.

.

.

Rabu, 06 Februari 2019

Jarang Hadir di Sekolah, Warga Soroti Kepala SDN 110 Bangko di Kecamatan Rampi Kabupaten Lutra

SDN 110 Bangko  di Desa Rampi, Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra yang tampak tidak terurus dan sepi. Sekolah ini siswa-siswinya jarang belajar karena guru mereka malas hadir di sekolah, termasuk kepala sekolahnya.

LUTRA, Tabloid SAR – Lantaran jarang hadir di sekolah yang dipimpinnya, Kepala SDN 110 Bangko, Islamuddin SPd,  mendapat sorotan dari sejumlah elemen masyarakat Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Pasalnya guru yang diangkat menjadi Kepala SDN 110 Bangko di Desa Rampi tersebut, sudah beberapa bulan tidak muncul di sekolah yang dinahkodainya.

Atas kelalaian dalam menjalankan kewajibannya selaku Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sebagai Kepala SDN 110 Bangkok, Islamuddin mendapat kritik pedas dari Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pelajar Mahasiswa Rampi (PB IPMR), Bangsi Bati’.

Menurutnya kelalaian tersebut, sangat mempengaruhi proses belajar mengajar di SDN 110 Bangko.

“Proses pembelajaran di sekolah itu, jadi terhambat karena tidak ada yang mengawasi para guru agar aktif mengajar siswa. Bahkan Kepala SDN 110 Bangko terkesan tidak serius dalam membenahi sarana dan prasarana sekolah yang dipimpinnya,” kata Bangsi dengan rada kesal, Selasa (5/2/2019).


Ia menambahkan, para tenaga pengajar di SDN 110 Bangko, baik guru berstatus honorer maupun guru sukarela juga kesal dengan perilaku kepala sekolahnya yang jarang muncul di sekolah.

“Mereka mengaku kurang aktif mengajar siswa karena upahnya tidak jelas. Sebab tidak ada kejelasan dari Sang Kepsek, berapa upah mereka jika rajin mengajar para peserta didiknya. Bahkan para tenaga pengajar di sana merasa hanya dijadikan kayu bakar oleh Kepseknya,tanpa mendapat upah yang setimpal,” tutur Bangsi.

Lebih lanjut, Bangsi menerangkan, ia bersama para anggota dan kader IPMR pada bulan Desember 2018 lalu, ramai-ramai pulang kampung untuk liburan perayaan Natal dan menyambut Tahun Baru 2019 di kampung halamannya, seusai mengikuti ujian semester di kampus mereka di Kota Palopo.

“Kami lihat langsung bagaimana kondisi SDN 110 Bangko pada saat kami pulang kampung. Jika diamati dari dekat, sekolah itu terkesan tidak lagi digunakan karena tampak tidak terurus dan fasilitasnya yang serba terbatas,” terangnya.

Selama kami berada di Rampi waktu masa liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, kata Bangsi, Kepala SDN 110 Bangko tidak pernah terlihat muncul di sekolah, padahal pada waktu itu siswa SD belum libur.

“Warga setempat (Desa Rampi) mengatakan, selama Islamudin menjabat sebagai Kepsek SDN 110 Bangko, kehadirannya bisa di hitung jari, hanya satu dua kali datang kesekolah yang dipimpinnya,” sebut aktivis asal Kecamatan Rampi tersebut.

 
Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP) ini menambahkan, berdasarkan keterangan dari para tenaga pengajar di SDN 110 Bangko, mereka mengaku tidak tahu-menau berapa anggaran atau bantuan dana dari pemerintah yang masuk di sekolah tersebut.

“Para guru-guru di sekolah itu mengaku tidak tahu sama sekali, mengenai jenis anggaran apa lagi jumlah anggaran yang masuk di sekolah mereka,” ujar Bangsi.

“Kami sama sekali tidak tahu sedikitpun, terkait bantuan dana yang masuk di sekolah kami, jenis dana apa saja dan peruntukannya untuk apa, termasuk dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” tuturnya meniru pengakuan para guru SDN 110 Bangko.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Rampi, Tomas Riwi yang juga tokoh masyarakat setempat, ikut angkat bicara.

Sekdes Rampi tersebut menegaskan, jika pihaknya juga menyesalkan sikap Kepala SDN 110 Bangko. Karena Islamuddin, selain jarang muncul di SDN 110 Bangko, ia juga terkesan tidak peduli sama sekali dengan perkembangan sekolah itu.

“Saya sangat jengkel dengan sikap Kepala SDN 110 Bangko yang malas datang di sekolahnya. Selain itu, Pak Islamuddin juga terkesan, sama sekali tidak punya perhatian untuk memajukan sekolah tempat anak-anak kami mengeyam pendidikan,” tegas Tomas sembari meminta agar Islamuddin dicopot dari jabatannya selaku Kepala SDN 110 Bangko.


Menurut Tomas, Kepala SDN 110 Bangko itu, sering terlihat muncul  di Desa Onondowa, Kecamatan Rampi.

“Tapi, orang itu jarang sampai ke Desa Rampi di mana ia bertugas sebagai Kepala SDN 110 Bangko. Kalau demikian, lalu siapa yang akan mengawasi proses pembelajaran di sekolah tempat anak cucu kami menimba ilmu,” ucapnya.

Selain itu, Sekdes Rampi tersebut juga mempertanyakan kredibilitas dan konsistensi pihak pengawas sekolah dalam hal ini UPTD Kecamatan Rampi dan Dinas Pendidikan Kabupaten Lutra.

“Kenapa para pengawas sekolah di Kecamatan Rampi, terkesan membiarkan Kepala SDN 110 Bangko, malas-malasan datang di sekolah yang dikepalainya,” tukasnya dengan rada curiga adanya indikasi kerjasama antara kepala sekolah yang malas itu dengan para pengawas sekolah.


Hal senada juga diungkapkan, Sekretaris Dewan Pengurus Cabang Serikat Rakyat Miskin Demokratik (DPC SRMD) Palopo, Indrayani.

Menurut mahasiswa UNCP asal Kecamatan Rampi, Kabupaten Lutra ini, kemajuan daerahnya tergantung pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di kampung halamannya.

“Salah satu cara untuk meningkatkan SDM adalah menggenjot mutu dan kualitas pendidikan masyarakat. Tapi jika penyelenggaraan pendidikan di SDN 110 Bangko dilaksanakan kurang maksimal dengan tidak bertanggungjawab. Maka hampir bisa dipastikan, nantinya adik-adik kami yang mengeyam pendidikan di sekolah tersebut, tidak bisa diandalkan membangun daerahnya kedepan,” ujar Indrayani.

Aktivis SRMD tersebut mengatakan, mestinya jajaran pemerintah pada lembaga pendidikan folmal, khususnya pada jenjang sekolah dasar (SD) yang menjadi garda terdepan untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya pendidikan ditanamkan sejak dini kepada generasi penerus bangsa.

“Tapi jika Kepseknya yang malah apatis dan tidak bertanggungjawab menjalankan tugasnya selaku mentor atau leader di SDN 110 Bangko, lalu bagaimana mau menanamkan kesadaran akan pentingnya pendidikan dalam membangun karakter adik-adik kami di Rampi,” kata Indrayani dengan penuh tanya.


Mantan PB IPMR itu, membeberkan jika pihaknya juga tidak pernah melihat Kepala SDN 110 Bangko, Islamuddin ketika pulang kampung pada bulan Agustus 2018 lalu.

“Pada Agustus 2018 lalu, saya bersama kawan-kawan IPMR pada libur, jadi kami pulang kampung untuk ikut berpartisipasi memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-73 di Kecamatan Rampi. Pada waktu itu, kami (IPMR) juga sepakat untuk menginvestigasi dan mencross check laporan warga, terkait Kepala SDN 110 Bangko yang jarang hadir di sekolah. Hasilnya, selama kami di Rampi, berulang kali mengecek kehadiran Kepsek tersebut, tapi beliau tidak pernah muncul di sekolahnya,” ungkap Indrayani.

Indrayani menghimbau, agar Islamuddin selaku Kepala SDN 110 Bangko, jangan berlaku seenaknya melalaikan tanggung jawabnya, baik selaku ASN maupun selaku Kepsek.

“Hal itu sebenarnya tidak bisa ditolerir dengan alasan dan dalil apapun, baik selaku ASN maupun sebagai Kepsek. Pak Islamuddin tidak boleh berbuat sesuka hatinya, sebab ia sudah dibayar oleh negara untuk melaksanakan cita-cita negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka beliau harus bertanggung jawab untuk itu,” desak Indrayani dengan rada ketus.


Selain itu, aktivis perempuan asal Kecamatan Rampi tersebut, minta dengan tegas kepada pihak yang berwenang agar segera mengevaluasi kinerja Kepala SDN 110 Bangko.

“Sebaiknya, pihak terkait dalam hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lutra, segera melakukan evaluasi terhadap Kepala SDN 110 Bangko dan mencopot Pak Islamuddin dari jabatannya karena tidak mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tanggungjawab,” tegasnya.

Indrayani berharap agar, Islamuddin diganti dengan orang yang sungguh-sungguh memiliki jiwa membangun supaya nantinya dapat membawa perubahan di SDN 110 Bangko, demi berkembangnya mutu dan kualitas pendidikan di daerah tersebut.

“Pemda Lutra jangan diam saja dan seakan-akan tutup mata, serta tutup telinga dengan kondisi atau masalah yang sedang terjadi di SDN 110 Bangko. Tapi harus segera mengambil langkah dan sikap tegas demi menyelamatkan anak didik di sekolah itu,” harapnya.


Desakan itu, kata Indrayani sangat mendasar, sebab jika Islamuddin tidak segera dicopot dari jabatannya selaku Kepala SDN 110 Bangko, pihaknya kuatir dengan nasib siswa-siswi Kelas VI di sekolah tersebut yang tak lama lagi akan mengikuti ujian akhir.

“Siswa-siswi Kelas VI SD tidak lama lagi akan menghadapi ujian. Sementara persiapan yang diberikan pihak  sekolah belum matang karena sikap Kepseknya. Jadi demi menyelamatkan generasi penerus bangsa, maka Kepala SDN 110 Bangko harus segera dicopot,” tegasnya.

Hingga berita ini dipublikasikan, Kepala SDN 110 Bangko, Islamuddin belum berhasil dikonfirmasi wartawan media ini. Yang bersangkutan juga, dikabarkan belum menampakkan diri di sekolah yang dinahkodainya.

Penulis   : William Marthom
Editor     : Zottok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.

.