.

.

.

Sabtu, 31 Desember 2016

Batal Rencana Penghapusan Ujian Nasional, Tapi Dikaji Ulang

Yusuf Kalla
JAKARTA, Tabloid SAR – Sepertinya dunia pendidikan di Indonesia sedang mengalami pasang surut dan berbagai tambal sulam kebijakan. Salah satunya menyangkut kebjikan Ujian Nasional (UN).

Melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy yang merencakan untuk menghapus UN. Namun rencana tersebut menjadi batal, setelah dibahas dalam sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Rabu 7 Desember 2016.

Sebagaimana yang dirilis Viva.co.id dan dikutip oleh Tabloid SAR, bahwa rencana pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghapus Ujian Nasional (UN), dibatalkan. Ujian Nasional masih tetap akan diadakan.

Hanya saja Mendikbud Muhadjir Effendy tidak memberikan keterangan pers, seuasai sidang kabinet paripurna. Namun Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang ditemui di Istana Wakil Presiden, Kebon Sirih, mengatakan, kalau rencana penghapusan UN itu ditolak.

"Ya hasilnya usulan moratorium itu tidak disetujui tapi disuruh kaji ulang," kata Wapres JK.

JK menjelaskan, alasan menolak usulan UN dihapus itu adalah masih perlunya kerja keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan. "Tanpa ujian nasional bagaimana bisa mendorong bahwa kita pada tingkat berapa, dan apa acuannya untuk mengetahui bahwa dari ini kemudian nanti tanpa ujian nasional," ujar JK.

Selain itu, untuk mengevaluasi maka soal ujian nasional harus sama. Dengan adanya soal yang sama itu maka bisa dilihat kualitas siswa di tiap daerah. "Harus dengan soal yang hampir sama harus diketahui, Jawa begini, Sulawesi begini, Kalimantan bagaimana. Baru bisa. Kalau tanpa itu bagaimana caranya," kata Wapres.

JK menjelaskan, ukuran kelulusan adalah ujian. Di negara-negara ASEAN misalnya, semua menggunakan ujian nasional bahkan sangat ketat. Begitu juga di Asia, menggunakan ujian nasional. Hanya Jepang yang menurutnya tidak menggunakan ujian skala nasional, kecuali untuk masuk ke perguruan tinggi.

"Tanpa ujian nasional daya saing kita dan semangat anak-anak belajar itu berkurang. Jadi usulan tadi tidak diterima, tapi disuruh kaji dan secara perbandingan lebih dalam lagi untuk memperbaiki mutu.” Kunci JK. (RD/Int)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jumlah Pembaca

.

.