.

.

.

Sabtu, 31 Desember 2016

Aksi Teror Diprediksi Meningkat Jelang Perayaan Natal dan Tahun Baru

Ilustrasi bom
Ken Setiawan : Saat ini Lampung Menjadi Tempat Berlabuh Beberapa Kelompok Radikal di Indonesia

Jakarta, Tabloid SAR- Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan mengatakan, pasca penangkapan tujuh orang terduga teroris di Bintara, Bekasi, Jawa Barat, maka potensi teror akan terus menghantui Indonesia.

Aksi teror diprediksi akan meningkat jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2017 yang tinggal beberapa hari ke depan.

“Potensi teror ada di wilayah Sumatera terutama di Lampung. Saat ini Lampung menjadi tempat berlabuh beberapa kelompok radikal di Indonesia. Banyak kelompok yang kecewa dan kini memutuskan bergabung di jaringan Lampung,” kata Ken Setiawan kepada wartawan, Kamis (15/12/2016).

Menurut Ken Setiawan, saat ini jaringan Lampung ini sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Dalam aksinya jaringan Lampung ini memang tidak mau frontal menyatakan anti pemerintah, tapi pada dasarnya anti demokrasi dan anti Pancasila. Aksinya yang terkini ada yang terkordinir dan ada yang melakukan acak tersendiri sehingga sulit untuk dimonitor perkembanganya.

"Moment Natal dan Tahun Baru kerap dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk melakukan 'konser'," paparnya.

Lebih lanjut Ken mengatakan, ideologi radikal memang tidak akan pernah mati dan akan dimanfaatkan kelompok radikal untuk merekrut dan mencuci otak para jamaahnya untuk bisa melakukan hal - hal yang di luar nalar masyarakat biasa. Pemicunya adalah kekecewaan terhadap kondisi saat ini yang menurut mereka tidak sesuai dengan konsep hukum Allah, akibatnya tidak pernah ada keadilan, kesejahteraan.

"Apalagi Indonesia tidak berkonsep dengan hukum Tuhan, sehingga mereka ingin mengganti dasar hukum Pancasila menjadi Hukum Islam sesuai yang mereka inginkan," jelasnya.

Ken menuturkan, untuk mencegah semakin menyebarnya jaringan Lampung maka caranya adalah pembentengan faham radikalisme kepada para generasi muda dengan seminar dan sarasehan ke masyarakat luas melalui sekolah, kampus. instansi dan organisasi kemasyarakat serta komunitas berbasis pemuda.

“Yang terpenting adalah kewaspadaan, tapi jangan sampai phobia,” tegasnya. (Hanter)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.