.

.

.

Senin, 28 Januari 2019

Bencana Alam Adalah Salah Satu Ujian Bagi Kepemimpinan Profesor Andalan

Gubernur Sulsel, HM Nurdin Abdullah bersama jajarannya meninjau lokasi bencana banjir bandang di Sulsel. [Foto : Int]

Profesor Andalan Diharapkan Mampu Menjawab Tantangan Bencana Alam di Tengah Upaya Mewujudkan Harapan Kesejahteraan Hidup Masyarakat Sulsel

NUSANTARA kembali berduka, lantaran sejumlah bencana alam kembali melanda untuk mencabik-cabik wajah Ibu Pertiwi. Hal tersebut, sehingga kian memperkuat prediksi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa sekitar 2.500 bencana bakal terjadi di berbagai penjuru tanah air pada 2019 ini, paling didominasi oleh kasus-kasus bencana alam jenis hidrologi.

Apalagi posisi negara kita ini dikepung oleh jalur cincin api alias ring of fire Pasifik. Sehingga sangat rawan dilanda fenomena bencana gempa bumi, yang senantiasa menimbulkan tragedi kemanusiaan pada sejumlah daerah lainnya.

Sementara pada musim hujan di bulan Januari ini, dalam mengawali perputaran roda waktu untuk tahun 2019. Maka kita pun kembali dihentakkan oleh peristiwa demi peristiwi kasus bencana alam hidrologi, baik itu bentuk bencana banjir maupun dalam bentuk bencana tana longsor yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Seperti bencana banjir disertai tanah longsor yang baru-baru ini melanda sejumlah daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Namun daerah yang paling terparah adalah banjir bandang di Kabupaten Gowa, diakibat meluapnya Sungai Jeneberang yang menjadi tempat Bendungan Bili-Bili. Termasuk kiriman banjir dari Sungai Jenelata, juga masih di Kabupaten Gowa, dengan debit air yang tak kalah pula besarnya.

Pada gilirannya tragedi ini, tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan harta benda serta merusak infrastruktur dengan kerugian yang tak terhingga. Namun juga menimbulkan dampak traumatik bagi korban yang masih sempat selamat, bahkan rentan menjadi beban psikologis yang berkepanjangan.

Tentunya hal ini, merupakan ujian terhadap kepemimpinan Profesor Andalan di Sulsel, tak lain adalah tagline Gubernur HM Nurdin Abdullah, untuk menjawab tantangan bencana alam di tengah upaya mewujudkan harapan kesejahteraan hidup masyarakat, selama lima tahun masa periodenya.

Sedangkan, apabila melihat kasus-kasus bencana alam hidrologi, seperti banjir bandang dan tanah longsor, nampaknya memang paling menonjol melanda Sulsel selama ini. Sebab memang tidak memiliki potensi bencana gempa vulkanik (erupsi gunung api), kecuali gempa tektonik yang siftanya berskala rendah pada daerah-daerah tertentu saja.

Bencana bajir bandang pada umumnya sudah dapat diketahui sumber penyebabnya adalah akibat maraknya perambahan hutan dan praktik-praktik illegal loging pada kawasan-kawasan hulu, karena lemahnya sistem pengawasan hutan oleh pihak aparat yang berwenang.

Selain disebabkan oleh faktor menyempitnya Daerah Aliran Sungai (DAS) dan tak terlepas pula mengalami pendangkalan, akibat didominasi olah perlakuan manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Termasuk faktor kegiatan-kegiatan eksploitasi dunia usaha pertambangan adalah juga signifikan memberikan kontribusi terjadinya bencana alam.

Jadi untuk dapat mewujudkan harapan kesejahteraan hidup masyarakat Sulsel, maka Profesor Andalan mau tidak mau harus pula dituntut untuk mampu menjawab tantangan bencana alam, dalam mencari solusi demi meminimalisasi terjadinya kasus-kasus tragedi kemanusiaan dari akibat bencana alam jenis hidrologi tersebut.

Tentunya, langkah progres yang sangat mendesak untuk dilakukan adalah bagaimana agar dapat lebih mendorong atau semakin mengefektifkan kerja-kerja Dinas Kehutanan, khususnya Polisi Kehutanan dalam melakukan pengawasan, demi menekan terjadinya kasus-kasus perambahan hutan dan praktik-praktik illegal loging melalui pendekatan penegakan supremasi hukum.

Selain mengevaluasi kembali atau study ulang dokumen Amdal pada sejumlah perusahaan tambang. Termasuk menertibkan tambang-tambang liar (illegal mining) untuk juga ditindak menurut ketentuan hukum yang berlaku.

Tentunya pula merelokasi warga yang berdomisili pada kawasan hutan atau lahan-lahan kritis, utamanya pada daerah-daerah hulu yang sifatnya dapat berpotensi menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor.

Sementara untuk program penanganan jangka pendek adalah menormalisasi DAS dan menertipkan bangunan di sepanjang DAS yang dianggap melanggar tapal batas bantaran sungai. Termasuk melakukan program sosialisasi bencana untuk mengubah mindset masyarakat, mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Namun untuk program jangka panjang, selain harus dilakukan revitalisasi lingkungan dengan cara melakukan konservasi terhadap lahan-lahan kritis melalui program kegiatan reboisasi. Maka tentunya pula sangat perlu merumuskan regulasi terkait lingkungkungan hidup yang lebih tajam.

Sebab jika mencermati arah kebijakan Profesor Andalan di tengah memimpin Sulsel untuk lima tahun ke depan, nampak memberikan harapan besar untuk mengakselerasi kemajuan pembangunan infrastruktur dalam mempercepat perputaran roda perekonomian untuk mensejahterahkan hidup rakyat.

Akan tetapi tanpa perhatian serius dalam mencari solusi terhadap kasus-kasus bencana alam, maka apapun bentuk kemajuan program pembangunan, tentunya pula akan menjadi sia-sia saja. Artinya, pembangunan hanyalah menjadi beban bagi sebagian besar kehidupan manusia di wilayah provinsi ini.

Apalagi tujuan dari pprogram pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) itu sendiri, tidak hanya sebatas untuk mensejahterahkan hidup manusia.

Namun yang lebih esensial lagi disini adalah bagaimana seharusnya memanusiakan manusia. Maksudnya adalah bersifat universal untuk mampu menjamin keselamatan manusia agar dapat hidup aman dan nyaman pada lingkungannya masing-masing.

Jadi sudah barang tentu, bahwa adanya tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang sejumlah daerah di Sulsel tersebut, bukanlah semacam perkara mudah untuk dapat segera diatasi.

Kendati demikian,apalagi Profesor Andalan sudah mengetahui penyabab terjadinya bencana banjir ini, maka tentu sudah menyiapkan kiat-kiat kebijakan khusus dalam menyiasati kasus-kasus bencana alam. Sekaligus mewujudkan kesejahteraan hidup masyarakat Sulsel, agar senantiasa pula aman dan nyaman pada lingkungannya masing-masing menurut kodrat bagi kebutuhan hidup manusia.

Begitulah ulasan editorial ini, tak ketinggalan pula Tabloid SAR menghimbau agar masyarakat senantiasa waspada terhadap setiap kemungkinan terjadinya bencana alam di musim hujan sekarang ini.

Salam dari Redaksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.

.