades di Kabupaten Lutra telah mengajukan keberatan kepada Pemkab Lutra, karena mereka tidak mau menerima kekalahannya dengan alasan lawan politik mereka melakukan kecurangan.

Para Cakades tersebut, antara lain Cakades Tamuku di Kecamatan Bone-Bone, serta Cakades Tokke dan Malangke di Kecamatan Malangke.

Penulis   : Andi Muhammad Rizaldy
Editor     : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.