.

.

.

Selasa, 30 Oktober 2018

Selamat Jalan Adindaku Tercinta, Sebab Tuhan Menantimu di Surga

Rahmat K. Foxchy

 Oleh : Rahmat K. Foxchy

TIADA kata yang dapat kupersembahkan kepadamu, kecuali ucapan “Selamat Jalan Adindaku Tercinta, Sebab Tuhan Telah Menantimu di Surga.” Itu karena agama yang kau yakini, semoga engkau damai bersama Tuhan Yesus sang penebus dosa. Amin.

Jika logika yang bicara, tentu muncul pertanyataan, “kenapa engkau terlalu cepat pergi  meninggalkan kami dan segenap keluargamu, di saat engkau masih berusia 40 tahun (lahir 09 Desember 1978) dengan meninggalkan anak-anakmu yang masih sangat butuh kasih sayang dari seorang ibu, dan juga membiarkan suamimu menjadi seorang duda. Sekaligus meninggalkan mami dan papimu, serta sanak saudaramu?”

Kami pun beserta segenap keluarga masih sangat mencintaimu, namun maut justru lebih cepat menjemputmu dengan cara yang begitu tragis. Lantaran melalui sebuah peristiwa kecelakaan lalu lintas (Lakalantas), pada Sabtu (28/10/2018) sekira pukul 10.00 WITA di Jalan Jenderal Ahmad Yani di seputaran Gedung Saodenrae Convention Center, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Olivia Katti, itulah nama aslimu meski engkau lebih akrab disapa Cheche Livia atau Mami Kezy, merupakan sebuah nama yang teramat indah didengar di telinga.

Tentunya pula, seindah ucapanmu yang senantiasa ramah terhadap keluarga dan kepada siapa saja. Meski engkau berdarah keturunan etnis Tionghoa dari garis silsilah papimu.
Almarhuma Olivia Katti
Hal itulah, sehingga membuat aku sebagai abang sepupumu, sangat mengagumi kepribadianmu. Sebab pada dirimu senantiasa terpelihara keluhuran nilai warisan leluhur kita, dari garis silsilah keturunan Puang To Makada Mesa’na ri Basse Sangtempe (Bastem) bernama buyut Foxchy yang dalam dialek Bastem disebut Pocci.

Jadi itulah salah satu eyang buyut kita yang sangat memfenomenal dan cukup dikenal pada zamannya dalam sejarah penegakan keadilan pada era pemerintahan adat di Bastem.

Adapun sebutan Foxchy, itu menurut lafal Belanda pada zamannya, ternyata mengandung makna yang sangat mulia, yakni semacam “suara keadilan” sesuai pengertiannya dalam bahasa Yunani Kuno.

Memang menurut sejarahnya, bahwa Eyang Foxchy (Pocci -red) pada zamannya, merupakan pemangku adat di Bastem dalam ranah penegak keadilan. Hebat benar eyang buyut kita itu, yah Dindaku?

Tampak seorang Pendeta Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL) membawakan puji-pujian belangsungkawa pada upacara pelepasan jenazah Almarhumah Olivia Katti di rumah duka, Jalan Ratulangi, Kota Palopo

Itulah, sebabnya maka nama Foxchy pun banyak pula menjadi nama atau vam bagi kalangan bangsawan barat, salah satunya bernama Mark Gerard Foxchy, yang merupakan keturunan bangsawan Inggris dan dikenal sebagai intelektual ningrat di negara tersebut pada zamannya.

Selasa, 30 Oktober 2018 engkau diantarkan oleh ribuan keluarga dan pelayat lainya menuju tempat peristrahatanmu yang terakhir. Lalu berbaring untuk selama-lamanya di dekat pusara Kakek Foxchy pada lokasi pemakaman khusus keluarga Katti di Capkar, Desa Lalong, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulsel.

Memang hati kami dan segenap keluarga berduka, akibat kepergianmu untuk selama-lamanya. Akan tetapi itulah pragmen akhir dari sebuah kehidupan. Bahwa kematian sudah menjadi tujuan akhir dari setiap mahluk hidup di muka bumi ini, tanpa terkecuali bagi setiap anak manusia.

Akan tetapi di balik kematian, mestinya ada hikmah yang dipetik dan dimaknai sebagai simbol kebangkitan untuk menuju sebuah telos. Jadi kematian harusnya bukan untuk ditangisi sebagai bentuk malapetaka.
Peti jenazah Almarhuma Olivia Katti digotong dari atas sebuah mobil untuk dibawah menuju tempat peristirahatannya yang terakhir
Kendati demikian, kami menitikkan air mata kesedihan, sebab kepergianmu untuk selama-lamanya masih menyisahkan beban dan tanggungjawab besar yang harus kami wujudkan, yakni bagaimana generasi kita kedepan dapat bangkit menjadi generasi hebat.

Terlebih lagi bagiku selaku abang sepupumu ini, secara pribadi tentunya sangat merasa kehilangan seorang adik sepupu. Karena tidak lagi bisa bersama-sama mendidik anak-anak kita masing-masing, agar mereka kelak kembali membangkitkan ketokohan generasi Foxchy yang hebat pada era milinieal sekarang ini.

Pasalnya keluarga kita saat ini, sedang mengalami krisis ketokohan pada berbagai lini ruang kehidupan publik. Padahal kita dan segenap keluarga diwarisi dengan gen-gen cerdas sebagai warisan garis keturunan dari leluhur kita yang secara turun-temurun mengangkat kebesaran peradaban Bastem pada setiap zamannya.

Tapi itu, sudah masa lampau dan mestinya pula harus diraih kembali melalui generasi kita kedepannya, sebelum kami menyusulmu untuk juga menuju sebuah telos.

Dindaku, walau kita berbeda keyakinan agama, namun teriring doa sebagai bentuk persembahan dari abang sepupumu ini, semoga engkau damai pada pembaringan terakhirmu di surga, sebab Tuhan Yesus akan senantiasa memberkatimu.

Harapan anak-anak yang engkau tinggalkan dapat tumbuh dan besar menjadi generasi hebat dalam menghadapi peradaban global yang semakin menuntut kecerdasan intelektual kedepannya. Amin.

**) Penulis adalah kakak sepupu dua kali Almarhumah Olivia Katti

Editor : William Marthom

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.