.

.

.

Sabtu, 10 September 2016

Sekelumit Legenda Lakipada dalam Mitologi Toraja, Menurut Perspektif Peradaban Maritim Bugis Mitos

Monumen Pejuang Toraja Lakipadada

Penulis: Ories Foxchy
Pendahuluan
Ada beragam versi dalam legenda rakyat tentang tokoh mitos Toraja yang bernama Lakipada. Contohnya dalam mitologi Basse Sangtempe’ (Bastem), rupanya dikenal beberapa tokoh mitos yang paling memfenomenal menurut fase-fase zamannya.

Hal mana yang tergambar dalam cerita rakyat, bahwa ada namanya Lakipadada Dolo dan Lakipdada Undi serta Lakipadada To Mellinoan. Ketiga tokoh mitos ini, konon lahir menurut fase-fase jamannya, sebagaimana dimaksud dalam mitologi Bastem .

Maka ketiganya pun sangat identik pula dengan misi pencarian ilmu tuo tang mate (hidup abadi, red). Jika Lakipadada Dolo, disebut-sebut eksis pada fase peradaban mula tau episode kedua.

Sementara Lakipadada Undi atau disebut-sebut pula sebagai Lakipadada Kedua, eksis pada fase peradaban mula tau episode ketiga. Sedangkan Lakipadada To Mellinoan, eksis pada fase peradaban Toraja memasuki era sejarah.

Lakipadada Dolo
Adapun Lakipadada Dolo atau biasa juga disebut Lakipadada Pertama ini adalah dideskripsikan sebagai tokoh mitos yang pernah lahir pada era peradaban mula tau fase kedua, sehubungan dengan munculnya Kedinastian Raja-raja To Manurung ri Tabang.

Dimana kedinastian ini adalah juga bersimbol kebesaran “payung” berwana merah, sehingga disebut pula dengan istilah To Manurung ri Tabang. Menurut pengertiannya adalah, “Penguasa (Raja) yang Dipertuan di Atas Kebaraniannya”.

Karena arti “-to-” adalah sebuah gelar yang melekat pada orang yang memiliki kekuasaan, antara lain semacam ‘raja’. Sedangkan “-manurung-” artinya adalah ‘dipertuan’ dan “-ri-”’ artinya ‘di atas’. Adapun “-Tabang-” artinya adalah ‘berani’.

Sebagaimana telah dipahami, bahwa “berani” adalah mengilustrasikan tentang simbol “warna merah”. Sedangkan istilah “-Tabang-” dalam bahasa Toraja Kuno yang sudah hampir punah artinya adalah “merah”.

Jika istilah To Manurung ri Tabang, mengandung pengertian adalah “Raja yang Dipertuan Karena Keberaniaannya”. Mengingat simbol kekuasaan tertinggi pada kedinasian pada era peradaban ini adalah juga disebut pajung (payung, red).

Konon menurut cerita rakyat, bahwa kedinastian ini adalah juga bersimbolkan “payung berwarna merah”, sehingga juga disebut dengan istilah To Manurung ri Tabang. Sedangkan salah satu tokoh mitos yang paling melegendaris pada zamannya adalah bernama Lakipadada Dolo.

Adapun maksud dalam kisah-kisah cerita rakyat tentang legenda mencari ilmu tuo tang mate. Pada dasarnya adalah sebuah misi yang mengilustrasikan tentang ekspedisi pelayaran pada zamannya.

Hal tersebut, sebab Lakipadada Pertama ini adalah disebut-sebut pula dengan istilah Pattala Tallunna Mula Tau, atau biasa juga disebut To Mendewatanna Pattala Tallu. Artinya “tiga tokoh sakti” pada era peradaban mula tau (purba, red), menurut tugasnya masing-masing.

Dimana Lakipadada pada era ini, bertugas pada penguasaan bidang kemaritiman, sehingga pergi untuk melaksanakan sebuah misi ekspedisi pelayaran. Hanya saja dalam cerita rakyat, mengilustrasikannya dengan istilah untuk mencari ilmu tuo tang mate.

Sedangkan dua Pattala lainya, tinggal untuk menduduki tahta mitos Kedinastian To Manurung ri Tabang. Namun Pattala yang satunya lagi, kembali ke Langi’ (Langit- red) untuk menjadi Puang Suratan To Mendewatanna ri Langi’.

Karena Lakipadada menurut tugasnya, sehingga harus pula mengarungi samudera lepas, untuk maksud menjalin hubungan yang saling berinteraksi dengan dunia luar. Maka konon Lakipadada Dolo ini, melakukan misi ekspedisi pelayaran ke penjuruh dunia, pada gilirannya berinteraksi dengan Kerajaan Mesir Kuno.

Kemudian terbangun diplomasi antar peradan mitos, akhirnya muncul namanya Kampung Kaero di Sangngalla’. Boleh jadi adalah semacam “kota kembar” atau “sister city” pada zamannya, dalam saling menjalin simbol persahabatan antara kedua peradaban kuno tersebut.

Sebab konon Kampung Kaero di Sangngalla’ dengan Kairo di Mesir, merupakan hasil hubungan interaksi diplomasi antar peradaban, ditengarai terjadi sekitar 3.000 tahun sebelum masehi (SM).

Menurut legendanya, kala mencari misi tentang tuo tang mate, awalnya berangkat dari Salu Borrong di Langi’ – Bastem, Kabupaten Luwu atau berada di sisi sebelah timur Pegunugan Latimojong. Konon kala itu, daerah ini masih berupa pesisir pantai terhampar di antara sela-sela perbukitan.

Adapun Latimojong sendiri adalah disebut-sebut sebagai pusat peradaban Puang Timojong, ditengarai sebagai asal-usul keleluhuran peradaban mula tau, ditengarai sebagai awal berdirinya Kedinastian To Manurung episode pertama, yang disebut To Manurung ri Langi'.

Latimojong, rupanya mengandung dua unsur kosa kata, yakni adalah "lati" artinya "asal" dan mojong artinya "moyang". Menurut pengertianya adalah sebagai "asal (usul) nenek moyang" dan juga disebut sebagai simbol keberasan Puang Suratan To Mendewatanna ri Langi'.

Konon puncak tertinggi pada pegunungan inilah, pun diyakini sebagai tempal awal berdirinya Kerajaan To Manurung ri Langi' sebagai tahta mitos Puang ri Timojong, menurut cerita rakyat.

Sebab dalam perspektif mitologi Bastem, bahwa To Manurung ri Langi’ sehingga dianalogikan pula sebagai simbol kekuasaan Maha Dewa bagi peradaban alam gaib yang sangat diselimuti dengan misteri kehidupan mistik.

Sedangkan mengenai kisah legenda Lakipadada Dolo dalam mencari ilmu tuo tang mate. Konon ia berangkat bersama rombongannya, dengan membawa seekor kerbau loreng (tedong saleko- red). Pada zaman itu, laut masih menyelimuti sebagian daratan tinggi di wilayah Toraja.

Hal inilah, maka kerbau jenis ini menjadi simbol status tentang strata sosial kebangsawanan murni di Toraja secara turun-temurun. Jadi patut dikatakan bahwa tedong saleko pada zamannya, merupakan simbol kejayaan bagi peradaban Toraja Purba itu sendiri.

Jadi apa yang dimaksud dalam mitologi Bastem, mengenai tokoh mitos bernama Lakipada Pertama ini. Nampaknya adalah mengilustrasikan tentang reingkarnasi (kelahiran kembali) sebuah kebesaran peradaban maritim pada era Toraja Purba.

Maksudnya lahirnya kembali (reingkarnasi, red) Kedinastian Raja-Raja To Manurung sebagai fase awal munculnya peradaban mula tau dalam membangun maritim Bugis Purba, di bawah misi ekspedisi Sawerigading. Kala itu dalam sejarah dunia disebut-sebut telah mengelilingi dunia dari semenjak tahun 10.000 – 8.000 SM.

Menurut legendanya bahwa keruntuhan fase awal era perdaban mula tau Kerajaan Luwu Purba ini, awalnya didirikan oleh Sang Maha Dewa “Batara Guru”. Hal tersebut, diakibatkan oleh adanya pengutukan dewata, sekaitan dengan peristiwa lino’ lompo (gempa dahsyat, red).

Jadi apa yang dimaksud dalam mitologi Bastem, mengenai tokoh mitos bernama Lakipada Dolo ini. Nampaknya adalah mengilustrasikan tentang eksistensi fase reingkarnasi (kelahiran kembali- red) kebesaran peradaban maritim pada era Toraja Purba.

Sekembalinya dari misi ekspedisinya untuk mencari ilmu tuo tang mate. Lalu mendirikan kampung yang disebut Kaero di Sangngalla’. Kemudian membangun sebuah eksistensi peradaban Toraja Purba yang disebut Kadatuan (Kerajaan- red) Kalaburan Allo.

Pada era inilah sehingga Kerajaan Toraja Purba mengalami puncak peradaban, sehubungan dengan muncul istilah tentang erang ri langi’, disebut-sebut adalah semacam tangga menuju langit.

Akibat penerus tahta pada kerajaan ini, dengan kekuasaan absolutnya dengan segala kesombongan dan perilaku amoralitas yang semakin jatuh di bawah titik nadir. Pada gilirannya, mendapat kutukan dewata yang disebut dengan istilah tentang peristiwa tragedi pemasaman (kutukan berupa mahluk hidu yang membeku menjadi batu- red), mirip kutukan sala-satu tokoh legendaris Malinkundang. Akhirnya peradaban ini mengalami kehancuran.

Adapun kisah-kisah tentang legenda Lakipadada Dolo atau Lakipadada Pertama ini, begitu syarat dengan muatan cerita rakyat yang sifatnya berdimensi alam mitos dan penuh diselimuti kehidupan mistik dalam kegelapan misteri.

Namun jelasnya bahwa dalam mitologi Bastem, bahwa Lakipadada Dolo ini adalah disebut-sebut sebagai rangkaian awal munculnya Lakipadada generasi berikutnya dalam mewarnai legenda peradaban mula tau, menurut fase-fase zamannya.

Olehnya itu, terkait dengan adanya legenda Lakipadada Dolo atau Lakipadada Pertama dalam mencari ilmu tuo tang mate tersebut. Ketika ditengarai pernah menjalin interaksi diplomatik gaya mitos dengan Kerajaan Mesir Kuno pada zamannya.

Maka nampak ada kesamaannya tradisi antara budaya Toraja dengan budaya Mesir Kuno tersebut, salah satunya tradisi pengawetan (pemummian, red) jenazah. Boleh jadi tradisi ini adalah menjadi salah satu warisan budaya dari semenjak Lakipadada Dolo tersebut.

Lakipadada Undi
Setelah peristiwa tragedi pemasaman tersebut, sehingga kembali terjadi reingkarnasi peradaban mula tau episode kedua, sehubungan dengan munculnya Puang Tamboro Langi’.

Maka lahir salah satu tokoh mitos adalah juga bernama Lakipadada, dalam mitologi Bastem disebut-sebut bernama Lakipadada Undi atau dapat juga disebut Lakipadada Kedua.

Konon Lakipadada yang satu ini, lahir di Batu Borrong atau Batu Kumilla’ di Gunung Sinaji, Kecamatan Bastem Kab. Luwu. Merupakan salah satu puncak gunung tertinggi pada jajaran Pegunungan Latimojong.

Gunung Sinaji sendiri adalah salah satu simbol mitos dari Kedinastian To Manurung, menurut perspektif peradaban mula tau. Hal itulah, maka dalam mitologi Bastem sehingga puncak gunung ini sangat diyakini sebagai simbol kekuasaan dewata episode terkhir bagi peradaban mula tau, maka dikenal pula dengan istilah Kapuangan ri Sinaji.

Menurut legendanya, bahwa Lakipadada Kedua tersebut adalah melahirkan empat Pattala disebut dengan istilah Pattala A’pa’, yakni Pattala Merang (Mea), Pattala Bantang, Pattala Didi dan Pattala Bunga, menurut tugas kedudukannya masing-masing.

Sementara dalam legenda Tallu Lembangna, di mana Lakipadada pada era ini adalah disebut-sebut pernah pula bertatahta di Buntu Kandora Toraja. Kemudian, ditengarai membangun sebuah istana yang disebut dengan istilah Banua Ditoke’ Dianginni (mitos: istana awan/ diatas awan- red).

Akan tetapi dalam mitologi Bastem, hanya saja peradaban mula tau episode kedua ini, pun ditengarai mengalami keruntuhan. Hal tersebut, akibat munculnya peristiwa sikande-kande bale dalam istilah Bugais disebut siandre baleni tau-e, sehubungan dengan munculnya peristiwa “nenek horor” yang disebut Nenek Pangoro’-ngorok (kanibal: batitong, parakang, dan po’pok- red) atau semacam manusia drakula.

Lanjut mengenai legenda Lakipadada Kedua ini, kala dalam melakukan misinya untuk mencari ilmu tuo tang mate, pun ditengarai pergi melanglang buana hingga ke dunia luar dengan simbol kerbau putihnya (tedong bulan- red) hingga ke India.

Ketika kembali, maka ia pun membangun kampung bernama Gowa (maksudnya, Goa) yang saat ini dikenal dengan nama Kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan. Karena ditengarai menjalin interaksi dengan Kerajaan Hindustan Kuno, disebut-sebut adalah juga berkedudukan di Goa India sekitar tahun 2.000-1.500 SM.

Hal inilah, sehingga Lakipadada Undi ini dalam cerita rakyat bahwa ada juga yang menyebutnya sebagai orang berasal dari India. Tentu kepergian Lakipadada Undi ini, ditengarai melanglang buana hingga ke India, sebab mungkin ingin mempelajari nilai-nilai spiritual Hinduisme pada peradaban tersebut.

Ihwal tersebut, kemudian kembali membawa ajaran-ajaran spiritual yang disebut dengan istilah Aluk To Dolo.

Hanya saja Ia tidak meniru persis cara-cara ritual yang dipraktekkan dalam ajaran-ajaran spiritual Hiduisme tersebut, sebab mesti dikondisikan dengan tradisi yang berlaku dalam masyarakat adat Toraja pada zamannya. Maka Hal inilah, sehingga ritual-ritual dalam aluk To Dolo agak sedikit berbau Hindu.

Halnya kisah-kisah tentang legenda Lakipadada Dolo, maka begitupun juga dengan kisah-kisah legenda Lakipadada Undi, yang tak terlepas dari dimensi alam mitos yang sangat syarat dengan kehidupan mistik.

Lakipadada To Mellinoan
Pada gilirannya berdiri era peradaban To Mellinoan, boleh jadi maksudnya adalah sebuah era masuknya peraban sejarah yang diawali atas berdirinya Kapuangan (Kerajaan) Londong ri Rura di Duri, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Konon kapuangan ini kala di bawah kekuasaan Puang Sussang (Mitos), menurut pengertiannya bahwa sussang maksudnya adalah “melawan takdir”.

Untuk mempertahankan kemurnian keturunannya sebagai syarat penerus dinasti-nya, maka anak-anaknya saling dikawinkan antara satu dengan yang lainnya. Perkawinan terkutuk ini disebut perkawinan sedarah yang dikenal dengan istilah pernikahan incest.

Sehubungan dengan adanya perkawinan terkutuk tersebut, lalu Dewata ri Langi’ menjelmakan kembali Puang Tamboro Langi’, disebut-sebut dengan istilah To Tiumbak Sule atau “raja yang dijelmakan” kembali datang/muncul.

Ketika Puang Tamboro Langi’ (jelmaan) ini akan melakukan penyerangan, maka lalu mengangkat sebuah sumpah yang disebut Bassena ri Bamba Puang sebagai bentuk “sumpah kutukan” untuk dijatuhkan kepada Puang Sussang (Mitos) ini.

Adapun Puang Tamboro Lagi’ jelamaan ini, maka generasinya kembali melahirkan tokoh mitos, lagi-lagi bernama Lakipadada. Namun dalam mitologi Bastem, bahwa tokoh mitos ini adalah disebut-sebut dengan istilah Lakipadada To Mellinoan dengan kata lain Lakipadada Ketiga.

Kemudian Lakipadada ini, ditengarai merestorasi kembali tatanan kedinastian mitos To Manurung gaya baru tentang susunan Raja-Raja To Mellinoan, sebagai berikut :

1) Kapuangan Sangalla’ Kuno adalah sebagai bentuk “restorasi” terhadap istilah Matasak ri Sangalla’ dan kemudian dikenal dengan istilah Tallu Lembangna. 
2)   Kerajaan Gowa Kuno adalah juga sebagai bentuk “restorasi” terhadap istilah Somba ri Gowa.
3)  Kerajaan Bone Kuno pun adalah merupakan sebagai bentuk “restorasi” terhadap istilah Mangkau ri Bone atau biasa juga disebut Arung Pone.
4)   Kerajaan Luwu adalah sebagai bentuk “restorasi” terhadap istilah Kedatuan ri Luwu, bersimbolkan pajung (payung, red).

Termasuk yang direstorasi oleh Lakipadada pada era To Mellinoan ini adalah tatanan Kapuangan Sanggalangi’ dan simbol-simbo kekuasaannya. Lakipadada ini, pun mengikuti jejak kedua tokoh mitos Lakipadada pendahulunya untuk mencari ilmu tuo tang mate.

Bahwa pada dasarnya panjang kisah-kisah cerita rakyat tentang tokoh mitos Lakipadada Ketiga ini. Konon pada zamannya digelar dengan istilah “Palodang Pertama”, mungkin adalah semacam panglima perang.

Penutup
Olehnya itu pula, maka sangat mungkin Puang Tamboro Langi’ (jelmaan) pada era peradaban To Mellinoan ini, ditengarai menjadi dasar perhitungan silsilah keturunan bagi kaum bangsawan Tallu Lembangna.

Hal tersebut, menurut sejarah Toraja menyebutnya, bahwa muncul sekitar abad VIII M atau tahun 900-an M, dan boleh jadi pada abad-abad yang lebih awal lagi.

Pasalnya, bahwa pada era To Mellinoan ini adalah juga disebut-sebut sebagai era lontara bagi peradaban Bugis, dalam memasuki sebuah era sejarah.

Karena lontara pada era ini, pun dijadikan sebagai dasar konstitusi terbentuknya istilah tentang tatanan kerajaan Tellu Bocco-E di jazirah Sulawesi Selatan ini.

Jadi apabila menyimak eksistensi tentang peradaban mula tau, maka Toraja adalah merupakan induk dari sebuah peradaban bagi lahirnya Raja-Raja Kedinastian To Manurung, menurut fase-fase zamannya.

Pada gilirannya mampu membentangkan kedigdayaan peradaban maritim Bugis Purba, dari semenjak tahun 10.000 - 8.000 SM.

Hanya saja terjadi keruntuhan peradaban, akibat dari berbagai peristiwa yang sifatnya sangat berpotensi memusnahkan umat manusia, sehingga muncul sederet tokoh mitos yang disebut Lakipadada pada setiap zamannya, sebagaimana yang diilustrasikan melalui artikel ini.

Jadi nampaknya, bahwa Lakipadada adalah bukanlah tokoh mitos tunggal yang pernah lahir. Namun sebuah tokoh mitos Toraja yang senantiasa muncul untuk mengangkat (mereingkarnasi atau merestorasi) kembali peradaban mula tau, menurut fase-fase zamannya bagi eksistensi peradaban maritim Bugis Mitos.

Begitulah sekelumit ilustrasi tentang legenda Lakipadada dalam rangka menyambut Hari Jadi Toraja ke 769 tahun dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 59 Kabupaten Tana Toraja (Kab Tator).

Adapun artikel ini akan diulas lebih lanjut oleh Redaksi Tabloid SAR, dalam sebuah program penerbitan buku berjudul tentang Mitologi Lakipadada.

**) Penulis adalah pemerhati budaya nilai-nilai kearifan lokal.

Catatan: Tulisan ini dapat Anda baca pada terbitan Tabloid SAR edisi 15 September 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.