.

.

.

Rabu, 28 Desember 2016

Implikasi Praktis Natal Bagi Kehidupan yang Damai

Welsi Patabang

“Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat Yaitu Kristus, Tuhan, di Kota Daud (Lukas 2:11)”


Oleh : Welsi Patabang

Natal merupakan peristiwa sejarah terpenting bagi umat manusia, baik secara individual maupun secara universal. Didalamnya peristiwa yang terjadi bukanlah sekedar kelahiran seorang anak manusia yang baru memulai eksistensi-Nya pada titik waktu tertentu di dalam sejarah.

Akan tetapi adalah merupakan peristiwa kedatangan seorang pribadi ‘Maha Kuasa, Penasihat Ajaib, Tuhan yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai (Yes. 9:5)’, yang telah ada sejak kekekalan silam (Mi. 5:1) ke dalam dunia dalam wujud manusia lewat proses kelahiran biasa dari seorang dara bernama Maria (Yoh. 1:1, 14).

“Sesungguhnya, anak dara (Mariam) itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki (pembawa kedamaian), dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Tuhan menyertai kita (Mat 1:23).

Olehnya itu, kelahiran Yesus Kristus adalah jelas memberikan implikasi bagi pemangku-pemangku kekuasaan yang bersifat zalim pada zamannya. Bahwa dengan kesewenang-wenangannya, sehingga membuat halayak (umat) yang senantiasa di bawah tekanan rasa ketidakadilan dan dihantui olah rasa ketakutan.

Jadi kelahiran-Nya tersebut, maka dinilai sebagai era kebebasan dari praktek-praktek kekuasaan (raja) zalim. Sekaligus untuk menghentikan, kekacauan demi kekacauan yang sengaja diformulasi oleh pemangku-pemangku kekuasaan pada zamannya, agar halayak selalu tunduk terhadap doktrin-doktrin kepentingan politik gaya kekuasaan (raja zalim) itu sendiri.

Hal inilah, sehingga Yesus Kristus disebuat sebagai pembawa kedamaian, maka digelar pula dengan nama ‘Raja Damai’. Pada gilirannya sukacita pun muncul di tengah halayak, sebab penindasan dan rasa ketidakadilan akan segera berakhir.

Olehnya itu, bahwa kelahiran Yesus Kristus yang diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Desember tersebut. Tidak hanya semata sebagai bentuk peringatan terhadap suatu kesukacitaan untuk lepas dari penindasaan gaya kepentingan kekuasaan (raja zalim) pada zamannya.

Akan tetapi adalah merupakan sebuah peringatan dalam memaknai suatu perjalanan suci terhadap nilai-nilai spiritual (Kristiani), bahwa bagaimana semestinya dapat mewujudkan dunia yang damai bagi kehidupan dan kelangsungan peradaban.

Namun pada praktisnya bahwa Natal adalah suatu renungan suci untuk bersukacita tentang kedamaian, dalam bentuk pengertiannya adalah 'tiada kemarahan, sungut-sungut, bahkan keraguan terhadap kebaikan Tuhan meskipun ada kesusahan hidup'.

Hal ini pulalah, bahwa kesukacitaan Natal secara positif adalah berarti ‘ucapan syukur dan nyanyian pujian kepada-Nya dari hati yang terdalam, karena Tuhan tetap baik’.

Jadi dengan kebaikan Tuhan tersebut, sehingga melalui peringatan Natal tahun ini. Maka diharapkan dari kalangan umat Kristiani, agar dapat menjadi inspirator terdepan dengan saling bertoleransi dan bergandengan tangan dengan umat agama lainnya bagi kehidupan yang damai, paling tidak di lingkungan sendiri.


Untuk itu pula, tidak lupa diucapkan “Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017”. Semoga ‘Tuhan menyertai kita’, yang disebut dengan istilah ‘Imanuel’. (***)

**) Penulis adalah Anggota GMKI Cabang Palopo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.