.

.

.

Rabu, 28 Desember 2016

Yesus adalah Pribadi yang Sederhana, Dia Terlahir dari Serba Pinjaman

Tandiesak Parinding Pasoloran

Arti dan Makna Natal Secara Esensial

Oleh : Tandiesak Parinding Pasoloran

Natal dalam pemahaman iman Kristen adalah suatu peristiwa besar. Melalui Natal Allah telah menggenapi firman-Nya, ketika manusia jatuh dalam dosa yang tercatat dalam Kitab kejadian.

Lalu Allah merespons bahwa Allah akan mengirimkan seorang Mesias melalui seorang perumpuan mudah. Yang telah dinubuatkan oleh Nabi-Nabi Allah, tercatat dalam beberapa Kitab Perjanjian Lama (Injil) yang di pahami sebagi Yesus Kristus.

Maka peristiwa ini tentu memiliki makna yang besar dalam pemahaman Kristiani, yaah amat besar, saking besarnya lantas umat Kristiani di bulan Desember meyambutnya dengan acara perayaan-perayaan besar, tak jarang puluhan juta bahkan hingga ratusan juta rupiah dikeluarkan demi mendukung keberhasilan sebuah perayaan Natal.

Saya pikir, sah- sah saja dan tidak menjadi masalah. Namun, sebagai umat yang bijaksana  mungkin lebih tepat, jika perayaan Natal itu dilakukan dengan sederhana.

Toh tidak akan kehilangan makna Natal bila dilakukan secara sederhana, Yesus Kristus sendiri lahir di tempat yang sangat sederhana, saking sederhanya Dia sampai harus terlahir di “Kandang Domba” yang hina, terlentang di bawah palungan di balut kain lampin.

Yesus sendiri tidak memilih hotel berbintang atau istana, andai sudah ada pada masa itu, bahkan Dia terlahir dari serba pinjaman, dari rahim pinjaman, kandang domba pinjaman, bahkan palungan pinjaman, hal ini semua di buat bukan berarti Allah tidak sanggup menyiapkan yang terbaik untuk kelahiran Yesus Kristus.

Bahkan dalam pelayanan-Nya di muka bumi ini, Yesus tampil dengan penuh kesederhanaan, Alkitab mencatat bagaimana Yesus dalam pelayanan-Nya, Dia berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya. Menyebrangi lautan dengan perahu bukan kapal besar. Hal ini menunjukan bahwa Dia pribadi yang sederhana.

Hal inilah yang hendak di ajarkan kepada kita semua selaku umatnya yaitu nilai kesederhanaan. Yesus lahir secara sederhana agar kita sebagi umat-Nya, mengikuti jejak-Nya.

Melihat euphoria perayaan-perayaan Natal yang amat besar hinggah menelan anggaran biaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah demi mendukung suksesi perayaan Natal,  yang menurut saya seakan makna natal tersebut tergeser.

Hanya euphoria perayaan besar yang ada di benak kepala kita, bagaimana mensukseskan peryaan Natal tesebut, kita tidak lagi memaknai bagaiman Yesus dalam pelayanannya penuh dengan kesederhanaan.

Maka momen perayaan Natal tidak lagi memberi jawaban terhadap apa yang menjadi substansi dari tiap peryaan Natal di manapun dilaksanakan.

Secara umum, perayaan Natal lebih banyak memproduksi artifilasi dibandingkan dengan makna sesungguhnya tentang peristiwa Natal adalah sebuah realitas yang terus menggelayut dalam setiap perayaan Natal.

Ini berarti bahwa kita (Gereja) sudah terjebak pada sebuah perangkat kegiatan rohani yang tidak rohani, termanifestasi pada sebuah komersialisasi Natal.

Kita seolah terjebak pada sebuah prinsif yang tak sehat, bahwa perayaan Natal memang harus begitu, gedung-gedung dengan dekorasi menarik (Gereja, gedung serba guna, tenda atau panggung), bahkan tak jarang pilihan sampai ke hotel berbintang agar tampak berkelas, merupakan gairah yang semakin menggeliat saat ini.

Sementara itu, di sekeliling kita masih banyak saudara-saudari kita yang masih sangat membutuhkan ulur tangan, misal kemiskinan yang masih banyak kita jumpai di bangsa ini, ketertinggalan, belum lagi baru-baru ini saudara-saudara kita di Aceh yang di landa bencana alam, gempa bumi.

Andai dana-dana yang digelontorkan dalam perayaa Natal yang besar dan meriah. Itu, kita gunakan untuk membantu saudara-saudara kita di luar sana yang membutuhkan, maka tentu itu jauh lebih mulia dan bermanfaat dalam mewujudkan panggilan pelayanan yang diemban.

Dari pada menebar kemeriahan, kegemerlapan, keriuhan semata dengan segala atribut yang dikemas dan diciptakan untuk sebuah hasrat pada kegiatan rohani tanpa makna.

Maka mari memaknai Natal dengan menemukan jiwa kita pada setiap perayaan Natal, bukan menemukan hasrat dan keinginan hati yang sering kali bertolak belakang dengan pesan Natal itu sendiri.

Dan tak lupa penulis mengucapkan “Selamat Natal 25 Desember 2016 dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 1 Januari 2017”. Semoga Tahun Baru 2017 membawa harapan baru bagi kita sekalian, Tuhan memberkati. Amin. (***)

**) Penulis adalah Aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Palopo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.

.